Langsung ke konten utama

Padamkan Lilinnya, Sayang!

Ilustrasi lilin hias. foto by fanpop
Kau lihat lilin di dalam gelas warna-warni bertabur gliter itu kan, Sayang? Sungguh membuai mata, tak sedikitpun memberi kesempatan bagi kita untuk menjedakan pandangan dari menatapnya. Kutamsil lilin-lilin itu adalah tubuh kita, yang disempurnakan Tuhan dengan kelengkapan pancaindera dengan segala fungsinya.

Cahayanya yang meliuk adalah pancaran dari letupan emosi penuh cinta yang bersumber dari dalam jiwa. Cahaya yang memantul lewat sorot mata kala kita beradu tatap. Cahaya yang mampu menyedot kita dalam pusaran emosi terdalam dari diri kita. Cahaya yang mampu mengirimkan seribu luluh kala hati terbakar cemburu dan amarah.

Sayang, coba kau lihat lilin-lilin itu. Pesonanya kian memancar saat ia bertemankan keremangan. Bak suar di tengah laut lepas yang menjanjikan pertolongan, harapan, juga kehidupan. Kerak-kerak yang menempel di sekujur tubuhnya bak urat-urat akar yang menempel di batang pohon. Atau jalinan karang-karang yang bebal dari gempuran ombak berombak?


Aku tak tahu, perumpamaan mana lagi yang bisa kutamsil untuk menukilkan perkisahan ini. Kurasa kita tak sepenuhnya bahagia menjadi lilin, sebab kefanaan itu begitu cepatnya berwujud. Tubuh lemah kita tergerus waktu begitu cepat dan hebat. Meninggalkan luka perih yang menganga di relung jiwa. Cerita tentang keinginan untuk rukuk sujud bersama itu sebentar lagi hanya akan menjadi kenangan. Meleleh bersama cahaya lilin yang kian meredup. Pada akhirnya kita selalu tak bisa menolak pada takdir Tuhan yang Maha.

Bagaimana mungkin aku lupa pada detik-detik ketika lilin-lilin itu menyala. Mulanya hanya satu persatu. Kian kemari cahayanya semakin besar dan pijarnya semakin tinggi. Menyusup jauh di bawah kesadaran, menembus batas rasa paling sensitif yang tersembunyi di dalam diri kita. Saat itulah kita mulai kalang kabut. Bagaimanakah cara memadamkan menara api yang kadung tinggi ini?

Kita bertengger di sebatang logika yang mengapung di tengah kepungan sekarat rindu yang beranak pinak. Memberi ruang untuk menentukan kemudi dari labirin hasrat yang berputar-putar. Semoga sejauh mata memandang bukan fatamorgana yang terbentuk dari ekspektasi imaji dan ilusi.

Sayang, bilakah kita memadamkan lilin warna-warni ini?

Aku hanya ingin menjadi yang biasa saja. Mungkin sebagai lampu minyak dengan nyala yang tak begitu menarik. Sekalipun berjelaga namun tak ada jiwa yang tergerusi rindu, tak ada fisik yang mengaduh karena luka batin yang tak kunjung kering. Tak ada 'karang' atau 'urat' yang terlihat garang padahal sebenarnya di sanalah ketakutan kita bersumber. Sayang, bilakah? Bilakah itu terjadi?[]

Komentar

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.