Langsung ke konten utama

Titik Balik Aida MA Jadi Penulis

Aida MA @istimewa

Kata ini memiliki arti yang besar bagi seorang Aida Maslamah, atau yang dikenal dengan nama pena Aida MA. Seperti kata Orhan Pamuk; I Write because I have never managed to be happy. I write to be happy. Aida pun menemukan momentum yang menjadi titik balik yang membuatnya terjun ke dunia menulis.

Sebagai seorang introvert, Aida sulit mengungkapkan banyak hal dengan lisannya. Terutama untuk hal-hal yang berkaitan dengan kesedihan. Tak kehabisan akal, ia menuangkan semua yang mengganjal hatinya menjadi tulisan-tulisan yang panjang. Begitulah caranya melepaskan energi negatif dari dalam dirinya.

“Momentum itu justru muncul, saat saya mengalami perubahan hormon yang sangat signifikan. Ketika saya melahirkan anak pertama, saya mengalami kondisi baby blues semacam post partus syndrome, kelelahan demi kelelahan itulah yang saya tuliskan dalam sebuah tulisan. Alhamdulillah dengan menuliskannya saya lebih tenang dan menikmati setiap prosesnya. Sejak itu saya memutuskan menjadi penulis,” ujarnya kepada The Atjeh Post.

Sejak kecil, ibu satu anak yang berasal dari Aceh Selatan ini sudah akrab dengan dunia literasi. Meski ekonomi keluarga saat itu sedang sulit, ayahnya sempat membelikan anak-anaknya majalah anak. Ia juga suka berlama-lama di perpustakaan sang ayah yang bekerja di Kemenag Aceh Selatan. Sejak masih duduk di bangku SMP, Aida mulai suka menulis puisi atau prosa. Kadang ia juga suka menggabungkan kalimat-kalimat yang ada di puisi dengan kalimatnya sendiri.

“Hasil modifikasi itu jadilah karya saya. Sejak saat itu saya menikmati proses merangkai kata,” kata alumni Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala Banda Aceh yang kini bermukim di Jakarta mengikuti sang suami.

Di dunia perbukuan Indonesia, Aida adalah pendatang baru. Buku pertamanya Berbagi Hati terbit pada 2012 lalu. Namun kreativitas dan produktivitasnya yang tinggi membuat ia sudah menelurkan 10 buku solo dan duet, dan sembilan antologi bersama penulis lainnya.

“Sebenarnya naskah pertama yang saya tulis itu berjudul Ya Allah Beri Aku Kekuatan, yang sudah ditulis sejak 2008 tapi baru terbit tahun 2012,” kata penulis novel remaja berlatar Pulau Weh, Sunset in Weh Island.

Tak puas hanya menjadi penulis, bersama temannya Buchari Yahya, Aida mendirikan sebuah penerbitan yang diberi nama Batavia Publishing belum lama ini. Di penerbitan itu ia bertugas sebagai editor fiksi. Ia juga membuat tokoaida.com untuk mempromosikan bukunya dan memudahkan pembaca yang ingin mendapatkan buku-buku karyanya.

Pertengahan bulan September ini, Aida dan sahabatnya yang juga penulis Risma el Jundy akan terbang ke Maroko. Mereka berada di negeri Al-Magriby itu hingga 6 Oktober mendatang. Keberangkatan ini merupakan bentuk kerjasama mereka dengan KBRI Maroko. Selama tiga minggu di Maroko, Aida akan melakukan observasi etnografi untuk mendapatkan informasi kebudayaan Islam di Maroko dan hubungan diplomatic antara Indonesia dan Maroko. Hasil observasi tersebut akan ditulis menjadi dua buah buku berlatar belakang Maroko.

“Risma akan menulis novel dan saya menulis buku traveling. Kesempatan berkunjung ke Maroko juga kami isi dengan workshop motivasi dan therapy menulis bersama mahasiswa Indonesia di Maroko, dan berbagi di radio. Insya Allah saya dan Risma akan kembali ke tanah air dengan dua buku berlatar Maroko,” kata perempuan yang senang jalan-jalan ini.[]
Biodata:
Nama             : Aida Maslamah
Lahir               : Jakarta, 27 Agustus 1982
Organisasi    : Anggota Be a Writer Indonesia, Komunitas Sahabat Batavia, FLP Ciputat dan Care for GBS
Alamat            : Kompleks Pertamina Pondok Ranji, Jl. Limea Bawah No. 16 Ciputat Timur

Tulisan ini sudah dimuat di Tabloid The Atjeh Times

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.