Langsung ke konten utama

Saya Berasal darimana?

begitu mata terbeliak langsung menyambar hand phone mungil yang diletakkan didekat bantal tidur, masih pukul enam lebih tiga menit, merasa kepagian sayapun kembali memejamkan mata, dengan harapan sedikit bunga-bunga tidur akan kembali hadir. kembali mata terbuka, ternyata belum tepat pukul tujuh, kembali saya tidur lagi dan bangun lagi tepat pukul tujuh, lalu segera meraih handuk dibelakang pintu, turun ke bawah dan mandi.
selesai mandi naik ke atas lagi dilantai dua, bersiap-siap, memakai rok (tanpa atasan) langsung memakai bedak, menyisir rambut dan menggunakan scarf, baru setelah itu memakai baju, lalu terakhir kerudung. pukul setengah delapan pas beberapa buah buku sastra dan buku tulis saya masukkan ke ransel, setelah lebih dulu dijejali dengan sebuah tas plastik berisi perlengkapan mandi dan segala accesoriesnya, ada dua buah shal, yang satu warna merah dan satu warna hitam, ada satu sapu tangan besar, ada....banyak sekali, tak jarang teman-teman menyebutnya gerobok alias lemari.
setelah semua perlengkapan dirasa cukup kembali turun kebawah dan lantas keluar, menyusuri jalan, menunggu angkutan umum yang akan mengangkut ku menuju kampus jantong hatee rakyat Aceh, Universitas Syiah Kuala, tepatnya di ruang RKU 3 ruang sembilan. setidaknya begitulah alamat yang diberikan oleh seorang dosen senior kemarin sore saat saya menanyakan kejelasan tempat untuk pertemuan pagi ini.
peristiwa pagi ini adalah lanjutan dari obrolan awal bulan september yang lalu, saat seorang dosen senior di fkip Unsyiah menawarkan kepada saya untuk ikut dalam diskusi dengan adik-adik di kelas sastra dan bahasa indonesia FKIP Unsyiah. hm...tawaran yang menarik dan tidak ada salahnya dicoba, bukan hanya saya tetapi juga ada dua teman lainya lagi; Eqy dari FLP NAD dan Herman dari Harian Aceh, lantas saya, berasal darimana? saya bukan berasal dari komunitas penulis apapun, makanya tak heran dalam sessi perkenalan saya dikenalkan sebagai orang yang "besar diluar", diluar manakah itu? saya sendiri tidak tahu, huhuhu...anak jalanan juga ternyata saya ini...
begitulah, diskusinya berjalan dengan menarik dan santai, antusias adik-adik di kelas sastra tersebut patut diacungi jempol, dan tentu saja pemaparan-pemaparan yang diberikan oleh ketiga senior saya (pak MUkhlis, Herman dan Eqy) merupakan hal yang sangat luar biasa. saya sangat tidak ada apa-apanya dibandingkan mereka-mereka itu, hm...
tapi... sayang sekali diskusi yang menarik itu terpaksa harus di pending sampai setelah lebaran, padahal saya masih berharap agar jam hari ini jangan dulu usai. hm...tapi ya ngga apa-apa jugalah...toh saya juga harus mengerjakan pekerjaan lain yang juga sudah mendesak dan mepet.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.