Langsung ke konten utama

Cincin Kawin*



cincin kawin @geraicincin.com
Juga pada kali itu, semestinya waktu bukanlah miliknya sendiri. Tetapi milik berdua. Ia dan istrinya. Lima tahun lebih mereka bersama, diijab kabulkan untuk menghabiskan waktu bersama-sama. Menikmati kesenangan dan suka cita bersama. Begitu pula halnya dengan kesedihan dan kesakitan. Tetapi mengapa harus ada yang terlewati? Untuk dinikmati sendiri-sendiri. Tanpa ia dan istrinya.

Di tempat ini, pertanyaan “mengapa” kerap hadir bukan sebagai basa-basi. Tetapi adalah bentuk lain pertanyaan atas ketidak mengertian sikap dan keraguan. Maka, jawaban itu hanya ia temukan di tempat ini. Atas nama kesembuhan. Maka ia menikmati waktu sendiri. Tanpa istrinya.


Di tempat ini, kamar kecil ukuran 2 x 3 yang disulap menjadi perpustakaan mini sekaligus ruang kerja, tergantung sebuah pigura berukuran 20 inci foto pernikahan mereka lima tahun dua bulan sepuluh hari yang lalu. Ia menghabiskan waktu berjam-jam lamanya, untuk mencari jawaban pada berpuluh-puluh buku yang terpajang rapi di rak-rak. Namun pada lembaran-lembaran buku filsafat tidak ia temukan jawaban atas pertanyaan tersebut. Pada buku ilmu sosialpun ganjalan hatinya tidak terpecahkan. Bahkan pada buku agama sesuai dengan yang mereka anut. Jawaban itu seperti labirin. Tak tau punca dan pangkalnya.

Lelaki itu terduduk. Di kursi rotan berwarna coklat muda yang masih berkilat meski usianya telah bertahun-tahun. Itu karena ia rajin mem-peliturnya setip kali lebaran tiba. Matanya menerawang, memandang langit-langit rumahnya yang putih namun telah dipenuhi bercak-bercak kecoklatan. Tangannya menangkup tepat di bawah dagunya yang runcing. Sekali menunduk pandangannya tertohok pada sekerat logam yang melingkar di jari manis sebelah kanannya.

Cincin kawin yang telah bertengger selama lima tahun lebih di sana. Mas london dua puluh empat karat yang beratnya cuma satu mayam. Sudah sedikit peyot dan pudar. Ia melepas cincin tersebut dan menimang-nimangnya. Memperhatikan di mana letak keistimewaan cincin tersebut sampai-sampai banyak orang memujanya dan menjadikannya begitu sakral. Begitu pula dengan istrinya. Rasanya tidak ada. Ia merasa aneh. Dan marah!

Karena benda itulah ia dan istrinya kerap bersitegang di pagi hari atau menjelang malam ketika ia baru pulang bekerja. Gara-gara cincin itu istrinya sering menuduh dirinya tak lagi mencintainya. Gara-gara cincin itu istrinya sering menduga-duga kalau ia punya simpanan. Gara-gara cincin itu ia sering dikata-katai, tak rela dengan perkawinan mereka. Gara-gara cincin itu istrinya sering marah tanpa sebab.

Berkelindan bingung dalam benaknya. Istrinya bilang cincin itu adalah simbol cinta. Tetapi mengapa selalu keributan diantara mereka berawal dari cincin itu. bukankah cinta harusnya memberikan rasa nyaman dan rasa pengertian? Istrinya bilang dengan cincin itu mereka akan saling mengingat. Tetapi mengapa lebih sering rasa curiga yang didengungkan dalam hati istrinya. Mengapa?

Lelaki itu pusing. Apakah sebegitu dahsyatnya benda itu? Sehingga istrinya begitu mempermasalahkannya bila sekali saja ia lupa memakai cincin itu ketika berangkat kerja. Apakah kesetiaan dan cinta hanya sebatas simbolik semata?

“Bang?” Pekikan kecil istrinya buyarkan lamunan lelaki tersebut. Ia tersentak dan cincin kecil miliknya terjatuh, menggelinding ke bawah lemari buku.
Lelaki itu bangkit menuju lemari kecil di sebelahnya, lalu ia berjongkok dan tangannya meraba-raba di bawahnya.
“Bang?” Teriak istrinya lagi, dari dalam kamar.
“Iya. Sebentar!” Teriak lelaki tersebut sambil terus menggapai-gapai mencari cincinnya.
“Abang.....!”
Lelaki itu mendengus. Sebal. Kakinya melangkah kesal menuju kamar tidur mereka.
“Ada apa?” Tanyanya kaku.
Istrinya diam. Mulutnya bergerak-gerak seperti ingin mengatakan sesuatu. Tetapi melihat wajah suaminya yang ditekuk ia tampak ragu.
“Ada apa?” Ulang suaminya lagi dengan suara yang lebih lembut.
“Aku mau minta maaf. Aku tidak bermaksud mencurigai abang terus-terusan...tapi....” Perempuan itu mulai berujar, namun secepat kilat matanya menuju pada jari manis sebelah kanan suaminya. “ Mana cincin kawin abang?” Suaranya kembali melengking.

Lelaki itu tersentak dengan lengkingan istrinya. Dan refleks ia mengangkat tangan kanannya. Ingatannya kembali pada cincin kawin yang menggelinding ke bawah lemari buku tadi.

“Di bawah lemari buku. Jatuh tadi,” jawabnya.
“Abang sengaja kan? Abang memang tidak menganggap cincin itu penting. Dengan begitu abang sama saja meremehkanku.” Dengus istrinya murka.

Perempuan itu berbalik, mukanya ditekuk sedemikian rupa. Ia berharap suaminya akan meminta maaf dan mengatakan ia tidak sengaja telah menjatuhkannya dan bla...bla..... Tetapi ketika ia membalikkan badan suaminya telah menghilang. Ia semakin kesal.

Pun pada kali lainnya. Istrinya seolah hanya bertugas untuk menjaga cincin kawin itu bertengger di jari manis suaminya. Pagi-pagi sekali ketika suaminya akan masuk ke kamar mandi, istrinya yang sedang masak di dapur masih sempat-sempatnya memperhatikan tangan suaminya.

“Mana cincin kawin abang? Kok dilepas?” Tanyanya sambil menanak nasi.
“Mau mandi untuk apa bawa-bawa cincin kawin” jawab suaminya santai.
Diluar dugaan, istrinya menganggap jawaban itu serius. Ia menghentikan pekerjaannya sejenak, lalu mencegat suaminya yang sudah membuka pintu kamar mandi. Ia menarik napas, antara sedih dan kesal.
“Cincin ini adalah simbol dari cinta kita bang, kalau kita melepaskannya sebentar saja, itu berarti kita telah melepaskan cinta kita.”
“Aku menikah dengan kamu, bukan dengan cincin ini. Istriku kamu, bukan cincin ini. Kalau cincin ini hilang, masih bisa dibeli, kalau kamu hilang, aku mau cari di mana?” Jawab suaminya sewot yang tak habis pikir dengan ucapan istrinya.
“Abang selalu saja cari pembenaran diri.” Dengus istrinya merasa kalah.
“Sudah, pagi-pagi jangan berdebat. Aku mau mandi. Nanti bisa terlambat ke kantor.”
Dan begitulah, mestinya tidak ada waktu yang dilewatkan begitu saja tanpa ia dan istrinya. Tapi itu berulang-ulang kali terjadi. Dan selalu, tempat ini menjadi pilihan bagi ia menikmati waktunya sendiri. Tanpa istrinya.
Tapi, kali ini dan seterusnya mungkin waktu akan terus miliknya sendiri. Tanpa ia dan istrinya. Sebab kata istrinya, jika ia tak memakai cincin itu berarti ia sudah tak mencintai istrinya lagi.

Ia bingung bagaimana menjelaskan bahwa ia amat sangat mencintai istrinya, tanpa ataupun dengan cincin kawin itu. Tak pernah sedetikpun punya keinginan untuk melupakan dia di hatinya. Apalagi untuk melirik perempuan lain. Bukan, bukan karena tak ada yang mau lagi dengannya, tapi karena memang ia sangat mencintai istrinya.

Di tempat ini, di kamar kecil yang disulap menjadi perpustakaan mini. Ia terus merenung. Mencari jawaban atas segala pertanyaan yang berkelebat dalam benaknya. Tetapi kali ini bukan bagaimana ia mencari jawaban atas sikap istrinya, tetapi bagaimana caranya supaya ia bisa mengeluarkan cincin kawinnya yang jatuh ke dalam wc saat ia mandi sore tadi. Supaya istrinya benar-benar percaya bahwa ia sangat mencintainya.(*)

01-11-09
Dini hari

* cerpen ini sudah pernah dimuat di koran Harian Aceh, edisi Ahada 11 April 2010 

Komentar

  1. Cincin kawin....dimanakah kamu berada,aku lelah mencari mu sampai putih rambut dikepala he..heee becanda hai....Saleum menturi dari nedy.

    BalasHapus
  2. salam kenak kembali Mr. Nedy, mungkin cincin kawinmu ditemukan di tulisan-tulisan berikutnya hehehhe

    BalasHapus

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

I Need You, Not Google

Di era kecanggihan teknologi seperti sekarang, mudah sekali sebenarnya mencari informasi. Kita tinggal buka mesin pencari, memasukkan kata kunci, lalu bisa berselancar sepuasnya.
Saking mudahnya, kadang-kadang kalau kita bertanya pada seseorang dengan topik tertentu tak jarang dijawab: coba cari di Google. Jawaban ini menurut hemat saya ada dua kemungkinan, pertama yang ditanya benar-benar nggak tahu jawabannya. Kedua, dia malas menjawab. Syukur dia nggak berpikir 'ya ampun, gitu aja pake nanya' atau 'ni orang pasti malas googling deh'. 
Kadang kita kerap lupa bahwa kita adalah manusia yang selalu berharap ada umpan balik dari setiap interaksi. Ciri makhluk sosial. Seintrovert dan seindividualis apapun orang tersebut, dia tetap membutuhkan manusia lain.
Selengkap dan sebanyak apapun 'jawaban' yang bisa diberikan oleh teknologi, tetap saja dia tidak bisa merespons, misalnya dengan mengucapkan kalimat 'gimana, jawabannya memuaskan, nggak?' atau saat dia me…