Langsung ke konten utama

Menanti Januari

sore ini, ketika aku melewati jalanan yang biasa aku teringat pada sesuatu. Bahwa Tuhan selalu punya cara untuk menghadirkanmu setiap kali aku merinduimu. dan aku bersyukur karena panca inderaku masih begitu peka terhadap pesan-pesan yang dikirim dengan isyarat apapun.

seperti hari ini, aku teringat bahwa desember sebentar lagi akan berakhir dan kita bersiap-siap menyambut januari. bulan-bulan yang tergabung dalam kumparan tahun selama ini adalah akumulasi dari cinta dan rindu yang tercipta, akumulasi dari kesabaran menahan semua gejolak dan rasa, akumulasi dari seluruh ruang jiwa yang sering melakukan pencarian.

dan semoga saja januari ini mampu memberi jawaban atas segala pertanyaan yang sering dilontarkan oleh hati selama ini. bahwa semuanya akan baik-baik saja, seperti yang pernah kau katakan untuk meneguhkan hatiku. aku percaya bahwa akan ada ritme lain yang bergetar sesuai dengan irama alam, dan kita harus menyesuaikan diri dengan ritme tersebut. semuanya adalah cerita tentang desau angin, tetapi desau dari ribuan butir pasir yang diterbangkan angin akan sangat berbeda dengan gemerisik air laut yang menghalau butiran pantai.

adalah sama-sama menyaksikan, bahwa kita saling bertumbuh untuk meneguhkan, saling bertumbuh untuk membuktikan, bahwa kita cukup berarti. bahwa kedewasaan....terlalu berharga untuk disandingkan dengan ego dan emosi negatif. itu yang membuat kita bertahan, membuatku yakin, membuatku percaya, bahwa engkau adalah yang paling berarti dan indah dari apapun yang pernah kutemui dalam hidupku. bahwa engkau adalah separuh yang mengalir dalam hidupku.

Maka, menanti januari tahun ini begitu menakjubkan, begitu menggairahkan, begitu mempesona, sebab Tuhan selalu punya cara untuk menghadirkanmu setiap kali aku merinduimu.

Komentar

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.