Langsung ke konten utama

Obsesi Gadis Pemetik Biola

Nada Zaiyyana Haula @dok ATJEHPOST/Heri Juanda

“Nada ingin sekali bisa tampil di depan Gubernur Aceh,” kata Nada Zaiyyana Haula, gadis remaja berusia 14 tahun yang pandai memainkan biola itu. Keinginan itu adalah hal yang memungkinkan bagi Nada.

Bukan tak mungkin suatu saat ia bisa memainkan biolanya di depan Gubernur Aceh sebab beberapa waktu lalu gesekan biolanya telah menarik perhatian Wakil Wali Kota Banda Aceh, Illiza. Saat itu Nada dan teman-temannya di El Hakim Band sedang tampil. Illiza yang menghadiri kegiatan itu tiba-tiba meminta mikrofon dan langsung naik ke panggung untuk bernyanyi bersama mereka. “Rasanya senang sekali bisa satu panggung dengan Bu Illiza. Kami sangat senang dan bersemangat waktu itu,” kata Nada, kepada The Atjeh Times, Senin pekan lalu.

Gesekan biola Nada ketika mengiringi lagu When I See Your Smile di acara seni lintas kebudayaan Thirsty Mic beberapa waktu lalu, juga mampu menarik perhatian penonton. Tak hanya pandai memainkan senar biolanya, Nada juga mampu menyatu dengan alunan musik yang diciptakannya. Setiap usai tampil, remaja kelahiran Banda Aceh, 29 Maret 1999 ini selalu menemukan semangat baru untuk mempelajari alat musik itu.


Ketertarikannya pada biola sudah tumbuh sejak ia masih duduk di Taman Kanak-Kanak. Rasa itu semakin menjadi-jadi sejak ia sering mendengar musik biola yang dibawakan oleh Bond, grup biola asal Inggris dan Australia yang terdiri dari empat personil, yaitu Eos Chater, Gay-Yee, Elspeth, dan Tania Davis. Namun, keinginan itu baru terwujud saat ia masuk SMP.

“Nada belajar biola sejak kelas satu SMP,” ujar pelajar di SMP Islam Cendekia El Hakim ini. Di sekolahnya memang ada beberapa kegiatan ekstrakurikuler di bidang musik, salah satunya adalah biola. “Nada belajar dari guru di sekolah,” katanya.

Dua tahun bergelut dengan alat musik itu, Nada memang sudah piawai memainkan biola. Rasa percaya dirinya pun terlihat jelas saat ia tampil. Meski keinginannya untuk mempelajari alat musik itu begitu besar, bukan berarti ia tak menemui kesulitan. Menurutnya, biola sedikit susah dipelajari karena tidak ada grit-nya.

“Nada nggak paham not atau tangga nadanya. Kalau Nada dengar, lalu biasanya alunannya diciptain sendiri supaya musik biolanya sesuai dengan musik yang kita dengar. Harus benar-benar menjiwai dan menghayati, kita tinggal mengikuti irama musiknya, biola akan terdengar benar,” kata putri pasangan Syarifuddin Ahmad dan Marinda Hasan ini.

Saat bermain biola, ia juga punya trik sendiri untuk menutupi jika terjadi kesalahan. Seorang violis kata Nada, harus menguasai teknik vibra. Teknik ini bisa menutupi kekurangan yang terjadi saat bermusik.

Seperti pemusik pada umumnya, Nada juga menjadikan biola sebagai teman yang dapat menghiburnya saat sedih.

Adakah keinginannya selain tampil di depan Gubernur Aceh? “Nada ingin menjadi pemain biola terkenal agar bisa mengharumkan keluarga, sekolah, dan bangsa,” ujarnya mantap.[]



Infografis:

Nama               : Nada Zaiyyana Haula

Lahir                : Banda Aceh, 29 Maret 1999

Orang tua        : Syarifuddin Ahmad dan Marinda Hasan

Sekolah           : Kelas VIII di SMP Islam Cendekia El Hakim



Prestasi:

Juara I Mewarnai Tahun 2004 di Bekasi

Juara 3 Mewarnai Tahun 2005 di Bekasi

Juara 3 Mewarnai Se-Jabotabek Tahun 2004

Juara Harapan I Fashion Show Busana Muslim di Bekasi

Juara 2 Seni Kreativitas Se-Banda Aceh dan Aceh Besar Tahun 2010

Juara I Eksperimen Sains Tahun 2009

Juara I Eksperimen Sains Tahun 2010

Juara 3 Musik Garapan se-Aceh Bersama Sanggar Nurul Alam


Telah dipublikasikan di Tabloid The Atjeh Times Edisi Mei 2013

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.