Langsung ke konten utama

Bee Meuhoeng di Kawasan Pendopo

Kuntum bunga pulai @ihansunrise.blogspot.com

Ada yang menarik perhatian saya belakangan ini setiap kali melintasi Jalan Sultan Alaidin Mahmudsyah. Kawasan ini bagi saya sangat istimewa, karena di lokasi inilah Makam Sultan Iskandar Muda berada. Sultan yang pernah membawa Aceh ke puncak kegemilangan. Membuatnya terus dikenang dan disebut-sebut hingga hari ini. Dibanggakan anak cucunya.

Rumoh Aceh dan Museum Aceh juga berada di kawasan ini. Tempat yang paling sering dikunjungi wisatawan untuk ‘melihat’ Aceh dari dekat. Di samping itu ada Gedung Juang, gedung yang berfungsi sebagai kantor Shu-chokan (Pemerintahan Militer/Residen Aceh) ketika Jepang masuk ke Aceh tahun 1942. Di halaman kantor itu tempat kedua dikibarkan bendera Merah Putih oleh pejuang Aceh setelah Soekarno-Hatta memproklamirkan Kemerdekaan RI.


Terpaut beberapa belas meter dari situ, berdiri dengan anggun Meuligoe Gubernur Aceh. Tempat tinggal orang nomor satu di Aceh yang terlihat megah meski usianya sudah beratus-ratus tahun.

Tapi bukan itu yang menarik perhatian saya, melainkan kuntum-kuntum bunga berwarna pucat yang sedang bermekaran di kawasan tersebut. Bunga-bunga itu berasal dari pohon pulai yang ditanam di ruas kiri jalan Sultan Alaidin Mahmudsyah. Tak hanya pulai, di sepanjang jalan itu juga ada beberapa pohon lainnya seperti flamboyan, akasia dan angsana atau bak asan.

Bunga ini menarik perhatian, bukan saja karena terlihat dominan di antara hijaunya dedaunan. Tapi juga karena baunya yang sangat menyengat. Masyarakat Aceh menyebutnya meuhoeng! Bagi mereka yang tidak tahan dengan aroma ini bisa menyebabkan terjadinya reuneng-reuneng di kepala alias membuat pusing. Pohon pulai juga terlihat banyak di sepanjang kawasan Lueng Bata dan tersebar di beberapa ruas jalan protokol lainnya di Banda Aceh.

Nama botani pohon ini adalah Alstonia Scholatis yang termasuk jenis tanaman keras. Pohonnya bertajuk banyak sehingga sering dijadikan tanaman peneduh terutama di pinggir-pinggir jalan. Sepintas daun-daunnya mirip daun kemboja, tapi berbentuk jari-jari yang hijau mengkilat. Selain pulai, pohon ini dikenal juga dengan nama pule, kayu gabus, lamo atau jelutung.

Saya membayangkan kuntum-kuntum yang sedang bermekaran itu adalah bungong jeumpa. Aromanya semerbak, tidak meuhoeng! Wangi yang menjadi simbol keperkasaan wanita Aceh yang hidup bukan hanya untuk pelengkap pria. (Baca: Si Ceudah Rupa dari India)
Jeumpa adalah bunga identitas Aceh yang selalu dipuja-puji hingga dalam syair. Seharusnya yang sedang bermekaran di sana memang jeumpa, ada untuk menyempurnakan keistimewaan Jalan Sultan Alaidin Mahmudsyah seperti yang saya sebut di atas.

Saya juga membayangkan seorang turis baru keluar dari Rumoh Aceh dan mencium aroma pulai yang menyengat tiba-tiba bertanya. “Apakah ini bunga khas Aceh?”. Kemudian kita menjawab “Bukan, itu bunga pohon pulai,”. Mereka kembali bertanya “Bunga khas Aceh yang seperti apa?”

Kita pun hanya bisa menjawab tergagap “Seperti… seperti…” sambil mencari-cari adakah bak jeumpa di antara deretan pohon pulai yang gagah perkasa itu?

Komentar

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.