Langsung ke konten utama

Apa karena Langit Itu Biru?

halilintar @mirajnews.com
Apa karena langit itu biru maka banyak yang menggantungkan harapannya di sana? Bagaimana jika langit selamanya kelabu, dengan rupa yang bermuram durja pula. Masih adakah yang menggantungkan harapannya ke langit?

Untuk waktu sepagi ini, ingin kutanyakan hal itu padamu. Apakah kau bisa menjawabnya?

Kupikir embun belum lagi kering di batang-batang rumput. Kabut juga masih menyelimuti gugusan bukit Barisan. Tetapi mengapa hati ini terasa begitu membara, namun tanpa debar. Ya, tanpa debar sama sekali.

Apakah bulan urung menjadi purnama di penanggalan kali ini?


Duduklah di hadapanku, biar aku puas memandangmu, kau tahu ada kalanya candu itu tak perlu dihisap atau diseduh. Tapi cukup dipandangi saja, dan itu adalah cara paling lena untuk menikmati candu. Jadilah candu di hadapanku, kau tau, orang yang mencari jalan pulang selalu menemui jalan akhir. Berujung ke sebuah pintu. Ya, pintu. Pintu kehidupan.

Mungkin, ya barangkali inilah jalan terakhir itu. Setelah ini barangkali takkan lagi ada jalan, atau lorong, atau gang. Semua selesai dalam diam yang panjang, memang tak mungkin mengharapkan seseorang yang sedang masyuk dalam mabuk panjangnya untuk berbicara. Bahkan sepotong ucapan selamat tinggal, atau selamat datang, atau sampai jumpa lagi.

Lihatlah, bagaimana aku telah jatuh cinta pada purnama yang hadirnya hanya sekali saja dalam sekali penanggalan. Wajah bulatnya, cahayanya yang berkilau, sungguh telat memikat hatiku, begitu erat hingga tak sempat kuperhatikan bintang-bintang lain yang berkelap-kelip.

Apa karena langit itu biru, sehingga melihatnya selalu indah. Padahal ada kerak-kerak jelaga yang bersembunyi di belakangnya. Ada halilintar, dan petir yang menggelegar. Mengirimkan aura ketakutan yang memerindingkan bulu roma. Kau tahu, langit yang mengandung mendung akan melahirkan anak-anak hujan yang selalu basah. Di hatiku. Di mataku. Di rasa yang menjurai-jurai ini.[]

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.