Langsung ke konten utama

Fathun; Aktivis Muda Visioner

Muhammad Fathun @istimewa

DI TENGAH kesibukannya mempersiapkan skripsi, mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala ini mendapatkan kesempatan yang luar biasa. Pada 28-30 Agustus 2014 mendatang, Fathun akan mewakili Indonesia di Global Forum of the United Nations Alliance of Civilization (UNAOC) di Bali. Ini merupakan kali pertama forum tersebut dibuat di Asia Pasifik, dan Indonesia mendapat kesempatan sebagai tuan rumah.

“Dari dulu sudah punya keinginan untuk mengikuti sebuah konferensi yang dibuat oleh PBB, dan Alhamdulillah ini kesempatan yang luar biasa,” kata Fathun saat berbincang-bincang dengan The Atjeh Times, Sabtu pekan lalu.
Untuk lolos ke forum ini Fathun harus bersaing dengan tiga ribuan aplikasi yang dikirimkan anak muda dari seluruh dunia. Ia mengaku menghabiskan waktu sampai sebulan untuk mempersiapkan aplikasinya sebelum dikirim. Hasilnya tak sia-sia, bersama dua pemuda Aceh lainnya Fathun dinyatakan lolos bersama seratus pemuda di seluruh dunia untuk mengikuti acara itu.

Acara itu sendiri langsung dihadiri oleh Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki Moon, Presiden SBY dan Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa. Bukan hanya istimewa, dengan mengikuti pertemuan ini Fathun berharap bisa menyerap banyak informasi yang bisa diterapkan dalam membangun Aceh sesuai dengan kapasitasnya sebagai anak muda.


Nama Muhammad Fathun di kalangan youth activist di Aceh bukanlah nama baru. Ia salah satu pendiri The Leader, sebuah organisasi kepemudaan yang memiliki program andalan ‘Dream Maker’ dan sudah mendapatkan penghargaan dari Millenium Development Goals atau MDGs. Melalui program itu pula mantan Duta Wisata Aceh kelahiran Aceh Besar 22 Agustus 1989 ini lolos ke program Jalan Pemimpin. Sebuah program untuk mempersiapkan pemimpin masa depan Indonesia melalui sinergi dan proses pembelajaran yang unik yang didukung oleh TEMPO, General Electric Indonesia dan Nutrifood.

Selama setahun, bersama 19 muda-mudi dari seluruh Indonesia Fathun akan mengikuti program mentoring dengan harapan bisa mengasah kemampuannya di bidang kewirausahaan sosial khususnya akses pemasaran, pengembangan wirausaha dan proyeksi keuangan.

Saat masih SMA dulu, ia pernah mendapat kesempatan belajar selama setahun di Brawley Union High School di California, Amerika Serikat melalui program pertukaran pelajar AFS/YES. Ia juga pernah mengikuti kegiatan Kapal Pemuda ASEAN dan menjadi chairman untuk mengatur seluruh peserta dari berbagai negara.

Dari sinilah jiwa sosialnya terus terasah dan terbentuk sampai sekarang. Sebagai anak muda ia merasa tak boleh tinggal diam dengan segala permasalahan yang terjadi di sekelilingnya. Jika banyak anak muda memilih untuk berseberangan dengan pemerintah, ia justru sebaliknya. Berusaha untuk berkontribusi dalam hal sekecil apa pun untuk membantu pemerintah sesuai dengan kapasitas yang dimilikinya.

“Ada anak muda yang resisten terhadap pemerintah, tapi kalau saya memilih untuk membantu mereka dengan cara dan solusi yang kita miliki, karena dalam membangun Indonesia ini semuanya berperan bukan hanya tugas pemerintah saja,” ujarnya.[]

Biodata:
Nama              : Muhammad Fathun
Lahir               : Aceh Besar, 22 Agustus 1989
Pendidikan     : Mahasiswa FK Unsyiah angkatan 2008
Organisasi      :
  Founder dan Direktur Eksekutif The Leader
  Sending Coordinator Bina Antarbudaya Chapter Banda Aceh

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.