Minggu, 02 Desember 2012

Mengintip Hawaii di Balik Pintu Rahasia Sumur Tiga

Mengintip Hawaii di Balik Pintu Rahasia Sumur Tiga

SABANG - Sangat pantas jika Sabang disebut-sebut sebagai the golden island. Setidaknya bagi para pecinta laut, gradasi warna airnya akan membuat siapa pun yang pernah menceburkan diri ke dalamnya jatuh cinta dan ingin kembali lagi.

Pukul 09.30 WIB Kapal Motor Pulo Rondo bergerak meninggalkan Pelabuhan Ulee Lheu Banda Aceh. Langit sedikit cerah, Sabtu 24 Maret 2012 . Nuansa biru diselingi bercak putih awan-awan terlihat hingga ke cakrawala. Dari balik jendela kapal, sebuah pulau tampak di tengah laut. Itu Sabang. Butuh sejam perjalanan dengan kapal motor hingga merapat di Pelabuhan Balohan Sabang.

Begitu kapal merapat, puluhan kuli angkut menyerbu dermaga. Mereka menawarkan jasa membawa barang-barang penumpang. Tapi saya menolak. Ransel kecil masih sanggup saya pikul tanpa perlu bantuan kuli.
Balohan tentu saja bukan tujuan utama. Untuk menuju ke kotanya Sabang dari sini bisa naik angkutan umum. Bentuknya mini bus L300. Sebagian sudah tua. Mobil-mobil angkutan umum di Sabang ini jago di tanjakan. Apalagi jalan-jalan di pulau ini rata-rata menanjak.

Rabu, 26 September 2012

Selamat Ulang Tahun, Cinta

Selamat Ulang Tahun, Cinta
Cinta,

Happy birthday ya, mestinya aku ada di dekatmu saat ini, agar aku bisa mengatakannya sambil memelukmu, sambil menatap matamu dan sambil menyentuhmu lembut.

Agar engkau tahu di usiamu yang bertambah ada seseorang yang selalu mengharapkanmu bertumbuh, tinggi dan besar, agar banyak yang bisa bernaung di bawahmu.

Cinta,
Sekalipun engkau telah bosan mendengarnya, tapi di hari jadimu ini aku ingin mengatakan lagi bahwa aku mencintaimu, karena hanya dengan itu aku bisa membuatmu berarti, ada dan selalu hidup.

Cinta,
Saat engkau membuka mata, semoga pesan ini yang pertama kau temukan, aku ingin engkau tersenyum, tersenyum...

Luv you much...


Permata Punie | Selasa | 26 September 2012 | 12: 46 am

Senin, 24 September 2012

Altar Takdir

Altar Takdir

Malam ini aku tak perlo lorong-lorong sembunyi itu, meski aku tahu menelusurinya akan membawaku pada pengalaman hidup yang tak terdefinisi. Malam ini aku hanya ingin menyusuri altar luas yang tak bertepi ini, mencoba menikmati bayangmu dalam temaram imajinasi.

Kata dan rasa telah melebur, mencari ruang dalam jalannya sendiri. Itulah mengapa untuk kali ini lorong sembunyi itu telah kehilangan fungsi. Di noktah merah catatan garis takdir kita, banyak tanda tebal yang mesti digaris bawahi, aku dan engkau adalah dua kisah, namun terpatri dalam satu sejarah yang tak pernah usang.

Bagaimana imajinasi tumbuh tanpa henti, perlahan tapi eksponensial, sekali waktu ia menjelma menjadi teman tidur pengganti mimpi. Ia menggantikan kabut yang hinggap di punggung pagi selepas hujan. Ia mengubah sekat malam menjadi misteri yang mengagumkan.

Itulah mengapa bosan tak pernah hinggap, mesti lelah mendera membuat hati lebam, meski kadang jenuh, jemu datang pada saat yang bersamaan. Meski kadang terasa seperti hampir menyerah. Tapi imajinasi tak pernah menemui akhir.

Aku menunggumu di altar ini, di bawah temaram dunia dengan udara yang tak bersahabat, aku hampir menggigil, tapi aku tetap akan bersabar, altar ini memberiku kepastian tentang engkau.[]

Hotel Aceh | Sabtu | 15 September 2012 | 19; 29 pm

Kamis, 23 Agustus 2012

Surat Cinta untuk Kekasihku

Surat Cinta untuk Kekasihku

Dear my beloved,

Cinta, maafkan aku, setelah bertahun-tahun melalui waktu bersama aku masih sering dihinggapi berbagai pertanyaan tentangmu. Aku menyadari sekarang bukan lagi seperti masa itu, saat kita baru pertama kali jatuh cinta, saat-saat di mana kita sangat mudah mengatakan cinta, mengungkapkan rindu dan menyatakan perasaan.

Memang bukan waktu yang sebentar untuk menjalankan semua skenario takdir ini, walau aku kerap merasa seolah-olah kita baru berkenalan kemarin dan berteman hari ini. Memang, entah sudah berapa banyak cerita yang lahir dari rahim kebersamaan kita, tetapi aku seperti tak pernah kehabisan kata untuk menuliskannya. Semua cerita tentangmu seperti tak pernah kering.

Aku seperti baru bangun tidur, lalu merasakan kehadiranmu yang jauh tiba-tiba menjadi dekat, tetapi dekatnya engkau terselubung oleh tabir yang tipis, aku bisa menyaksikanmu dengan leluasa, begitu juga engkau, tapi kita terhalang oleh tabir yang tipis itu; orang-orang di sekitar kita.

Cinta, jika saja aku tidak bertumbuh, aku akan merasa sakit hati dengan semua ini, menyaksikanmu besar dari bibir orang-orang yang kukenal, merasakan engkau hadir di setiap lorong-lorong hidupku, tapi setiap itu pula kita mesti melambaikan tangan dari jauh.

Kadang-kadang aku berfikir apakah engkau tidak mencintaiku seperti aku mencintaimu? Apakah cintamu kurang besar seperti cintaku untukmu, apakah rindumu untukku tidak menggebu-gebu? Apakah...engkau tidak punya gejolak untuk mendobrak semua ini seperti yang ingin kulakukan?

Ah Cinta, setiap kali memikirkan itu dadaku terasa sesak, nafasku seperti tersengal karena menahan emosi dan perasaan. Aku kembali terlompat dalam malam sesudah pertemuan kita, masih ingatkah engkau saat kita harus berpura-pura?

Aku ingat, sebab itu bukan sekali dua kali kita melakukannya. Semuanya menjadi sempurna saat aku melewati lorong-lorong sembunyi untuk menyaksikan pelangi yang akan hadir di bening matamu. Aku tahu di senyum bibirmu ada kata yang tak perlu dijelaskan; bahwa apa yang kita rasakan sama!

Kau tahu Cinta, pertanyaan itu kadangkala menghantuiku, menyerbuku dan memaksaku untuk mengacuhkanmu. Bukankah kita memiliki dunia masing-masing? Lalu mengapa kita masih menerima peran ini, tapi aku selalu teringat pada ucapanmu bahwa tidak ada yang tidak mungkin terjadi di dunia ini.

Setiap kali pula aku mencari-cari alasan mengapa aku harus mencintaimu, mengapa aku harus menggadaikan perasaanku padamu, setiap kali pula aku tidak menemukan jawabannya. Karena yang kutahu aku harus menghormatimu, menghargaimu dan memperlakukanmu dengan baik. Ah, sesederhana itukah perasaanku terhadapmu? Tidak Cinta, aku tak ingin menyanjungmu terlalu berlebihan, tapi biarkan aku menganggapmu sebagai anugerah dalam hidupku, sebagai lelaki terindah yang pernah ada di hidupku.

Kadangkala aku juga menggugatmu, menganggapmu jahat, karena telah membiarkan aku tenggelam dalam rindu yang parah. Tapi aku juga bukan seseorang yang terlalu baik untukmu, aku pernah menyakiti perasaanmu, aku pernah berbuat salah, dan engkau memaafkanku, kupikir begitulah caramu menunjukkan rasa sayangmu, dengan tidak terlalu cepat menghukum, dengan memberiku kesempatan untuk berfikir dan bersikap.

Kau tahu Cinta, saat aku menuliskan ini aku seperti menemukan sesuatu yang hilang dari kebiasaan kita. Aku mulai jarang, bahkan hampir tak pernah mengirimkanmu lagi sura-surat cinta yang panjang, dan membuatmu membutuhkan waktu berhari-hari untuk menyelesaikan membacanya.

Aku hampir tak pernah mengirimkanmu puisi-puisi tentang perasaanku terhadapmu, aku mulai jarang melakukan semua itu, hanya karena sesuatu yang disebut rutinitas, aku menemukan itu karena engkau tak pernah meminta, engkau tak pernah mengeluh tentang itu, engkau tak pernah protes.

Maafkan aku, karena selama ini terlalu banyak meminta, menuntut waktumu yang terbatas, meminta peran yang seharusnya bukan untukku. Tapi sekali dalam hidupku, aku merasa sangat bahagia, aku seolah menjadi perempuan paling sempurna karena bisa menyambutmu, dan merengkuh tanganmu untuk kucium dengan takzim. Terimakasih telah mengabulkan semua itu untukku, aku mengerti engkau juga tak mudah melakukan semua itu.

Cinta, masih ingatkah engkau pada permintaanku bertahun-tahun lalu? Untuk bisa tua bersamamu, memotong kuku-kukumu, menciummu selalu dengan takzim, dan sujud rukuk di belakangmu? Aku selalu ingat tentang itu, meski hanya sekedar melekat dalam ingatan, tapi engkau selalu berusaha mewujudkannya satu persatu untukku.

Mungkin terlalu sederhana, tapi saat kita melakukan semua itu dengan bantuan kamuflase, semua menjadi begitu bermakna dan bernilai. Kau tahu Cinta, tak mudah menjelaskan semuanya pada tatap penuh tanda tanya orang-orang di sekitar kita. Mereka tidak akan mengerti, dan mereka tidak akan menerima. Juga pada kisah yang baru terjadi, kita perlu berterimakasih pada fatamorgana.

Mungkin engkau tidak terlalu mengerti maksudku, karena begitulah cara kita saling memahami, dengan mengurai sedikit demi sedikit kebingungan, tapi Tuhan telah begitu baik padaku, menghadirkan dua pangeran pada saat yang bersamaan di hadapanku, kalian yang telah menjadi bagian dari hidupku.

Mungkin juga terkesan naif, karena kebahagiaan itu hanya berasal dari menatapmu dalam diam, menyaksikan engkau mengirim isyarat melalui gerak panca indera di antara keramaian. Yah...semuanya menjadi tak beralasan, karena cinta itu tak perlu penjelasan.

Cinta, aku tak pernah bosan mengatakan, dan menegaskan, bahwa aku berterimakasih Tuhan telah kirimkan engkau di hidupku. Aku mencintaimu, tak ada yang berubah dari perasaanku, meski aku tahu, aku tak bisa mencintaimu dengan terlalu sempurna. Aku ingin tua denganmu....


Yours!

23:14 pm | 22 Agustus 2012

Senin, 09 Juli 2012

Tak Kunjung Kering

Sekali lagi Tuhan, aku ingin tersungging, sekedar untuk mentertawakan kebodohan demi kebodohan ini. Tetapi pada saat yang bersamaan setitik embun mengalir, bercampur bersama keringat asin yang tak kunjung kering.

Permainan ini tampaknya tak akan segera usai, sementara aku tak lagi punya suara bahkan sekedar untuk sekedar berdesis. Teriakanku semakin perlahan, nafasku lebih sering terpenggal, hingga kadang aku bertepi untuk mencari jeda, akankah semuanya berjalan demikian cepat hingga aku tak sempat menanggalkan semua takdir ini.

Di ambang petang, aku demikian sering melihat wajah Mu hadir dalam keriuhan. Kadang aku harus bertepi, sekedar untuk menyesapi aroma perih yang tiba-tiba hinggap. Ah, semuanya terlalu rumit untuk dijabarkan, sementara keping demi keping teka-teki ini sepertinya belum menunjukkan muara.

Sekali lagi Tuhan, aku terbahak, tetapi kemudian luruh dalam asin air mata yang bercampur keringat. Tak kunjung kering!

Tuhan, selamat malam, aku berdosa!


Ini bukan tentang bagaimana mempertahankan. Tetapi tentang bagaimana memutuskan rantai agar perceraian itu terwujud. Pagi kini tak lagi berembun sebab malam terlalu kering oleh rindu. Dan senja selalu saja basah oleh kecamuk amarah. Pergantian waktu hanya berupa bait-bait puisi yang pendek, dan juga dangkal. Tuhan, semua kisah telah usai kupersembahkan kepada Mu. Maka biarkan aku lenyap dalam kisah berikutnya.

Aku belajar tersenyum dari bentuk bulan yang sabit melengkung. Sesungguhnya ia tak pernah sempurna, sebab banyak rahasia yang tersembunyi di balik lengkungan itu. Maka hadirlah purnama untuk menjelaskan sebulan sekali. Dan jika kali itu terlewat, maka aku ingin terlempar ke wajahmu yang bulat penuh. Karena di sanalah rahasia itu terakumulasi.

Wangi tubuhmu di wajahku pelan-pelan menyusut. Tapi juga pada kali ini aku harus berpura-pura untuk tak peduli. Kadang-kadang aku terlupa untuk menyembunyikanmu, kadang pula aku merasa engkau tak perlu kusembunyikan. Kadang pula aku merasa biar semua tahu, angin, embun, matahari dan kegelapan.

Kadang aku merasa, akulah gelap itu sendiri, juga matahari, juga embun dan angin. Itulah yang membawaku berani menyusuri lorong sembunyi dan membiarkan rintik-rintik air jatuh di wajahku. Sebab aku tak mampu lagi menafsirkan air mata, maka kubiarkan hujan menangis sejadinya, sementara aku cukup berdiam dari semua takdir yang tak ingin kutentang ini.

Tuhan, selamat malam, aku berdosa!

 22 Juni 2012 pukul 22:20

Sabtu, 02 Juni 2012

Pelukis Kisah

Juni masih terlalu belia. Masih ingatkah engkau pada skenario tak tertulis itu? Peran yang kemudian membuat kita menjadi sepasang pelukis kisah. Yang selalu membawa kanvas dan kuas. Meski untuk itu, kita selalu berlumur warna dari cat yang berantakan.

Juni masih sangat belia. Tetapi ia mampu mengajarkan kita makna cinta yang sesungguhnya. Untuk menghormati perbedaan, menghargai rasa. Juni mengajarkan kita untuk lebih egaliter. Lukisan itu, hampir sempurna bentuknya, semua berawal dari Juni.

Malam ini, aku kembali mendapati sebagian tubuhku berlumur wangi tubuhmu yang menggoda. Melekat bagai atsiri dan membuat berdesir ketika angin berhembus. Memacu detak hingga jantung terengah-engah. Ah, Cinta. Rahasia ini memang nikmat, tapi kerap membuat lelah.

Aku hampir sempurna melukis rupa wajahmu, tapi di sisi yang lain harus ada yang tak pernah selesai. Sebab kita tak inginkan semuanya menjadi entah. Aku Cinta, aku yang selalu mengerang gelisah. Bagai bulan yang samar oleh pucuk daun. Maka kadang aku menepi untuk berdamai dengan takdir.[]