Langsung ke konten utama

Surat Cinta untuk Kekasihku


Dear my beloved,

Cinta, maafkan aku, setelah bertahun-tahun melalui waktu bersama aku masih sering dihinggapi berbagai pertanyaan tentangmu. Aku menyadari sekarang bukan lagi seperti masa itu, saat kita baru pertama kali jatuh cinta, saat-saat di mana kita sangat mudah mengatakan cinta, mengungkapkan rindu dan menyatakan perasaan.

Memang bukan waktu yang sebentar untuk menjalankan semua skenario takdir ini, walau aku kerap merasa seolah-olah kita baru berkenalan kemarin dan berteman hari ini. Memang, entah sudah berapa banyak cerita yang lahir dari rahim kebersamaan kita, tetapi aku seperti tak pernah kehabisan kata untuk menuliskannya. Semua cerita tentangmu seperti tak pernah kering.

Aku seperti baru bangun tidur, lalu merasakan kehadiranmu yang jauh tiba-tiba menjadi dekat, tetapi dekatnya engkau terselubung oleh tabir yang tipis, aku bisa menyaksikanmu dengan leluasa, begitu juga engkau, tapi kita terhalang oleh tabir yang tipis itu; orang-orang di sekitar kita.

Cinta, jika saja aku tidak bertumbuh, aku akan merasa sakit hati dengan semua ini, menyaksikanmu besar dari bibir orang-orang yang kukenal, merasakan engkau hadir di setiap lorong-lorong hidupku, tapi setiap itu pula kita mesti melambaikan tangan dari jauh.

Kadang-kadang aku berfikir apakah engkau tidak mencintaiku seperti aku mencintaimu? Apakah cintamu kurang besar seperti cintaku untukmu, apakah rindumu untukku tidak menggebu-gebu? Apakah...engkau tidak punya gejolak untuk mendobrak semua ini seperti yang ingin kulakukan?

Ah Cinta, setiap kali memikirkan itu dadaku terasa sesak, nafasku seperti tersengal karena menahan emosi dan perasaan. Aku kembali terlompat dalam malam sesudah pertemuan kita, masih ingatkah engkau saat kita harus berpura-pura?

Aku ingat, sebab itu bukan sekali dua kali kita melakukannya. Semuanya menjadi sempurna saat aku melewati lorong-lorong sembunyi untuk menyaksikan pelangi yang akan hadir di bening matamu. Aku tahu di senyum bibirmu ada kata yang tak perlu dijelaskan; bahwa apa yang kita rasakan sama!

Kau tahu Cinta, pertanyaan itu kadangkala menghantuiku, menyerbuku dan memaksaku untuk mengacuhkanmu. Bukankah kita memiliki dunia masing-masing? Lalu mengapa kita masih menerima peran ini, tapi aku selalu teringat pada ucapanmu bahwa tidak ada yang tidak mungkin terjadi di dunia ini.

Setiap kali pula aku mencari-cari alasan mengapa aku harus mencintaimu, mengapa aku harus menggadaikan perasaanku padamu, setiap kali pula aku tidak menemukan jawabannya. Karena yang kutahu aku harus menghormatimu, menghargaimu dan memperlakukanmu dengan baik. Ah, sesederhana itukah perasaanku terhadapmu? Tidak Cinta, aku tak ingin menyanjungmu terlalu berlebihan, tapi biarkan aku menganggapmu sebagai anugerah dalam hidupku, sebagai lelaki terindah yang pernah ada di hidupku.

Kadangkala aku juga menggugatmu, menganggapmu jahat, karena telah membiarkan aku tenggelam dalam rindu yang parah. Tapi aku juga bukan seseorang yang terlalu baik untukmu, aku pernah menyakiti perasaanmu, aku pernah berbuat salah, dan engkau memaafkanku, kupikir begitulah caramu menunjukkan rasa sayangmu, dengan tidak terlalu cepat menghukum, dengan memberiku kesempatan untuk berfikir dan bersikap.

Kau tahu Cinta, saat aku menuliskan ini aku seperti menemukan sesuatu yang hilang dari kebiasaan kita. Aku mulai jarang, bahkan hampir tak pernah mengirimkanmu lagi sura-surat cinta yang panjang, dan membuatmu membutuhkan waktu berhari-hari untuk menyelesaikan membacanya.

Aku hampir tak pernah mengirimkanmu puisi-puisi tentang perasaanku terhadapmu, aku mulai jarang melakukan semua itu, hanya karena sesuatu yang disebut rutinitas, aku menemukan itu karena engkau tak pernah meminta, engkau tak pernah mengeluh tentang itu, engkau tak pernah protes.

Maafkan aku, karena selama ini terlalu banyak meminta, menuntut waktumu yang terbatas, meminta peran yang seharusnya bukan untukku. Tapi sekali dalam hidupku, aku merasa sangat bahagia, aku seolah menjadi perempuan paling sempurna karena bisa menyambutmu, dan merengkuh tanganmu untuk kucium dengan takzim. Terimakasih telah mengabulkan semua itu untukku, aku mengerti engkau juga tak mudah melakukan semua itu.

Cinta, masih ingatkah engkau pada permintaanku bertahun-tahun lalu? Untuk bisa tua bersamamu, memotong kuku-kukumu, menciummu selalu dengan takzim, dan sujud rukuk di belakangmu? Aku selalu ingat tentang itu, meski hanya sekedar melekat dalam ingatan, tapi engkau selalu berusaha mewujudkannya satu persatu untukku.

Mungkin terlalu sederhana, tapi saat kita melakukan semua itu dengan bantuan kamuflase, semua menjadi begitu bermakna dan bernilai. Kau tahu Cinta, tak mudah menjelaskan semuanya pada tatap penuh tanda tanya orang-orang di sekitar kita. Mereka tidak akan mengerti, dan mereka tidak akan menerima. Juga pada kisah yang baru terjadi, kita perlu berterimakasih pada fatamorgana.

Mungkin engkau tidak terlalu mengerti maksudku, karena begitulah cara kita saling memahami, dengan mengurai sedikit demi sedikit kebingungan, tapi Tuhan telah begitu baik padaku, menghadirkan dua pangeran pada saat yang bersamaan di hadapanku, kalian yang telah menjadi bagian dari hidupku.

Mungkin juga terkesan naif, karena kebahagiaan itu hanya berasal dari menatapmu dalam diam, menyaksikan engkau mengirim isyarat melalui gerak panca indera di antara keramaian. Yah...semuanya menjadi tak beralasan, karena cinta itu tak perlu penjelasan.

Cinta, aku tak pernah bosan mengatakan, dan menegaskan, bahwa aku berterimakasih Tuhan telah kirimkan engkau di hidupku. Aku mencintaimu, tak ada yang berubah dari perasaanku, meski aku tahu, aku tak bisa mencintaimu dengan terlalu sempurna. Aku ingin tua denganmu....


Yours!

23 Agustus 2012 pukul 11:09

Komentar

  1. salam BLOGGER dan salam kenal dari blogger asal kota padang, sumatra barat.
    maaf,saya masih Newbie
    yozidahfilputra.blogspot.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. salam kenal kembali :-) bagaimana kabarnya sumatera barat?

      Hapus
  2. mantap surat cinta nya gan... :D
    salam kenal... silahkan maen2 juga ke rumah maya saya di http://bercintadenganpagi.blogspot.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal juga bro, thx sudah berkunjung ke rumah sayaa....

      Hapus
  3. Salam kebal bg ihan :D

    Wuuiihhhh....Meleleh jiwa raga pas baca puisi nya, kereen banget :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehehe salam kenal juga Roza, nama kamu mengingatkanku pada temen SMU ku dulu

      Hapus

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.