Langsung ke konten utama

Jejak

Angin kecil yang berubah menjadi beliung besar tidaklah terjadi dengan sendirinya, begitu juga hujan yang mengikis seluruh tanah dan kerikil. Kepompong yang pada akhirnya memilih menjadi kupu-kupu, juga manusia... yang memutuskan menjadi salah satu dari kumpulan warna-warna...



seperti pohon besar, yang pada awalnya hanya kecambah dari biji kecil yang nyaris tidak terlihat, lalu tumbuh dan berkembang, membentuk daun dan ranting, menjadi cabang yang kokoh dan besar, sehingga mampu menjadi tempat berteduh bagi para musafir.


lalu, seperti apa bentuk lara itu sendiri? seperti daun-daun berguguran, karena memang sudah masanya gugur, atau seperti kuncup yang patah karena kepakan sayap yang terlalu kuat.


lalu, bila itu lara, apa penawarnya?

seperti apa rupanya? katakan di mana letak jejaknya, mungkin suatu hari, aku akan mendiamkannya dalam hati, menyemayamkannya menjadi jasat yang tak bergerak. biarlah membatu, lalu pelan-pelan menjadi prasasti yang akan selalu terkenang.


bahwa, pada suatu hari, suatu masa, pernah ada persinggahan yang teramat singkat, dengan cara yang amat sederhana, dengan ritme yang biasa, tetapi mampu menghasilkan riak sepanjang sejarah usia. perkelahian batin, persengketaan amuk amarah, dan riuh gemuruh rindu yang bercokol mengendap.



ini bukan akhir, juga bukan awal, ini adalah fase, yang harus dilalui sesulit dan seberat apapun.

bahwa segala sesuatu yang diputuskan secara sadar, akan melahirkan konsekwensi yang tidak ringan. bukan satu dua kerikil yang terpijak, tapi mungkin puluhan, berkumpul menjadi kelemahan-kelemahan diri yang sulit diprediksi.


ini bukan kali pertama embun menetes

juga bukan untuk yang terakhir

selama ada perjalanan

selama ada pendakian

ceruk akan selalu ditemui

Komentar

  1. Sastrawan besar ruapanya...
    Membaca tulisan anda membuat saya langsung jatuh hati akan kehebatan mengolah kata seorang....

    BalasHapus
  2. bukan hanya sastrawan yang perlu tulisan, tetapi orang yang sakit hati juga perlu obat, tulisan bukan hanya obat, tetapi juga supplement, heheh....karena dia supplement, berarti harus dikonsumsi setiap hari, agar hati dan jiwa menjadi tenang.....nah, kalau kurang supplement sering2lah kunjungi blog ini heheheheh

    BalasHapus

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

Postingan populer dari blog ini

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

ilustrasi TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi... "Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun. Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya.  "Merahnya parah ngga?" cecarnya. "Parah!" jawabku. Jujur. Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur. Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih k

Nyamannya Kerja Sambil Ngopi di Pinggir Krueng Aceh

Enakkan duduk di sini? :-D Selama Covid-19 ini saya memang lumayan membatasi bertemu dengan orang-orang. Inisiatif untuk mengajak teman-teman nongkrong jarang sekali saya lakukan. Kalau ke kedai kopi, hampir selalu sendirian saja. Kalaupun sesekali bersama teman, itu artinya sedang ada pekerjaan bersama yang tidak memungkinkan kami untuk tidak bertemu. Atau karena ada sesuatu yang perlu didiskusikan secara langsung.  Ini merupakan ikhtiar pribadi saya sebagai tindakan preventif di tengah kondisi pandemi yang semakin tidak terkendali. Teman-teman saya sudah ada yang terinfeksi. Saya turut berduka untuk mereka, tetapi saya pun tidak bisa berbuat banyak selain mendukung mereka khususnya secara morel. Nah, balik lagi ke cerita kedai kopi tadi. Ada beberapa kedai kopi yang akhir-akhir ini menjadi langganan favorit saya. Tak jauh-jauh dari kawasan tempat saya tinggal di Gampong Peulanggahan, Kecamatan Kutaraja, Banda Aceh. Walaupun akhir-akhir ini sebagian besar waktu saya ada di rumah, teta

Meningkatkan Performa dengan Ponsel Premium yang Low Budget

Image by telset.id  Sebagai pekerja media, kebutuhan saya pada ponsel pintar bisa dibilang levelnya di atas kebutuhan primer. Bukan, saya bukan kecanduan pada smartphone , tetapi pekerjaanlah yang membuat saya sangat tergantung pada benda mungil itu. Begitulah teknologi hadir untuk memudahkan pekerjaan manusia, khususnya orang-orang yang pekerjaannya berhubungan dengan internet seperti saya ini. Dengan perangkat mungil bernama smartphone, saya bisa dengan mudah memeriksa surel atau tulisan-tulisan dari rekan-rekan wartawan yang akan saya edit. Tentunya tanpa perlu membuka perangkat yang lebih besar lagi, yaitu laptop. Lebih dari itu, saya membutuhkan perangkat smartphone yang cukup untuk menunjang pekerjaan saya. Kecuali saat tidur, selama itu pula saya selalu terhubung dengan ponsel. Tak terkecuali di akhir pekan atau di tanggal merah sekalipun. Lagipula, siapa sih yang mau berpisah sesaat saja dengan ponselnya di era Revolusi Industri 4.0 ini? Berprofesi sebagai jurnalis