Langsung ke konten utama

Setelah Kamu Pergi

ilustrasi
Sekali waktu, aku pernah merasa sangat kehilangan. Tapi seperti biasa, aku tidak menangis. Maksudku, aku hanya menangis diam-diam saja. Agar tidak ada yang mengetahui jika aku sedang terluka. Kehilangan. Perih. Atau apa pun namanya.

Aku sering mengaduh. Tapi itu hanya di hadapanmu saja. Waktu itu kau pernah bilang, bahwa kadang-kadang setelah seseorang tiada justru kita makin merasakan kedekatan yang luar biasa dengan orang itu. Kau benar. Karena setelah kehilangan itu aku makin sering bertemu dengannya di mimpi-mimpiku. Aku makin sering mengingatnya. Dan pada setiap kesedihan yang menimpaku, tidak ada seorang pun yang pertama kuingat selain dia. Dia adalah ayahku!

Dan sekarang kau pergi. Aku tahu menangis bukanlah cara terbaik untuk menyembuhkan luka. Memang, kita tak bisa berharap banyak pada senyum yang melengkung di bibir. Tapi senyuman adalah oase yang selalu memberi harap bukan? Juga untuk luka ini, aku berharap akan kering seiring berjalannya waktu. Bukankah kau juga pernah menyembuhkan luka dengan cara seperti itu?


Dalam satu fase kehidupan, seseorang akan selalu mengalami yang namanya kehilangan. Meninggalkan atau ditinggalkan sama saja. Sama-sama meninggalkan kenangan. Setelah kau pergi, kepada siapa aku mengaduh? Kau pernah bilang, bahwa kita punya Tuhan yang melampaui segalanya. Maka kepada Tuhan saja kita serahkan semua rasa ini bukan?

Ah, dan kau tahu, tidak setiap yang pergi meninggalkan pusara. Karena itu kita tak perlu bercerita tentang cerita yang tak pernah usai ini. Bagiku, pusara paling sakral adalah semua catatan tentang engkau.[] 

Komentar

  1. Hahaha, dari judulnya sedap kalilah!
    Kyk zaman entah kapan gt ya :)

    BalasHapus
  2. setuju dgn pendapat ini "kadang-kadang setelah seseorang tiada justru kita makin merasakan kedekatan yang luar biasa dengan orang itu" baru terasa klo sudah kehilangan

    BalasHapus
    Balasan
    1. :-) kalau kak Lisa sudah setuju sudah sahlah semuanya heheee

      Hapus

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.