Langsung ke konten utama

Aku dan Koran Bekas


SAAT masih duduk di bangku Sekolah Dasar dulu, nyaris tak ada koran bungkusan cabai atau bawang yang terlewatkan olehku. Meski keadaannya sudah lusuh namun tetap menjadi sumber bacaan yang mengasyikkan.

Paling menyenangkan saat musim lebaran tiba, karena koran-koran yang digunakan untuk membungkus baju baru ukurannya lebih besar. Otomatis bahan bacaan yang bisa kubaca lebih banyak dan bervariasi.

Ketika itu orang tuaku tinggal di pelosok kampung yang bahkan listrik pun belum ada. Jangankan bicara mengenai sumber bacaan yang berlimpah, bahkan gedung sekolah kami waktu itu sebagiannya hancur karena ter(di)bakar saat konflik tahun 90-an. 


Aku menyaksikan sendiri saat lidah api dan asap tebal muncul dari salah satu ruangannya. Waktu itu aku belum bersekolah. Aku menyaksikannya dari dalam keranjang rotan di jok belakang motor ayah. Pengalaman mengungsi pertama di usia yang belum genap lima tahun.

Saat jam istirahat di bekas reruntuhan itulah kami bermain pasar-pasaran dan bongkar pasang. (jangan tanya kenapa kami main itu di sekolah )

Rabu, 23 Agustus lalu, bersama beberapa teman di komunitas, aku mengunjungi Ruang Memorial Perdamaian di Kantor Kesbangpol Aceh di Banda Aceh. Melihat artefak konflik dan berbagai objek foto yang dipamerkan di sana, kepingan kenangan masa kecil itu hadir kembali. Memunculkan seribu gejolak di dalam hati, antara rasa senang, sedih, haru, dan marah. Perasaan sentimental yang bisa datang kapan saja.



(Laporanku tentang kunjungan tersebut bisa dibaca di sini : Melihat Artefak Konflik di Ruang Memorial Perdamaian)

Sempat terbetik di hati, jika Aceh tidak berkonflik, mungkin aku (kami) punya fragmen masa lalu yang lebih beragam. Tapi suara hati yang lain langsung menyela, bisa jadi tanpa kondisi itu kami anak-anak Aceh tidak akan tumbuh menjadi anak yang kuat dan tangguh.

Satu yang sangat kusyukuri bahwa dalam kondisi terbatas itu, selain senang bermain jitong dan patok lele, aku juga senang membaca. Meskipun hanya potongan-potongan berita di lembaran koran yang tak utuh. Yang kerap membuatku jengkel, sebab ada tulisan yang terpenggal, dan sering membuat penasaran.

Dan aku yakin --berkat karunia Allah-- kebiasaan membaca --dan mendengar haba jameun dari nenek-- itu pula yang menstimulasi diri ini menjadi sangat imajinatif. Imajinasi yang pada akhirnya membuatku bisa merangkai kata. Selalu ada kepuasan tiap kali selesai menuliskan sesuatu dari apa yang kulihat, kurasa dan kudengar. Termasuk cerita singkat ini sebagai pengantar foto di atas.

Saat masih SD pula aku sering berimajinasi --kulakukan saat pulang mandi sore yang jaraknya bisa berkilo-kilo meter-- agar kelak menjadi orang yang 'berbeda'. Entahlah, rasanya kini aku benar-benar menjadi orang yang berbeda seperti yang aku inginkan. Sebab, di antara teman-teman masa SD dulu cuma aku yang jadi blogger. 

Loc: Pustaka Ruang Memorial Perdamaian Aceh
Pict by Ibnu Syahri Ramadhan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.