Langsung ke konten utama

Terbentur Rindu

Ilustrasi

AKU hampir tidak percaya gemuruh ombak yang begitu menggila ini tiba-tiba redam begitu saja. Bahkan senja tak sempat melihat senyum perpisahan darinya. Ia pergi tanpa lambai keangkuhan yang sering kali membuat lunglai. Ia pergi dengan anggun meski tanpa permisi.

Aku lebih tak percaya sebab redamnya gemuruh ini karena engkau. Ouh... siapa aku harus memanggilmu. Angin kah, hujan, atau badai yang berwujud dalam kelopak salju nan lembut. Yang siap menggulungku dalam pusaran rasa yang paling dahsyat.

Aku tahu kau sudah menggulungku bertahun-tahun silam, bahkan jauh sebelum aku tahu apa itu tenggelam. Jika pada akhirnya kita kuyub, kurasa itu karena hujan yang tak sanggup lagi menahan dirinya. Ia menjelma menjadi apa saja, meski tak pernah menampakkan wujudnya yang asli. Rasa, bukankah hanya untuk dinikmati?

Di pengujung senja aku berangsur-angsur pulih. Tidak, aku sedang tidak terluka. Aku juga tidak sedang sakit. Lantas pulih dari apa? Aku sedang tak ingin berdebat dengan jiwaku sendiri. Aku hanya ingin menikmati semilir yang dikirimkan semesta. Berdesir di dalam kalbu yang melahirkan mimpi-mimpi indah. Aku sedang tak berada di dunia khayal, maka rindu dan rasa ini ibarat sepotong es krim yang siap melumerkan seluruh kerigidan.

Aku hanya ingin takluk pada rasa yang kuinginkan. Tapi juga tidak sedang menghancurkan apa yang telah kokoh selama ini. Jika hidup hanya kepingan puzzle yang perlu kususun, maka biarkan kehadiranmu menjadi pelengkap kepingan yang ke seribu satu. Kita seperti dadu, bertemu karena ada seseorang yang melemparkannya. Aku hanya mencari kebahagiaan. Mungkin dengan jalan yang tak harus sama yang dilalui para musafir lain.

Kau yang diantar waktu dengan apa adanya. Dengan segala tentangmu yang biasa-biasa saja, tapi terselip banyak keistimewaan. Tak perlu menjadi perayu untuk membuat seseorang tersanjung bukan? Tak perlu menjadi pelawak untuk membuat seseorang tersenyum. Tak perlu menjadi petani bunga untuk bisa menanam bunga di hati seseorang.

Aku hanya tak percaya mengapa rindu yang gaduh ini tiba-tiba patuh. Diam tak berani menunjukkan raut wajahnya yang kesal. Bahkan suaranya yang lengking tiba-tiba tersedot ke dalam kerak bumi paling dalam hingga aku tak mampu menjangkaunya. Hanya ritme jantungku yang kurasa kian teratur, berdegup pelan pertanda kehidupan sedang berlangsung. Aku tidak sedang jatuh cinta, tapi sedang terbentur rindu.[]

Komentar

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.