Perempuan Patah Hati*

Aku mengenal perempuan ini disebuah kafe, lima belas hari sebelum hari ini. Saat itu aku tengah berputar-putar mencari bangku kosong ditengah hiruk-pikuk orang-orang yang sama sekali tak peduli padaku. Kalau bukan karena sebuah suara, aku sudah akan meninggalkan tempat itu. Barangkali mungkin aku tidak diijikan menikmati semburan lampu sorot yang menjerla menelan awan, dengan segelas kopi khas kafe ini malam itu.

Aku berpaling diantara sekian banyak kakah-kakah tawa laki-laki, aku melihat seorang perempuan malambaikan tangannya padaku. Aku mendekat.

“ Duduk disini saja.” Tawarannya, sambil tersenyum bersahabat.

Hatiku berlonjak girang. Bukan apa, terbayang mengeluarkan motorku dari area parkir saja sudah membuatku lelah dan capek. Tapi perempuan itu, tawarannya, seyumnya, melucuti seluruh gerah dan lelahku selama seharian tadi.

“Terimakasih kamu baik sekali” jawabku tulus.

Aku menarik kursi berkaki pendek berwarna hijau luntur. kuletakkan pantatku pada kursi yang tak empuk itu menghadapnya, perempuan! Nama yang unik, dan berani. Seberani dirinya yang menawarkan tempat duduk untukku. Itu jarang sekali terjadi di sini. Dimana para perempuannya masih banyak yang malu-malu (atau malu-maluin). Aku menduga-duga perempuan itu pastilah aktivis, aktivis perempuan, ataukah ia seroang feminis ?

“ Namamu unik dan berani !” Kataku jujur sambil menyeduh kopi.

Perempuan itu tersenyum. Manis sekali

“Sudah banyak yang bilang begitu,” jawabnya merasa tak berarti dengan pujianku.

“Oh ya ? Aku orang ke berapa yang mengatakan itu ?” Goda ku.

Perempuan itu tertawa lebar. Manalah mungkin ia mengingat semuanya. Tapi aku kagum, takjub, sekaligus heran, terbuat dari apa dirinya? Aku mengedarkan pandangan. Semua laki-laki, ya laki-laki, aktivis laki-laki. Politikus laki-laki, pengusaha laki-laki. Semuanya laki-laki. Walaupun ada perempuan satu-satu, mereka terlihat bersama pasangan atau temannya. Tapi dia ? Perempuan yang bernama Perempuan itu ?

Duduk seorang diri, ditemani segelas kopi dan beberapa bungkus kacang, dan buku. Di tengah kerumaunan laki-laki. Tidakkah ia merasa jengahkikuk, atau malu? Malu, apakah perempuan itu mengerti yang namanya malu? Semacam perasaan tak nyaman yang timbul karena berada pada situasi dan keadaan yang tidak tepat.

“Tapi kau sungguh berani” rasa penasaranku tak dapat kutahan lagi. Aku menunggu-nunggu jawabannya. Tanganku mengetuk-ngetuk meja.

“Atas dasar apa kau menilaiku begitu? “ perempuan balik bertanya.

“Lihat! Bukankah ia sungguh pemberani. Tanpa diberitahupun, aku yakin dia tahu kalau usia kami terpaut bebrap tahun, mungkin juga belasan tahun. Tapi coba dengar, dia memanggilku dengan “kau”.

“Tawaranmu,” jawabku apa adanya.

Perempuan itu tertawa datar, atau sinis?

“Apa karena di negeri ini ada undang-undang khusus yang mengatur tentang pola hidup, proses adaptasi dan bersosialisasi?” Tanyanya tanpa senyum

“Bukan… bukan itu maksudku,” jawab kaku.

Sial! Tatapan tajam penuh selidiknya membuatku bagai terjerat oleh situasi

“lalu apa?” Kejarnya.

Lalu apa? Aku berfikir-fikir, mencari jawaban yang cocok dan masuk akal. Perempuan ini pasti aktivis, ia sungguh pandai membelit keadaan.

“Tidak ada sejarah yang menulis tentang kepengecutan perempuan-perempuan aceh. Tapi kau beda, keberanianmu lain. Aku salut, takjub dan iri.”

Lagi-lagi perempuan itu tersenyum datar, aku jadi malu hati, jawaban itu terdengar konyol. Dan lugu. Pasti telah menggelitik urat syarafnya, makanya ia tersenyum, walau datar.

***

Perempuan bernama Perempuan itu, benar-benar telah mengusik ruang hatiku. Ia mampu mengendalikan pikirannku hingga aku terus memikirkannya. Bukan hanya memikirkan, tapi lebih dari itu, aku rindu! Ya, rindu! Tapi mungkinkah? Rindu pada pertemuan pertama, bagaimana kalau bukan rindu, tapi cinta?! Cinta ?

Aku menggeliat-geliat tak tenang, nyaring suara tawanya seperti berderai-derai pada liang gendang telingaku, memaksa mataku untuk terpejam, tapi bukan untuk tidur, melainkan untuk memikirkannya, ah, Perempuan!

Resah itu terlalu panjang, menderaku bagai pesakitan yang terpasung. Aku berontak, bangkit dari tidur, mencari air dari wastafel yang ada di dapur, lalu membasuh muka, mengapa wajahku lesu sekali. Karena terus memikirkannya kah? Permpuan itu.

Kuambil jaket yang tergantung di belakang pintu kamar, kusangkut di bahu, lalu kuseret kakiku menuju garasi.

“Mau kemana?” Istriku bertanya dari balik selimutnya.

“Ngopi.”

“Tapi ini sudah malam.” Protesnya

“Baru jam sepuluh”

Aku tak peduli,. Bertemu dengan istriku masih bisa nanti-nanti. Melepas kerinduan dengannya bisa pada malam-malam berikutnya, aku masih punya banyak waktu dengannya. Dan telah menghabiskan banyak waktu bersamanya. Jadi, biarkan malam ini aku menikmati apa yang tengah berkecamuk dalam diriku, rindu!

Ini adalah pertemuan ke dua kami setelah pertemuan yang pertama, lima belas malam yang lalu. Saat aku berputar-putar mencari sesosok diri tiba-tiba “hey” dari mulut seseorang membuatku terlonjak, girang, bahagia, dan … aku segera menarik kursi warna hijau luntur. Duduk persis di hadapannya, persis seperti pada pertemuan pertama.

“Puan, kemana saja kau ?” Tanyaku memandang matanya lekat.

Puan tersenyum, matanya ia buang jauh-jauh, mungkin lebih jauh dari pencaran lampu sorot yang tengah ia pandang. Mengapa ia tidak berani memandang ku.

“Puan?” Ulang ku

“Ya”

“Aku memikirkanmu, keberanianmu, aku takjub, kagum”

“Sudah lah, tak ada yang istimewa denganku, aku hanya perempuan biasa, hidup dalam kebiasaan yang biasa saja, nyaris tak ada yang dibanggakan dariku, aku orang yang kalah. Kalah dalam keterbiasaanku.”

He! Apa yang dikatakannya, apa maksudnya, siapa yang kalah? Dan siapa yang menang.

“Tidak Puan, kau perempuan hebat, kau telah menemukan dirimu yang sebenarnya. Kau perempuan hebat,. Setiap perempuan iri padamu, aku tahu itu, kamu cerdas, mandiri, sudah mapan, apa lagi …..”

“Maksudmu?” Puan cengah dengan tanyanya, mungkin ia berfikir kalau aku tidak tahu siapa dia. Tapi teknologi informasi, telah membuat orang tidak lagi rahasia. Dan aku menemukan rahasia dirinya,

“Kau tahu semua tentang ku? Tanya Puan pias

Aku mengangguk, beberapa hari lalu tak sengaja kutemukan beberapa catatan-catatan penting puan dalam diary onlinenya.

“Karena itulah aku hadir, untuk bisa kau bagi sedikit resah dan lara mu,” desisku. “tidak semua sih, tapi aku memahaminya, “ ralat ku, aku tidak ingin terlihat sok tahu

“Aku sudah kalah, oleh cinta”.

“Tidak”

“Setiap lima belas hari sekali aku pasti ke tempat ini. Lima tahun yang lalu, aku pertama sekali mengenal cinta di tempat ini. Ketika seorang laki-laki sepertimu menyapaku, semuanya terjadi begitu cepat. Kami saling jatuh cinta, saling melengkapi, saling memberi suka dan duka. Tapi aku mencintai laki-laki yang salah. Dia sudah menikah, bergelar sebagai suami dan ayah. Delapan bulan yang lalu aku mengenal laki-laki ke dua, aku menyukainya, tapi bukan cinta. Sejak itu aku memutuskan untuk tidak lagi memikirkan laki-laki pertama, aku ingin melupakannya.”

“Setelah aku memberi tahu rencanaku, laki-laki pertama tak lagi muncul, selama 4 tahun lebih, kami selalu bertemu di tempat ini, setiap tanggal 15 dan 30, dan sejak 8 bulan yang lalu, aku selalu menghabiskan tanggal 15 dan 30 seorang diri di tempat ini. Sampai kau hadir …”

Aku menarik napas

“Bagaimana dengan laki-laki ke duamu”

“Dia sedang mengurus perceraian dengan istrinya saat ini, rumah tangga mereka telah lama kacau”.

“Lalu kau hadir, dan si lelaki mempercepat prosesnya?”

“Entahlah, aku bingung, aku merasa tak mencitai laki-laki itu sama sekali, aku tak pernah rindu atau kangen. Tidak pernah bilang sayang apalagi cinta.”

Aku diam dalam galau. Bingung harus berkata apa, entah mengapa rindu yang semula begitu menghentak-hentak dada tiba-tiba mengerucut. Aku menjadi takut. Takut menaruh suka dalam jiwanya, takut membuatnya berharap. Apalagi mengantungkan asa, tapi aku ingin, ingin ia selalu hadir dalam hidupku, membuai dan melenakan tidurku.

“Hei! Apa komentarmu dengan ceritaku? Menurutmu, aku perempuan seperti apa?” Kali ini ucapan Perempuan begitu riang, tak lagi sendu, matanya mengerjap-ngerjap memandangku. Indah sekali wajahnya yang hitam manis lebih mirip dengan gadis-gadis pakistan yang anggun dan bersahaja. Tapi bukankah kerajaan Aceh dahulunya dipengaruhi oleh budaya Hindi yang erat? Mungkin Perempuan adalah salah satu garis keturunannya, semua laki-laki pasti akan jatuh cinta padanya dan aku!

“Kamu ? Kamu tetap perempuan hebat, tangguh, yang membuatku takjub, kagum, dan iri,”

“Apa karena aku tidak menangis saat menceritakan ini pada mu?”

Aku terdongak, bagaimana mungkin ia tahu jalan pikiran ku

“ Iya. Apa kau akan tetap seperti ini bila tahu aku seperti lelaki pertama mu?” Ujar ku lirih.

Sejenak perempuan tertegun,meneliti wajah ku, merambat masuk dalam mata dan jantung hati ku, lalu ia mengangguk.

“Walaupun berkali-kali cinta mengalahkanku, berkali-kali pula aku jatuh cinta, pun, kepadamu”

“Pun kepada ku?”

“ Pun kepada mu?”

***

Sudah 5 kali tanggal 15 dan 5 kali tanggal 30 terlewati, begitu saja, seorang diri, berteman sepi, bertelekan rindu, pada rindu dan gelisah. Entah kemana Perempuan. Sms ku tak di balas, telepon ku tak diangkat, e-mailku tak digubris, oh, Puan ! Tahukah kamu aku seperti cacing di padang pasir sekarang.

Mengapa semuanya seperti terbalik, apa yang dulu pernah dirasakan Puan menjadi berpindah padaku. Aku menantinya setiap tanggal 15 dan 30. Hal yang sama yang pernah dilakukan puan saat menunggu lelakinya. Kopi-kopi di sini menjadi tak nikmat, berubah pahit dan pedas, apa karena Puan tak ada?

Lalu, Tuhan seperti mendengar do’a ku, maka malam ini, tanggal 15 yang ke 6 Puan muncul di hadapanku, terduduk lesu dan wajah pasi sepucat rembulan. Matanya tak berbinar.

“Puan? Kemana saja kau ?”

“Bertarung”

“Dengan cinta !”

“Dengan cinta ?”

“Dan aku kalah”

“Dan kau kalah ?”

Puan mengangguk, mengulum rasa berpeluh risau, tangannya memilir bungkus kacang.

“Tadi siang lelaki kedua telah resmi bercerai dengan istrinya”

“Dan itu artinya kau akan segera jadi istrinya, ah....” Aku kecewa, akan tidak ada lagi penantian sperti ini pada setiap 15 dan 30 pada setiap bulannya, tapi... Puan menggeleng ! Alisku mengeryit.

“Tadi siang juga aku bertemu dengan lelaki pertamaku, dengan cintaku, belahan jiwaku”

Hatiku bagai tersanyat nyeri, tak relakah atau cemburu ?

“Lalu ?“

“Aku bertarung, atas nama cinta, betapa tak berartinya diri ini sekarang, aib, cela, dan entah apa lagi, semuanya telah melumuri diriku bercampur nista yang meragam. Dan aku kalah, lan.”

“Dan kau kalah ?”

“Dan aku kalah”

“Tapi kau perempuan hebat, tangguh, yang membuatku takjub, kagum, dan iri padamu,”

“sebab aku tak menangis?”

Aku mengangguk, memeluk sepi yang menyergap dalam resah jiwa-jiwa kami.

09:45 pm

On Fri, 21 nov 2008



*tulisan ini sudah pernah dimuat di koran Aceh Independen edisi minggu, tgl 19 januari 2009

Komentar

  1. Perempuan bernama perempuan...
    Sungguh unik ceritanya Pak Ilhan, saya berharap ini nyata...

    Perempuan itu selemah2nya ia tetap mampu membuat jiwa seseorang laki2 berkecambuk...

    Pat posisi inoe?

    BalasHapus
  2. hanya lelaki yang bisa merasakan seperti apa kecamuk jiwanya ketika berhadapan dengan perempuan-perempuan "lemah". begitu juga sebaliknya, hanya perempuan yang bisa merasakan seperti apa kecamuk jiwanya ketika ia berhadapan dengan lelaki-lelaki yang "kuat".

    posisi di banda jinoe....

    BalasHapus

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)