Langsung ke konten utama

Lelaki Kecil Penjaja Bendera di Trotoar Jalan

Istimewa/Rahmat Aulia

"Bendera, Pak! Bendera!" 
Seorang anak merapatkan wajahnya ke sebuah mobil di persimpangan lampu merah di Simpang Kodim Banda Aceh, sore pekan lalu. Di tangannya ada sejumlah bendera Merah Putih berukuran mini.
Usianya kuperkirakan belum genap lima belas tahun. Pakaiannya tampak lusuh. Kakinya hanya beralaskan sandal jepit. Saat mendongak, nampak jelas rasa lelah menggantung di wajahnya yang terbakar matahari. 
Pemandangan itu masih bercokol di ingatanku hingga hari ini. Saat membayangkannya kembali, ada rasa terenyuh di hati ini. Sekaligus rasa geram, namun entah kepada siapa. Memang, di musim 17-an seperti sekarang ini melihat pemandangan orang berjualan bendera Merah Putih bukan hal yang aneh. Hanya saja, dilakukan oleh seorang anak seusia itu jelas tak bisa dianggap lazim.
Melihat anak tersebut kembali aku teringat pada sebuah gambar yang dikirimkan teman di grup WhatsApp. Potret seorang anak yang terduduk di trotoar jalan, tepat di saat jam sekolah pula. Anak itu juga sedang menjajakan miniatur bendera Merah Putih. 
Lebih memprihatinkan lagi, ia membiarkan kakinya yang telanjang langsung mencecap rasa panas trotoar yang terpanggang matahari. Di betisnya ada luka bakar kecil, seperti luka terkena knalpot sepeda motor.
Entah mereka anak yang sama atau tidak. Hanya saja dua potret di atas menggambarkan betapa beratnya perjuangan hidup yang harus dilalui anak tersebut. Jika kondisi ekonomi keluarganya mencukupi, harusnya ia tak perlu berpanas-panas di bawah siraman matahari untuk menjual selembar dua lembar bendera. Dan kalaupun ia menjual bendera untuk mencari penghasilan tambahan, mestinya tidak dilakukan di jam sekolah. 
Dan memang tidak ada alasan untuk tidak sekolah bukan? Apalagi pemerintah sudah menerbitkan Kartu Indonesia Pintar yang diberikan kepada anak usia 6-21 tahun dari keluarga kurang mampu, yang digunakan untuk kepastian pendidikan anak-anak Indonesia.
Bahkan baru-baru ini secara khusus telah disalurkan beasiswa kepada sekitar 20 ribu anak-anak tukang becak di Banda Aceh dan Aceh Besar. Berdasarkan berita yang kubaca di media massa, distribusi beasiswa tersebut merupakan program Indonesia Pintar yang disalurkan melalui anggota DPR RI. Setidaknya ini menjadi gambaran nyata 'Indonesia Kerja Bersama' dalam memerangi kebodohan. 
"Bendera!" kembali aku terngiang suara lelaki kecil itu saat menjajakan dagangannya kepada si pemilik mobil. Sayangnya, si pemilik mobil tampaknya tak berniat membeli. Bahkan untuk membuka kaca mobilnya pun ia enggan. Sehingga terpaksa si remaja tersebut menempelkan wajahnya dengan rapat, agar bisa mengintip pemiliknya di dalam sana. Saat lampu menyala hijau, dan mobil perlahan bergerak, masih sempat kudengar suara lirihnya merintih, "belilah, Pak."[]

Komentar

  1. Tulisan yang memikat dan dikerjakan dalam waktu singkat, eh.., rupanya menjadi juara pula. Memang terbaik deh kak Ihan. Selamat ya kak, perlu belajar banyak lagi ne sama kak Ihan tentang cara membuka tulisan yang greget gitu. :D

    BalasHapus
  2. Kadang merasa sedih juga dengan mereka, tetapi mereka lebih baik karena tidak meminta-minta!

    BalasHapus

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.