Langsung ke konten utama

Puitis = Romantis?

ilustrasi
Mendadak ingat jawaban Ari Lasso di sebuah tayangan infotainment beberapa tahun lalu. Sering menciptakan lagu-lagu puitis bernada romantis, apakah Ari Lasso termasuk sosok yang romantis? Begitulah pertanyaan host tayangan tersebut kala itu.

Waktu itu, sebelum Ari Lasso menjawab aku sempat menaruh harap. Pastilah Ari sangat romantis. Aku menyukai beberapa lagu-lagunya. Ee.. rupanya tebakanku meleset. Ari malah menjawab, ia termasuk orang yang yaahh... mungkin semacam kaku dalam mengekspresikan perasaan. :-)

So, apa hubungannya dengan Ari Lasso? Jelas tidak ada, karena aku bukan penyanyi. Aku cuma seorang blogger. Ya, seorang blogger yang isi blognya didominasi oleh catatan-catatan beraroma puitis berbalut romantisme. Justru karena inilah aku teringat pada Ari Lasso.


Sebab, banyak pembaca yang mengait-ngaitkan isi blog dengan kehidupan pribadiku. Bukan hanya di blog, status-statusku di jejaring sosial umumnya memang bertema cinta. Sejak punya akun facebook 2009 lalu, aku cukup konsisten dengan status-status itu. Bagiku menjadikan rasa, cinta, kasih dan sayang sebagai ide untuk memperbarui status tak lebih karena karakterku yang suka kedamaian. Peaceful. 

Semua yang tertulis juga berdasarkan apa yang kulihat, rasa, dan dengarkan. Aku ingin orang-orang yang membaca tulisanku merasakan kedamaian, cinta yang menggebu-gebu dan hati yang selalu nyaman. Tidak terkontaminasi oleh kebencian dan hal negatif lainnya.

Pasangan Ihan sangat beruntung ya? Ihan sangat romantis ya?

Dua hal ini paling sering ditanyakan setelah orang-orang membaca status atau note di blog. Orang-orang yang nanya begini pasti belum memahami apa itu bahasa kasih. Jadi, mereka mengira orang yang sering membuat kalimat-kalimat puitis sudah otomatis romantis. Sedangkan orang yang menerima kalimat penuh cinta itu sudah pasti tersanjung atau beruntung :-). Tidak, tidak begitu kenyataannya.

Aku justru sering melihat hal-hal yang terjadi secara kasat mata malah berlaku sebaliknya dalam kehidupan seseorang. Orang yang senang mengekspresikan perasaan lewat tulisan atau syair misalnya, ini adalah salah satu trik mereka untuk melunakkan sikap mereka yang kaku. Orang-orang yang kesulitan mengungkapkan perasaannya secara verbal, otomatis akan mencari alternatif. Salah satunya ya lewat tulisan.

Sementara orang-orang yang mudah berkomunikasi secara verbal, mereka tak membutuhkan media lain untuk menyatakan perasaannya. Mereka mudah sekali mengatakan sayang, suka, cinta atau benci sekalipun. Saking mudahnya mereka menyatakan perasaan, tak jarang sering dikatakan gombal :-)

Siapa sebenarnya yang romantis?

Komentar

  1. kalau menurut siti, romantis itu memang salah satunya kata-kata. tapi tetap saja, kasih sayang bisa juga dari perbuatan, :)

    BalasHapus

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

Postingan populer dari blog ini

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

I Need You, Not Google

Di era kecanggihan teknologi seperti sekarang, mudah sekali sebenarnya mencari informasi. Kita tinggal buka mesin pencari, memasukkan kata kunci, lalu bisa berselancar sepuasnya.
Saking mudahnya, kadang-kadang kalau kita bertanya pada seseorang dengan topik tertentu tak jarang dijawab: coba cari di Google. Jawaban ini menurut hemat saya ada dua kemungkinan, pertama yang ditanya benar-benar nggak tahu jawabannya. Kedua, dia malas menjawab. Syukur dia nggak berpikir 'ya ampun, gitu aja pake nanya' atau 'ni orang pasti malas googling deh'. 
Kadang kita kerap lupa bahwa kita adalah manusia yang selalu berharap ada umpan balik dari setiap interaksi. Ciri makhluk sosial. Seintrovert dan seindividualis apapun orang tersebut, dia tetap membutuhkan manusia lain.
Selengkap dan sebanyak apapun 'jawaban' yang bisa diberikan oleh teknologi, tetap saja dia tidak bisa merespons, misalnya dengan mengucapkan kalimat 'gimana, jawabannya memuaskan, nggak?' atau saat dia me…