Langsung ke konten utama

Happy Milad; My beloved Z

-->
Sebab selalu ada cinta bagi lelaki yang berulang tahun di hari ini, sebab selalu ada kasih dari hari-hari yang terlalui sebelum dan sesudah tanggal ini, sebab aku cinta maka aku mengingatnya untukmu, melekatkannya dalam jejaring benak dan tak ada masa waktu yang bisa mengelupaskannya.

Karena bagiku lelaki hebat adalah lelaki sederhana yang mampu membuatku bergetar dan terpesona setiap kali mengingat namanya; dan itu hanya namamu. Nama yang tergrafir rapi dengan tinta ingat dan menjadi sumber inspirasi. Nama yang bisa menyemangati meskipun pemilik namanya entah ada di mana. Karena di balik nama itu mengalir di dalamnya ruh dari jiwamu yang layak dan patut dicintai dan dihormati sepenuh hati.

Tidak ada antara dalam mencintaimu, karena perantaraan hanya membawa pada ketidak sampaian. Dan ketikdaksampaian merupakan lolongan panjang serigala malam yang ingin menggapai purnama. Tidak ada antara yang utuh. Maka kupilih mencintaimu dengan caraku; cara paling sederhana yang tidak membutuhkan syarat apapun.

Maka bersiaplah untuk menikmati hari-hari selanjutnya, hari-hari penuh anugerah dan hadiah, hari-hari penuh kejutan dan warna. Karena keinginanku untuk mencintaimu hanya satu; selalu bisa mengingat bahwa hari ini kau berulang tahun.

Happy milad Dear… sebab selalu ada cinta untukmu, di sini, di hatiku, sebab cinta hadirkan rindu, sebab rindu adalah sesuatu yang luar biasa, yang bergumul dan meletup-letup dalam jiwa, yang mampu meluruhkan emosi dan amarah hati, yang mampu kesampingkan ego dan hasrat, yang mampu membenamkan dendam dan kepongahan. Sebab cinta adalah ketulusan yang mengandung keikhlasan, dan keikhlasan melahirkan kebesaran jiwa. Dan kebesaran jiwa mengejawantahkan semua kelelahan karena harus mengurai kata melerai makna setiap tahun di tanggal yang sama hanya untuk mengucapkan selamat ulang tahun kepadamu.

Happy milad
My beloved Z
26 September 2010
Ihan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

I Need You, Not Google

Di era kecanggihan teknologi seperti sekarang, mudah sekali sebenarnya mencari informasi. Kita tinggal buka mesin pencari, memasukkan kata kunci, lalu bisa berselancar sepuasnya.
Saking mudahnya, kadang-kadang kalau kita bertanya pada seseorang dengan topik tertentu tak jarang dijawab: coba cari di Google. Jawaban ini menurut hemat saya ada dua kemungkinan, pertama yang ditanya benar-benar nggak tahu jawabannya. Kedua, dia malas menjawab. Syukur dia nggak berpikir 'ya ampun, gitu aja pake nanya' atau 'ni orang pasti malas googling deh'. 
Kadang kita kerap lupa bahwa kita adalah manusia yang selalu berharap ada umpan balik dari setiap interaksi. Ciri makhluk sosial. Seintrovert dan seindividualis apapun orang tersebut, dia tetap membutuhkan manusia lain.
Selengkap dan sebanyak apapun 'jawaban' yang bisa diberikan oleh teknologi, tetap saja dia tidak bisa merespons, misalnya dengan mengucapkan kalimat 'gimana, jawabannya memuaskan, nggak?' atau saat dia me…