Langsung ke konten utama

Citra Rahman; Backpacker yang Doyan Camping Sendirian

Citra Rahman @ihansunrise.blogspot.com

Memakai sweater lengan panjang dipadu celana jeans biru, pria muda itu duduk di antara pembicara dan peserta Bincang Blogger yang dibuat oleh salah satu komunitas blogger di Aceh beberapa pekan lalu.

Namanya Citra Rahman. Di kalangan teman-teman dekatnya pria berkulit cokelat ini biasa dipanggil Citra. Perawakannya kecil, namun memiliki postur atletis karena ia gemar berolahraga.

Begitu namanya dipanggil, microphone lantas berpindah tangan. Ya, Sabtu, 29 Maret lalu Citra Rahman menjadi salah satu pembicara di acara itu. Ia sengaja diundang untuk menginspirasi sejumlah anak muda mengenai ketertarikannya di dunia traveling dan literasi.

Backpacker Cilet Cilet. Itulah julukan yang ditabalkan untuk dirinya. Nama backpacker merujuk pada hobi jalan-jalannya. Sedangkan cilet-cilet yang berarti ‘asal-asalan’, menurutnya karena ia bukan termasuk seorang backpacker 'sejati'.


Backpacker memang identik dengan kegiatan traveling yang menggunakan biaya seminimal mungkin. Sementara Citra beranggapan, untuk menyenangkan diri sendiri adakalanya ia tak perlu berhemat seminimal mungkin. Itulah mengapa ia menganggap dirinya backpacker cilet-cilet.

Ada yang menarik dari kebiasaan traveling pria kelahiran Meulaboh 19 Oktober 1986 ini. Ia suka camping sendiri. Tempat favoritnya saat ini adalah Krueng Raya. Alasannya jalur ke sana lebih mudah diakses. Ngomong-ngomong apa yang dicarinya dari kebiasaan ‘menyendiri’ di tengah alam semesta seperti itu?

“Saat sendiri kita akan merasa lebih rileks, senang, bahagia, dan kita merasa sangat kecil ketika berada di tengah alam semesta ini,” ujarnya saat berbincang-bincang dengan atjehpost.com beberapa waktu lalu.

Sebulan sekali ia meluangkan waktu untuk berkemah ke Krueng Raya, Aceh Besar. Lokasi favoritnya di puncak bukit menuju ke pantai Lhok Mee. Suasana alam yang tenang dan damai, juga pemandangan malam hari yang menakjubkan mampu menghilangkan rasa takut yang awal-awal sempat menderanya.

Saat baru-baru menjalani hobinya itu pria penyuka warna biru ini mengaku takut gelap. Apalagi hanya dengan mengandalkan penerangan seadanya, bayang-bayang pohon pun bisa jadi sumber ketakutan. Bahkan, pernah ia sama sekali tak berani keluar tenda. Tapi lama kelamaan ketakutan itu berhasil ditepisnya.

"Lama-lama keberanian itu muncul sendiri," katanya.

Kesenangannya untuk berjalan ke tempat-tempat baru sudah mulai tumbuh sejak kecil. Setelah dewasa kesenangan itu semakin besar, kini dengan menyisihkan sebagian penghasilannya Citra sering bepergian ke tempat-tempat baru.

Kebiasaan camping sendiri katanya sudah ia lakukan sejak tahun 2012 lalu, saat ia masih berdomisili di Lhokseumawe. Di Lhokseumawe ia juga punya tempat favorit untuk camping di daerah Paloh.

Walau berkemah sendiri, Citra selalu siap dengan segala alat tempurnya. Ia biasa membawa tenda dan perlatan camping lainnya seperti trangia untuk memasak. Untuk logistik ia hanya perlu membawa air, mie instan dan telur.  Karena terbentur waktu kerja, biasanya ia pergi menjelang malam setelah semua rutinitas pekerjaannya selesai.

Sampai di sana Citra memasang tenda, memasak, dan tentu saja menyantap sajian logistiknya seorang diri. Ditemani desau angin, suara binatang malam dan taburan bintang gemintang di langit. Itulah pengalaman yang tak pernah bisa dilupakannya.

Selain itu, Citra juga rajin menceritakan kembali kisah petualangannya di blog pribadinya; hananan.com. Menulis di blog juga salah satu upayanya untuk memperkenalkan keunikan dan daya tarik Aceh kepada khalayak.

Jika ingin camping sendirian menurut pria lajang ini, ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Pertama soal keberanian. Yang ini tak boleh diabaikan, karena pasti berbeda antara pergi seorang diri dengan pergi bersama teman.

Peralatan camping mulai dai tenda, kompor portable, perlatan masak dan P3K juga harus dibawa. Jangan mengabaikan salah satunya. Terakhir mengenal medan atau lokasi yang akan didatangi. Dengan mengenal medannya, otomatis kita akan mengetahui bagaimana kondisi alam atau keadaan di sekitarnya.

Hobi yang dilakoninya ini juga berbuah manis. Setidaknya sampai saat ini Citra sudah memenangkan sejumlah lomba seperti juara pertama lomba blog Visit Aceh 2013. Ia juga menjadi salah satu peserta Aku Cinta Indonesia 2010 yang dibuat oleh detik.com. Ia juga termasuk peserta My Selangor Story 2010 dan 2013 yang dibuat oleh Malaysia.

Bukan hanya itu, tahun 2013 lalu ia juga baru memenangkan juara favorit Catatan Pesepeda yang dibuat oleh National Geographic. Citra juga sering diundang untuk berbagi cerita dan pengalamannya di komunitas atau kegiatan-kegiatan tertentu. Tertarik mengikuti jejak Citra?[]

Telah dipublikasikan di portal ATJEHPOST.co April 2014

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.