Langsung ke konten utama

Definisi Cinta yang Tak Pernah Kita Bicarakan

Pohon rindang @ihansunrise
Apa artinya cinta?

+++

Hujan baru saja turun, rintiknya belum sempurna kering, daun-daun mungkin lebih riang sekarang setelah panas menghantamnya bertubi-tubi sejak beberapa hari ke belakang.

Aku, mematung di tepi jendela, menatap bulir-bulir hujan yang jatuh di tepi beranda. Dingin merasuk ke pori-pori, membuatku terpaksa merapatkan tangan.

Aku teringat kamu, ya, kamu yang pernah bertukar cerita tentang hujan denganku. Kamu yang selalu mengirimkan kehangatan ketika aku terserang dingin karena gigil menahan rindu. Kamu yang berubah menjadi musim-musim yang selalu kuperlukan.


+++

Apa artinya cinta?
Cinta bukanlah pertemanan, bukan tentang rasa, bukan pula soal rindu yang menggebu-gebu seperti yang sering kita bicarakan dahulu. Cinta adalah saat harus melepas dan hati rela melakukannya tanpa merasa tersakiti. Dan bibir yang selalu bisa menyunggingkan senyum saat ingatan harus terlempar ke masa lalu, ke masa di mana aku dan kamu adalah kita.

Cinta adalah membiarkan angin melaju ke seluruh penjuru tanpa pernah terpikir untuk memenjarakannya. Membiarkan laut tetap bergelombang tanpa pernah sekali pun mengharapkannya untuk diam.

Cinta adalah saat kita berhasil melatih seekor burung kemudian membawanya ke gerbang alam bebas agar ia bisa mengepakkan sepasang sayapnya dengan sempurna. Cinta adalah pohon rindang yang bibitnya berasal dari kotoran hewan liar. Setelah tumbuh bertajuk lebar, apakah patut membenci hewan-hewan itu?

Cinta adalah ketulusan, seperti butir-butir hujan yang menyesap debu penuh racun agar tak menyesaki rongga paru.

Cinta adalah apa yang tak pernah kita definisikan sebelumnya.

Komentar

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

Postingan populer dari blog ini

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

ilustrasi TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi... "Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun. Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya.  "Merahnya parah ngga?" cecarnya. "Parah!" jawabku. Jujur. Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur. Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih k

Taare Zameen Par, setiap anak adalah "bintang"

@internet SUDAH dua kali saya menonton film  Taare Zameen Par atau Like Star on Earth. Dua kali pula saya menangis. Ini di luar kebiasaan, sebab saya bukan orang yang mudah menitikkan air mata, apalagi hanya untuk sebuah film. Tapi film yang dibintangi Aamir Khan dan Darshel Safary ini benar-benar beda, mengaduk-ngaduk emosi. Masuk hingga ke jiwa. Film ini bercerita tentang bocah berusia 8-9 tahun (Darshel) yang menderita dyslexia. Dia kesulitan mengenal huruf, misalnya sulit membedakan antara "d" dengan "b" atau "p". Dia juga susah membedakan suku kata yang bunyinya hampir sama, misalnya "Top" dengan "Pot" atau "Ring" dengan "Sing". Bukan hanya itu, dia juga sering menulis huruf secara terbalik. Kondisi ini membuat saya teringat pada masa kecil, di mana saya juga sering terbalik-balik antara angka 3 dengan huruf m. Akumulasi dari "kesalahan" tersebut membuatnya tak bisa membaca dan menulis, n

Secangkir Kopi Rempah dan Sepotong Roti Lapis Daging

Bohong kalau aku tak ingin ada kamu di sini. Menikmati malam yang dingin setelah hampir seharian dibebat mendung dan diguyur hujan. Dengan isi kepala dipenuhi sulur-sulur pekerjaan yang menumpuk. Entah karena itu pula akhir-akhir ini aku merasa semakin tak nyenyak tidur. Entah karena rindu untukmu yang kian bertumpuk. Ini yang keempat kalinya aku datang ke kafe ini. Tak begitu jauh dari rumah. Selain, tempatnya juga nyaman, bebas asap rokok, tak berisik, lapang, dengan pendar-pendar lampu kekuningan yang agak sedikit temaram. Selalu ada tempat untuk membahagiakan diri sendiri. Tempat ini, mungkin saja salah satu di antaranya. Seorang pelayan pria segera menghampiri begitu aku merapatkan pantat dengan kursi kayu berpelitur cokelat muda yang licin. "Mau pesan kopi rempah?" tanyanya ramah. Aku mengangguk cepat. Ya, kopi rempah adalah tujuanku datang ke kafe ini. Selain, berencana menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tertunda. Juga untuk menghilangkan nyeri yang seja