Langsung ke konten utama

Pasangan Jiwa

Aku ucapkan terimakasih pada Tuhan manapun
Atas jiwaku yang tak tertaklukkanAku adalah pengendali nasibkuAku adalah kapten jiwaku(Madiba)

Pun aku, selalu tak sepi dari rasa syukur kepada Sang Pemilik jiwa karena telah mengirimkan seseorang sepertimu dalam kehidupanku. Dalam duniaku, aku seorang yang bebas menentukan dan memutuskan, dan bagi duniaku engkau adalah seseorang yang telah kutentukan dan kuputuskan; untuk selalu selamanya menjadi pasangan jiwa.
Dalam duniaku kehidupanku, engkau adalah kompas tak berwujud yang menunjukkan arah dan gerak ke mana aku harus menuju, untuk menemui nasibku sendiri, membangun impian, menebar harapan, untuk menjadi seorang pemenang dengan caraku sendiri.
Aku bahagia, senang dan merasa berarti dengan mencintaimu, jiwa merdekaku memilihmu, hati merdekaku mengatakan bahwa kau adalah pasangan yang telah dipilihkan ole jiwa sebagai inspirasi bagiku untuk terus bertumbuh.
Bila Madiba menghapuskan Negara pelangi, maka kita adalah sebaliknya, selamanya pelangi. Karena pelangi ini adalah sensasi yang berfungsi sebagai pelumas untuk menggerakkan seluruh mesin-mesin keunikan cara kita mencintai.

Madiba membuat semua orang ada untuk diri mereka, maka kita membuat diri kita ada untuk dunia yang telah kita ciptakan. Dunia kita adalah dunia penuh larik-larik dari lengkungan bibir yang meluruskan semua gundah dan resah, dunia kita adalah kesenangan dari menjalani proses, dunia kita adalah dunia dimana cinta dan kasih berbicara dan berdialog dengan bahasanya sendiri.

Dunia kita adala dunia penuh ketakjuban, dunia penuh pesona, dunia kita adalah kemerdekaan dalam menentukan dan memutuskan; seperti aku yang memilihmu menjadi pasangan jiwa.

Much love for my beloved Z

Brastagi,
19 feb 2011

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.