Langsung ke konten utama

4 Jurus Sarkas Menjawab Pertanyaan 'Kapan Nikah?'

Ilustrasi dari Google


SERING mendapatkan pertanyaan 'kapan nikah' ada kalanya memang menyebalkan ya, Ladies. Apalagi kalau pertanyaan itu datang pas masa-masa PMS atau tanggal tua, apa hubungannya ya hihihi.... Lebih-lebih kalau yang nanya itu temen sendiri yang nikahnya juga baru bulan kemarin. :-P

Tapi nggak perlu sewot sampai berewokan kok, Ladies. Santai aja. Telat menikah bukan berarti kamu nggak laku, bisa jadi jodohmu nanti adalah Shahrukh Khan atau Brad Pitt. Syukur-syukur bisa dapat pangeran Arab yang gantengnya bikin hati meleleh. Atau jangan-jangan malah Arap Maklum xixixixi.

Biasanya, kalau ada yang nanya begituan apa sih jawaban kamu? Diem aja, senyum-senyum aja, kedip-kedip, atau cengengesan sambil bilang.....'cariin dong' dengan muka memelas kayak daun talas keriting.


Kalau jawaban yang 'sopan-sopan' udah nggak mempan lagi, barangkali kamu bisa memberikan jawaban-jawaban seperti di bawah ini. Emang sih terdengar sarkas dan sinis, tapi.... kenapa enggak ya kan? :-D

1. Kepo banget sih! Terserah aku dong...

Kepo alias penasaran tingkat dewa memang sering menghinggapi seseorang. Nah, jurus menangkal kekepoan orang model begini adalah dengan membuat kekepoannya semakin bertambah. Jangan berikan jawaban apapun karena dia pasti bakalan mencecar terus. Bisa-bisa selera makan kamu bakal hilang nanti. Jangan lupa pas kamu bilang "Kepo banget sih!" pake melotot ya, Ladies. Biar dia keder dan semakin kepo, kok kami yang tadinya imut seperti marmut berubah galak seperti serigala.

2. Emang kamu tahu kapan aku mati?

Nah, udah tahu kan, Ladies. Kalau jodoh, rejeki, maut dan pertemuan itu rahasia Tuhan. Kalau kita tahu kapan kita bakal nikah, berarti kita tahu rahasia Tuhan dong. Itu sama artinya kita tahu juga kita bakal meninggalkan dunia ini. Jangan lupa tambahin "sekalian tolong galiin kuburan buat aku ya!"

3. Yang nikah aja udah cerai

Jawaban sarkas seperti ini sesekali bisa juga jadi jurus pamungkas kalau yang nanya udah nggak pake perasaan banget. Atau, sambil berkacak pinggang tanyain gini ke yang nanya, "Nanya-nanya terus kapan aku nikah, memangnya kamu mau berbagi nasib mengenai penderitaanmu selama ini ya?" hihihihi.... dijamin dia langsung mengkeret kayak teripang rebus.

4. Jadikan aku madumu

Nah, jawaban seperti ini dijamin bakal bikin mulut orang yang bertanya mingkem mendadak. Tapi kalau mau kasih jawaban seperti ini lihat-lihat dulu siapa yang bertanya. Pastikan si prianya tampan dan sesuai kriteriamu. Kalau ada si pria di dekatmu boleh juga disertai kedipan mata, pertanda kamu nggak main-main dengan jawaban tersebut.[]

Komentar

  1. Hahahaha.., kalau aku jawab gini kak, Tahun depan, kalau nggak tahun depan, tahun depannya lagi, kalau nggak tahun depannya lagi, tahun depan-depannya lagi., sampai tiba waktunya akan aku kirimkan undangan untuk mu.,! kwkwkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. bisa juga ditambahanin, apa ada rencana kasi kado sekarang?

      Hapus
  2. hahahhaha kocak-kocak, ini bener-bener sarkas

    BalasHapus
  3. Pertanyaan yg sering banget dilontarkan ke aku, sampe enek sendiri kadang, aku selalu jawab : "nanti kalo udah saatnya juga pasti aku beritahu" hahahhahahaha,

    BalasHapus

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

Postingan populer dari blog ini

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

ilustrasi TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi... "Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun. Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya.  "Merahnya parah ngga?" cecarnya. "Parah!" jawabku. Jujur. Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur. Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih k

Taare Zameen Par, setiap anak adalah "bintang"

@internet SUDAH dua kali saya menonton film  Taare Zameen Par atau Like Star on Earth. Dua kali pula saya menangis. Ini di luar kebiasaan, sebab saya bukan orang yang mudah menitikkan air mata, apalagi hanya untuk sebuah film. Tapi film yang dibintangi Aamir Khan dan Darshel Safary ini benar-benar beda, mengaduk-ngaduk emosi. Masuk hingga ke jiwa. Film ini bercerita tentang bocah berusia 8-9 tahun (Darshel) yang menderita dyslexia. Dia kesulitan mengenal huruf, misalnya sulit membedakan antara "d" dengan "b" atau "p". Dia juga susah membedakan suku kata yang bunyinya hampir sama, misalnya "Top" dengan "Pot" atau "Ring" dengan "Sing". Bukan hanya itu, dia juga sering menulis huruf secara terbalik. Kondisi ini membuat saya teringat pada masa kecil, di mana saya juga sering terbalik-balik antara angka 3 dengan huruf m. Akumulasi dari "kesalahan" tersebut membuatnya tak bisa membaca dan menulis, n

Secangkir Kopi Rempah dan Sepotong Roti Lapis Daging

Bohong kalau aku tak ingin ada kamu di sini. Menikmati malam yang dingin setelah hampir seharian dibebat mendung dan diguyur hujan. Dengan isi kepala dipenuhi sulur-sulur pekerjaan yang menumpuk. Entah karena itu pula akhir-akhir ini aku merasa semakin tak nyenyak tidur. Entah karena rindu untukmu yang kian bertumpuk. Ini yang keempat kalinya aku datang ke kafe ini. Tak begitu jauh dari rumah. Selain, tempatnya juga nyaman, bebas asap rokok, tak berisik, lapang, dengan pendar-pendar lampu kekuningan yang agak sedikit temaram. Selalu ada tempat untuk membahagiakan diri sendiri. Tempat ini, mungkin saja salah satu di antaranya. Seorang pelayan pria segera menghampiri begitu aku merapatkan pantat dengan kursi kayu berpelitur cokelat muda yang licin. "Mau pesan kopi rempah?" tanyanya ramah. Aku mengangguk cepat. Ya, kopi rempah adalah tujuanku datang ke kafe ini. Selain, berencana menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tertunda. Juga untuk menghilangkan nyeri yang seja