Langsung ke konten utama

Lelaki yang Merampas Hati

Tuhan, aku ingin memberi tahu bahwa tidak ada yang berubah dari caraku mencintainya, bahkan dari caraku mengingatnyapun masih sama seperti enam tahun yang lalu, ini adalah awal-awal sebelum pertemuan kami, aku ingin bilang, dan hanya ingin mengatakan hal yang sama bahwa hanya dia yang bisa merampas hati ini dengan sempurna.

Tuhan, aku tahu mulai ada yang berubah dari ritme yang berdenting, tapi harmoni yang tercipta dari mencintainya telah terlanjur masuk dalam setiap urat syaraf dan mengalir ke seluruh jiwa. Dan itu memberikan getaran dan sensasi yang luar biasa. Seperti aroma arak yang menggiurkan, maka setiap hari adalah hari-hari memabukkan yang nikmat. Hari-hari penuh imajinasi yang melambungkan angan.

tak banyak memang yang mampu kuingat tentangmu, selain alismu yang tidak begitu tebal tapi tumbuh begitu sempurna di atas ke dua bola matamu yang memberi damai setiap kali aku berusaha masuk ke dalamnya. Wajahmu yang bulat penuh, nyaris menyerupai purnama yang selalu memancarkan kilau ketakjuban, wajah yang selalu membuat rindu, wajah yang selalu membuatku menunggu; dengan caraku, dengan cara yang telah kita sepakati bersama. Dengan cara paling sederhana yang bisa kita lakukan, sesederhana purnama yang tak pernah absen setiap bulannya.

Apalagi, oh ya, cara berjalanmu yang gagah dan menggoda, menggelitik hati untuk menggamit lenganmu dan sebelahnya lagi menggamit pinggangmu. Denganmu, aku selalu bisa terpesona, sejak enam tahun yang lalu, tak pernah berubah, tak pernah berkurang, sebab, cinta itu untuk dinikmati.

Senyummu yang mesra, kadang hanya kau kulum sebelum akhirnya merekah karena gelak tawa dari canda yang tercipta. Bila kau merasa muda denganku, maka aku merasa seperti anak-anak bila bersamamu, mencandaimu adalah hal terindah yang bisa kulakukan.

Suaramu, tentu saja aku selalu ingat suaramu, memang tidak semerdu seruling yang ditiup di tengah padang rerumputan, tetapi suara lelakimu begitu menggoda, mampu meluruhkan jiwa keperempuananku dengan cara paling tidak terduga sekalipun.Suara dewasa yang mampu mengirimkan ketenangan bagi jiwa manapun yang mendengarnya.

Tuhan, aku ingin bilang, bahwa aku sangat berterimakasih diberi kesempatan menjadi perempuan istimewa yang bisa mencintainya, dia adalah lelaki yang telah merampas hatiku dengan sempurna. Dan aku bahagia karena bisa selamanya terpasung dalam luas dan dalamnya hati lelakiku. dia Z.

Punie,

07 Februari 2011

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.