Langsung ke konten utama

Hingga Kemarin Malam


Tuhan selalu mempunyai cara tersendiri untuk memberikan jawaban atas pertanyaan yang terakumulasi dan hampir berkarat, dan sedikit telah berjelaga, oleh waktu, oleh keadaan, oleh situasi.


Tuhan juga memiliki cara tersendiri untuk memberi kejutan kepada siapapun yang menaruh harapan pada Nya.


Akupun seperti itu, semua harapan kutitipkan pada Nya, semua keinginan kusampaikan pada Nya, semua situasi, semua keadaan, kuceritakan pada Nya, seperti enam tahun yang lalu, seperti malam kemarin, juga untuk malam-malam selanjutnya. Karena aku percaya hanya Dia yang bisa menyimpan rahasia dan mendengar harapanku.


Tuhan memberiku rasa aman, dan nyaman tentu saja, sejak pertama kali aku mengenalmu, sejak pertama kali aku menjawab salammu, dan sejak pertama kali aku setuju denganmu, aku merasa seide denganmu, dan pada saat pertama kali aku mengiyakan argumentasimu, aku percaya padamu, bahwa cinta, tidak mengenal perbedaan kasta, tidak memperdulikan jenis warna rambut dan kulit, cinta mengejawantahkan usia, perbedaan pangkat, perbedaan budaya dan latar belakang, bahkan mungkin melintasi perbedaan keyakinan.


Hingga kemarin malam, cinta kita adalah perpaduan perbedaan yang berharmoni, perseteruan usia yang menakjubkan, mungkin juga perselingkuhan warna rambut dan kulit, cinta kita adalah perbedaan yang menghangatkan jiwa, perbedaan yang menyemangati hati, perbedaan yang penuh sensasi, yang memberi hasrat untuk terus berjuang.


Mungkin aku bisa bersabar dari apapun, tapi aku tidak bisa bersabar dari rindu terhadapmu, bahkan mungkin aku bisa alpa dalam banyak hal tapi aku tidak pernah alpa mengingatmu. Perbedaan kita mengajarkanku arti kesabaran, arti menahan keinginan, arti menunda.


Dan pada akhirnya, entah pada keinginan yang ke berapa, aku bisa menyapamu bersamaan dengan munculnya matahari, bisa mendengar suaramu bersamaan dengan naiknya matahari, dan bisa mengucapkan selamat malam bersamaan dengan hilangnya matahari.


Tuhan adalah maha pintar yang selalu memberiku harapan, harapan agar waktu, jarak, keadaan dan situasi adalah milik kita, untuk sekali dalam hidupku aku merasa bahwa perbedaan kita memberikan persamaan untuk kita, jarak, waktu, situasi dan keadaan.


Aku belajar dari suaramu yang lembut, aku belajar dari bahasa tubuhmu yang penuh charisma, aku belajar dari caramu mencintai bahwa penerimaan tanpa syarat mampu memendekkan semua kesakitan, menggunting sebagian luka dan perih, menghilangkan sebagian kesal dan sakit hati, dan mengubur sedikit kecewa, bahwa penerimaan tanpa syarat membuatku bisa memelukmu dari jauh, menyentuhmu melalui suaramu, dan memandangimu melalui anganku.


Tuhan adalah maha pintar yang memberiku kesiapan untuk mempelajari scenario, dan juga situasi, aku belajar menganalisa naskah dan juga bahasa tubuh, aku belajar menguasai panggung, karena di dunia penuh perbedaan ini aku harus bisa memerankan lakon apapun, untuk waktu, untuk jarak, untuk keadaan dan situasi.


Hingga kemarin malam, perbedaan telah mengajarkanku untuk berbagi rasa, pada lelangit malam, pada bebintang yang berkedip, dan pada bulan yang tak pernah absen berpurnama. Hingga kemarin malam, Lengkung senyummu, merdu suaramu, tegak tubuhmu, bersih wajahmu, dan wangi tubuhmu adalah anugerah.


Hingga kemarin malam, aku masih ingat nasehatmu, aku selalu inginkan yang spontan darimu, aku masih ingat caramu memeluk, caramu menyentuh; memeluk dan menyentuh perbedaan.


Hingga kemarin malam, aku hanya punya satu cinta, tapi punya banyak harapan, aku punya satu tujuan rindu, tapi punya banyak kesabaran, namun hingga kemarin malam aku punya banyak kebahagiaan dan kesenangan tetapi hanya memiliki satu hati untuk dikasihi; adalah kamu, lelaki penuh inspirasi berinisial Z.

Nb:

Thanks a lot atas waktu panjangmu, ini adalah kesenangan yang menghilangkan semua kata, doa-doa panjangku akhirnya dikabulkan Tuhan, luv u much.

11.59 pm

Saturday, 26 February 2011

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.