Langsung ke konten utama

Rindu dan Ingatan

Mungkin aku bisa bersabar dari apapun, tapi aku tidak bisa bersabar dari rindu terhadapmu. Bahkan mungkin aku bisa alpa dalam banyak hal tapi aku tidak pernah alpa mengingatmu.

Memang, rindu dan ingatan itu sendiri tidaklah seperti mercusuar yang menjulang tinggi dengan cahaya yang berpijar. Berdiri gagah melanglang mayapada dan melahirkan decak kagum. Tidak pula seperti puncak gunung mahatinggi yang diselimuti salju yang putih dan dingin. Yang menghipnotis manusia untuk datang mengunjunginya. Sungguh, rindu dan ingatan ini bukan seperti lautan mahaluas yang penuh dengan riak dan gelombang yang serasi. Yang mampu menyedot ribuan bahkan jutaan manusia untuk mendataginya saban hari. Persis seperti gaya gravitasi yang tidak dapat ditentang.

Rindu dan ingatan ini nyaris seperti debu yang beterbangan dan menempel di dahan-dahan kecil, yang tak terlihat dan tak mampu terjamah. Tak berharga dan seringkali dianggap tak berarti. Tetapi suatu waktu hanya debu itu yang bisa menggantikan diri untuk bersuci.

Rindu dan ingatan ini hanya serupa magma yang meletup-letup di dalam perut bumi, tak ada yang mengetahui wujudnya, tak ada yang bisa memprediksi suhunya, tak ada yang mau mengerti bagaimana ia bisa ada. Hingga seringkali menimbulkan keraguan benarkah ia ada? Benarkah dapat dipercaya? Tetapi ia terus ada dan terus meletup; di dalam jiwa dan hatiku.

Rindu dan ingatan ini hanya seumpama lentera kecil yang mengapung di luasnya laut dan di dalamnya lembah, sunyi dan sepi, tapi ia akan terus menyala dengan sumbu dari pijar kerinduan yang berasal dari dirimu.

bilik hati, 30 agt 2010
11.10 pm

Komentar

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

I Need You, Not Google

Di era kecanggihan teknologi seperti sekarang, mudah sekali sebenarnya mencari informasi. Kita tinggal buka mesin pencari, memasukkan kata kunci, lalu bisa berselancar sepuasnya.
Saking mudahnya, kadang-kadang kalau kita bertanya pada seseorang dengan topik tertentu tak jarang dijawab: coba cari di Google. Jawaban ini menurut hemat saya ada dua kemungkinan, pertama yang ditanya benar-benar nggak tahu jawabannya. Kedua, dia malas menjawab. Syukur dia nggak berpikir 'ya ampun, gitu aja pake nanya' atau 'ni orang pasti malas googling deh'. 
Kadang kita kerap lupa bahwa kita adalah manusia yang selalu berharap ada umpan balik dari setiap interaksi. Ciri makhluk sosial. Seintrovert dan seindividualis apapun orang tersebut, dia tetap membutuhkan manusia lain.
Selengkap dan sebanyak apapun 'jawaban' yang bisa diberikan oleh teknologi, tetap saja dia tidak bisa merespons, misalnya dengan mengucapkan kalimat 'gimana, jawabannya memuaskan, nggak?' atau saat dia me…