Langsung ke konten utama

Dawai Biola Menyayat Emperan Dewan

Icha, Jamal dan Donny @dok ATJEHPOST.co


MENENTENG biola, gadis kecil itu melangkah percaya diri menuju fondasi tiang bendera di tengah halaman gedung Dewan Perwakilan Rakyat Aceh, Banda Aceh. Dua pria dewasa mengiringi: Jamal Abdullah ayah gadis kecil itu dan Donny Arief musisi Aceh.

Mereka membentuk formasi di atas fondasi. Laksana berada di atas panggung berhias bunga asoka yang memang sudah tumbuh di sana, si kecil Aisyah Suha Nabilah berdiri menyandarkan biola di bahunya. Di kirinya, Jamal duduk berdampingan dengan Donny yang memegang gitar.

Tak lama kemudian, gadis kecil yang biasa disapa Icha itu mulai menggesek dawai biolanya. Perlahan-lahan lengkingannya seakan menyayat hati. Ditingkahi petikan gitar Donny serta suara merdu Jamal yang syahdu menyanyikan lagu “Nazam”, lalu bersambut tepukan tangan penonton.

“Deungon bismillah awai lôn peuphôn, lôn lakèe ampôn seugala desya, lôn lakèe ampôn bak Tuhan sidroe, yang peujeut asoe langèt ngon dônya, neupeujeut uroe lawan ngon malam, neupeujeut Adam ngon Siti Hawa…” Jamal terus berdendang.



Anak-anak muda Aceh merasa perlu berbuat sesuatu untuk bocah korban pembunuhan dan perkosaan, Diana. Aksi mereka di gedung dewan menggugah hati banyak orang. 

Icha yang berkolaborasi dengan Jamal dan Donny hanya salah satu pengisi acara di “Malam Solidaritas untuk Diana”. Dibuat di halaman gedung DPR Aceh, Sabtu malam, 13 April 2013, acara berlangsung syahdu dan khidmat. Di halaman, pengunjung duduk mengelilingi tiang bendera sambil menyaksikan kepiawaian Icha.

***

Almarhumah Diana @dok ATJEHPOST.co/Khairi Tuah Miko

YA, sumber cahaya hanya berasal dari lampu-lampu yang menempel di emperan dewan, juga lampu sorot yang diarahkan ke tiang bendera. Di belakang pengunjung sebuah proyektor menampilkan slide yang ditembakkan ke layar putih.

Di bawah langit mendung, acara dimulai dengan doa. Seluruh pengunjung dan pengisi acara berbaur. Dalam keheningan mereka saling bergandengan tangan dan mengamini setiap doa yang dilafalkan pemandu acara. Bersama mereka ada belasan teman Diana. Beberapa pengunjung menitikkan air mata.

Di tengah suasana temaram, pengunjung seolah diingatkan pada malam tragis yang dialami Diana. Ia bocah berusia enam tahun yang tewas diperkosa dan dibunuh dua pria pada 19 Maret 2013. Kepergian gadis kecil asal Peulanggahan, Banda Aceh, ini menyisakan kepedihan yang menyiksa ibunya, Agusmawar. Tak kuat menahan duka, ia pun menyusul putri tunggalnya. Tinggallah sang suami, Mawardi, sebatang kara.

Peristiwa tragis itu mengetuk hati banyak orang, termasuk sekelompok anak muda dari berbagai komunitas penggagas acara solidaritas itu. Di antara mereka ada mahasiswa, pegiat seni, pegiat lingkungan, dan jurnalis. “Kami duduk dari satu warung kopi ke warung kopi lain untuk membicarakan teknis acara,” kata panitia, Youlan, kepada The Atjeh Times, Rabu pekan lalu.

Dengan jumlah personil terbatas, mereka membagi tugas secara adil. Ada yang mengurus surat izin kepolisian, mengurus peralatan, pengisi acara, dan berkampanye di jejaring sosial. “Yang paling utama adalah mengurus izin dari kepolisian, maklum baru kami yang menyelenggarakan kegiatan seperti ini di gedung dewan, jadi semua prosedur harus kami ikuti,” kata Youlan.

Sehari sebelum di DPRA, aksi teatrikal dibuat di halaman Masjid Raya Baiturrahman usai salat Jumat. Dilaksanakan di bawah terik matahari, aksi itu menyedot perhatian pengunjung masjid. Dalam teatrikal itu tampak dua ‘pelaku’ digantung. Beberapa mahasiswa dari Teater Rongsokan berperan sebagai eksekutor, diselingi monolog-monolog pendek.

***

Di halaman DPR Aceh, pengunjung masih melingkari tiang bendera. Satu per satu pengisi acara tampil, ada pelajar SMP IT Luqmanul Hakim, penyanyi cilik Celia Cinta, Joel Pasee, dan Moritza Thaher yang melantunkan lagu “Pho” dengan sangat menyayat hati. Selain mereka, juga ada Seuramoe Reggae, Reza Idria & King of Fire, Arifin Effendi, dan beberapa pengisi acara lainnya.
Belasan pengisi acara tampil secara sukarela. Penampilan mereka tak ubahnya sebagai penghormatan terakhir bagi Diana. Bahkan bagi Joel Pasee, acara itu membuatnya gugup. “Tak pernah saya grogi begini sebelum tampil,” bisiknya kepada The Atjeh Times.

Moritza Thaher bilang aksi seperti ini membuat semua orang bisa saling mengingatkan. Di Aceh dari dulu solidaritas tinggi. “Acara seperti ini harus digelar setiap tahun,” ujarnya.

***

USAI tampil, Icha terus menggamit lengan ayahnya. Ayah dan anak itu terlihat kompak dengan memakai baju warna putih yang sama. Sekitar pukul 22.00 WIB diwakili ayahnya, gadis kecil ini berpamitan. “Icha sudah ngantuk,” kata Jamal. Mereka berdua hilang di keramaian. Demi Diana, Icha kecil menunjukkan solidaritasnya dengan melawan kantuk.[]

Telah dipublikasikan di Tabloid The Atjeh Times Edisi April 2013

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

I Need You, Not Google

Di era kecanggihan teknologi seperti sekarang, mudah sekali sebenarnya mencari informasi. Kita tinggal buka mesin pencari, memasukkan kata kunci, lalu bisa berselancar sepuasnya.
Saking mudahnya, kadang-kadang kalau kita bertanya pada seseorang dengan topik tertentu tak jarang dijawab: coba cari di Google. Jawaban ini menurut hemat saya ada dua kemungkinan, pertama yang ditanya benar-benar nggak tahu jawabannya. Kedua, dia malas menjawab. Syukur dia nggak berpikir 'ya ampun, gitu aja pake nanya' atau 'ni orang pasti malas googling deh'. 
Kadang kita kerap lupa bahwa kita adalah manusia yang selalu berharap ada umpan balik dari setiap interaksi. Ciri makhluk sosial. Seintrovert dan seindividualis apapun orang tersebut, dia tetap membutuhkan manusia lain.
Selengkap dan sebanyak apapun 'jawaban' yang bisa diberikan oleh teknologi, tetap saja dia tidak bisa merespons, misalnya dengan mengucapkan kalimat 'gimana, jawabannya memuaskan, nggak?' atau saat dia me…