Sabtu, 06 Oktober 2007

Lomba Menulis Essai

Lomba Menulis Essai

Kesempatan Besar Untuk Membuktikan Bahwa Anda Memang Penulis Berbakat!!!

Ikuti “Lomba Menulis Essay” dan Menangkan Total Hadiah Puluhan Juta Rupiah

Tema ”Peran Lembaga Internasional dan Nasional Terhadap Individu dan Masyarakat Korban Tsunami”

Panduan dalam menulis esai:

  • Berikan pandangan pribadi tentang bagaimana lembaga-lembaga bantuan atau pembangunan telah memberikan dampak terhadap kehidupan diri sendiri
  • Gambarkan dan analisa peran dan dampak langsung dari kehadiran ADB, BRR atau lembaga-lembaga bantuan atau pembanguna yang lain dalam usaha rekonstruksi dan rehabilitasi di Aceh dan Nias
  • Dalam analisa tersebut, pilih satu dari sektor rekonstruksi sebagai berikut:

1. pertanian

2. perikanan

3. kesehatan

4. pendidikan

5. pembangunan ekonomi

6. infrastruktur

7. perumahan dan pemukiman

8. tata kelola pemerintahan yang baik

peraturan perlombaan

1. menggunakan bahasa indonesia yang baik dan benar

2. bersifat gagasan asli (bukan jiplakan) dan belum pernah dimuat dimedia manapun serta tidak pernah diikutkan dalam lomba apapun

3. karya tulis tidak mengandung SARA dan diskriminasi terhadap kelompok tertentu

4. peserta dibagi menjadi 2 kelompok:

1. SMU/sederajat (individu dan kelompok)

2. Mahasiswa (Individu dan kelompok)

5. setiap peserta hanya boleh mengirimkan satu naskah orisinil

6. tulisan diketik 1,5 spasi, times new roman 12, kwarto. Jumlah halaman; untuk individu 4-5 halaman, kelompok 6-8 halaman

7. untuk judul menggunakan font 14, bold dan diletakkan ditengah halaman

8. melampirkan biodata penulis (bagi kelompok melampirkan semua biodata anggotanya), alamat, telepon/hp yang bisa dihubungi, disertai dengan foto copy kartu pelajar atau kartu mahasiswa

9. semua tulisan yang dikirim menjadi hak penuh panitia dan keputusan dewan juri tidak dapat diganggu gugat

10. tiga karya terbaik dari setiap kategori akan diterbitkan dalam sebuah booklet dalam acara ”ETESP Photo Exhibition” pada tanggal 8-11 november 2007

11. para pemenang akan diumumkan adalam acara penutupan ”ETESP Photo Exhibition” pada tanggal 11 november 2007

12. karya tulis dikirim dalam bentuk hardcopy (4 eksemplar) paling lambat tanggal 20 oktober 2007 (cap Pos) dan juga melalui email (soft copy) untuk antisipasi ke:

alamat pos : Jl. T. iskandar no. 80 a Lambhuk Ulee Kareng Banda Aceh

alamat email : tjute_konsultan@yahoo.com cc ke ihansunrise@gmail.com

13. pemenang yang berasal dari daerah akan diundang ke Banda Aceh pada acara penutupan ”ETESP Photo Exhibition” pada tanggal 11 november 2007 (akomodasi ditanggung oleh panitia, untuk pemenang kelompok panitia hanya menangungg satu orang saja)

14. hadiah

Kategori

Pemenang I

Pemenang II

Pemenang III

SMU individu

2.000.000

1.500.000

1.000.000

SMU kelompok

4.000.000

3.500.000

2.500.000

Mahasiswa Perorangan

3.500.000

3.000.000

2.500.000

Mahasiswa Kelompok

7.500.000

6.000.000

4.500.000

untuk informasi silahkan hubungi ke no 0813-60504909 atau 0852-76081046

15. kegiatan ini dilaksanakan oleh ETESP ADB (Asian Development Bank) dan di organize seluruhnya oleh Tjute (Konsultan, Event Organizer dan Promotion)

Kamis, 04 Oktober 2007

Kepada matahari dan bulan

Kepada matahari dan bulan

Matahari,

Mengertikah kau arti kegelisahan ini

Aku hanya takut mendung akan terus memeluk mu

Dan aku kehilangan hangat mu seperti subuh 29 september itu

Aku melihat cahaya bergerai diwajah mu

Menggelantung seruling-seruling merdu

Berdendang indah di telingaku

Menggelitik urat-urat saraf

Purnama,

Aku hanya ingin menatap mu dari atas pasir berkilau itu

Memandang hitam mata mu dengan seribu gejolak

Mendekap dan biarkan cahaya membasuh jiwa kita

Ini bukan kegelisahan biasa

Yang bisa diterjemahkan dengan kata

Ini bukan ketakutan biasa

Yang bisa diterjemahkan dengan gigilan

Lamdingin, 2007-10-01

09:48 am

Elegi Dua Hati

Elegi Dua Hati


Tuhan,

Jika Kau berikan manusia dua hati

Apa mereka bisa mencintai dua hati yang berlainan?

Apa ada jaminan hati mereka tak bercabang lagi

Menjadi tiga, empat dan seterusnya?

Tuhan,

Seperti apakah ketulusan?

Seperti apakah kesetiaan?

Seperti apakah ...

Tuhan ...

Lamdingin, 30-01 Oktober 07

09:17 am

Rendezfous

Rendezfous

Pada pertemuan sehabis magrib

Langit yang masih basah dan tempias yang belum kering

Aku seperti pernah melihat laki-laki itu

Samar-samar bagai kelebat bayang

Yang jelas kami sama-sama tergelak

Saat ia mengatakan

Ternyata kamu seorang perempuan

Iya,

Dia menyapaku sebagai laki-laki beberapa hari lalu

Ia perkenalkan aku dengan Cordelia-nya

Padanya aku ucapkan selamat

Karena telah berikan aku inspirasi

Untuk memulai puisi ini

Lamdingin, 30 Sep. 07

10:02 pm

Lakon Diri

Lakon Diri

Aku sendiri yakin

Tidak ada kesedihan yang kekal

Begitu juga dengan kesenangan

Hargailan nafsu

Karena darisanalah hidup terus berlanjut

Genggamlah matahari

Yang kau namai jiwa

Hiduplah dengan itu

Serupa air yang terus mencari muara

Tak pernah berhenti

Tak pernah merasa lelah

Aku selalu menyemangati diri

Dengan segudang cinta yang kupunya

Dengan sejuta kasih sayang yang ku terima

Kadang juga dengan nafsu yang ku miliki

Adakah hidup ini lebih indah selain dari mimpi-mimpi?

Lamdingin, 29 Sep. 07

08:10 pm

Obrolan Subuh

Obrolan Subuh


Proses selalu ada masa habisnya

Entah berakhir dengan kesuksesan, bisa pula dengan kegagalan

Kau mencuci otak ku dengan kecemburuan-kecemburuan baru

Melahirkan seribu padang bunga di subuh yang basah

Memberikan keyakinan bahwa hidup adalah kumpulan pelangi

Warna-warni bagi yang mencintai dan dicintai

Lamdingin, 29 Sep. 07

08:04 pm

Arti sebuah kesabaran

Arti sebuah kesabaran
Sebagai ilustrasi ringan saya pernah mengalami waktu-waktu yang boleh dikata sangat menyebalkan, saya bahkan sampai menangis saking kesalnya, pasalnya sangat sepele sekali, seseorang yang sudah berjanji akan menghubungi saya ternyata tidak menepati janjinya pada waktu itu karena kesibukannya yang padat. Bagai cacing kepanasan saya terus gelisah, bertanya-tanya mengapa harus ada waktu-waktu yang tidak mengenakkan seperti saat itu.

Namun ada ilustrasi lain lagi yang menurut saya sangat luar biasa dampaknya, berpengaruh sangat tidak baik bagi masa depan seseorang dan dalam hubungannya dengan orang lain. Yang sampai sekarang saya terus bertanya-tanya dalam hati dan menyesalkan dalam hati, ah, jika saja ia sedikit mau lebih sabar.

Beberapa bulan yang lalu saya dan teman-teman mendirikan sebuah usaha kecil-kecilan, kami berjumlah enam orang, tiga laki-laki dan tiga perempuan. Beruntungnya saya termasuk organ inti dalam usaha tersebut sehingga saya bisa bebas berkreativitas dan mengeluarkan ide-ide demi kemajuan usaha tersebut. Secara riil bisa dikatakan penggerak roda usaha tersebut hanya saya dan seorang teman yang menjabat posisi sebagai direktur, apa, bagaimana, dan akan dibawa kemana usaha tersebut juga sudah jelas tujuannya. Tiada hari yang kami lewati tanpa diskusi yang tujuannya hanya satu, bagaimana usaha ini bisa berkembang pesat? Entah itu dimobil, dirumah, dijalan, disekolah, bahkan diwarung kopi atau dipantai. Kami senang membicarakan semua itu karena kami sangat yakin usaha ini endingnya akan sukses.

Namun, dalam perjalanannya, ada satu orang teman yang boleh dibilang kurang terlibat dalam setiap diskusi yang kami lakukan, hampir tidak pernah memberikan ide-ide, dan “uniknya” selalu menjawab “apa ya?” saat ditanya punya ide apa? Bisa melakukan apa? Dan apa rencana kedepan untuk usaha ini? Ini bukanlah aset yang menguntungkan pikir saya, tetapi saya tidak pernah mengutarakan pendapat itu kepada siapapun, hingga saya mencoba mencari alternatif lain yang pas untuknya dan kami sepakat menjadikannya sebagai bendahara saja di organisasi tersebut karena memang latar belakang pendidikannya ekonomi.

Namun, persoalan tidak hanya sampai disitu, suatu hari saya menyuruhnya untuk menyusun timeline kegiatan yang tinggal diatur waktu menit per menitnya saja, tetapi....teman itu juga tidak bisa. Lama kelamaan semua teman-teman juga merasakan ke-aneh-an, setiap kali kami berdiskusi ada yang tidak nyambung rupanya, kita sudah sampai ke L terpaksa harus balik ke D lagi. Dan ini terus berulang, hingga akhirnya sepakat bahwa ia hanya sebagai pelengkap saja dilembaga ini, sejujurnya kami tidak inginkan ini tetapi mau bagaimana lagi. Tetapi walaupun begitu soal salary dan fee kita sudah sepakat untuk 6 orang ini akan sama setiap bulannya. Intinya kita tidak ingin melakukan perbedaan kepada siapapun.

Hukum alam ternyata tak pernah habisnya, yang tidak tahan dengan kondisi sulit, yang ingin memperoleh hasil secara instant, yang tidak mau berpayah-payah, ia akan tereliminir sendiri. Itulah yang terjadi dengan teman tadi, suatu hari ia mengeluhkan kondisi lembaga yang menurutnya jalan di tempat, belum mampu menggaji karyawannya secara tetap, dan ia tidak bisa bertahan dengan kondisi seperti itu.

Dalam meeting itu kami semua terdiam, merenungi, yah, apa yang dikatakannya memang benar, lembaga kami masih sangat merah, seperti bayi yang baru lahir, usianya saja belum sampai tiga bulan. “untuk itulah kita memerlukan orang-orang kreatif disini, yang bisa memberikan ide dan terobosan brilian untuk kemajuan usaha kita, kita semua menyadari kesulitan seperti yang dirasakan oleh teman-teman, tapi apakah ada yang instant di dunia ini?” ucap saya bertanya entah kepada siapa.

Semua terdiam, sibuk dengan pikirannya masing-masing. Entah apa yang mereka pikirkan. Singkat cerita sampai hari ini teman itu tidak pernah datang lagi untuk berdiskusi bersama kita.

Satu hal yang sangat kami sesalkan adalah, saat dia meninggalkan kami, lembaga tersebut sudah ada beberapa proyek yang jumlahnya lumayan untuk permulaan, sampai-sampai kepada direktur saya sering mengatakan “jika saja dia mau bersabar beberapa hari lagi, tentu kita akan menikmati bersama-sama jerih payah ini.”

Dua ilustrasi diatas adalah contoh kecil, bisa dialami oleh siapa saja dan lembaga mana saja. Tetapi yang perlu dikaji adalah efek domino dari sebuah sikap tadi.

Pada Ilustrasi pertama yang merasakan dampak dari ketidak sabaran itu hanya saya sendiri, korban perasaan, dan hanya pada waktu itu saja. Tetapi pada ilustrasi kedua pengaruhnya sangat luar biasa sekali, bukan hanya pada diri sendiri tetapi juga pada orang lain, bagaimana sikap seseorang ternyata sangat berpengaruh pada proses berfikir kreatif orang lain.

Inilah yang sangat jarang dipahami oleh sebagian besar orang, melakukan kesalahan tanpa memperhitungkan untung ruginya, lalu, apakah kita masih berani berfikir bahwa orang akan tetap memerlukan kita untuk memperlancar usahanya? Untuk mengembangkan bisnis?

Siapa yang tidak pernah mencicipi lezatnya ayam goreng KFC? Gurihnya, renyahnya, nyaris sempurna. Sampai-sampai semua orang rela antri hanya untuk sepotong ayam goreng (termasuk anda). Tetapi siapa yang peduli perjuangan berat sang kolonel saat pertama kali memulai usahanya? Kolonel tersebut memulai usahanya pada usia diatas 60 tahun, menawarkan resep ayam gorengnya lebih dari seribu restoran makanan dan baru diterima pada restoran ke 108, bisa anda bayangkan betapa jumlah restoran mkanan pada waktu itu tidak sebanyak sekarang? Dan dia baru menikmati hasil kerja kerasnya pada usia 90 tahun. Pertanyaannya sangat sederhana, bagaimana bila kolonel tersebut patah semangat saat menawarkan resepnya pada restoran yang 107 dan dia tidak mencoba lagi? Jawabannya juga sederhana, kita tidak pernah melihat ada gambar kakek tersenyum di Simpang Lima Banda Aceh.

Semua gambaran diatas hanya media untuk memotivasi semangat kita, bahwa tidak ada perjuangan yang sia-sia. Jauh dekatnya kesuksesan hanya ditentukan oleh seberapa tekun dan kreatifnya kita. Bukan pada besarnya biaya yang kita keluarkan. Artinya, siapapun akan sukses, bila ia pandai mengelola potensi yang ada dalam dirinya. Tetapi, pernahkah kita berfikir bahwa kegagalan juga bisa hadir oleh kesalahan yang sangat sepele, begitulah orang-orang yang tidak menghargai “proses”.

[i]



[i] Lamdingin, 29 Sep. 07

07:58 pm