Langsung ke konten utama

Zelda Tak Pernah Datang


Aku masih di sini. Duduk menikmati angin pantai di pinggiran Ulee Lheue yang berpayung langit tanpa rembulan. Menikmati pendar-pendar cahaya dari lampu penerang jalan yang memantul ke permukaan air. Memunculkan warna pelangi semerah jingga, ungu, biru, kuning, hijau. Seperti garis-garis tak simetris di layar monitor penghitung denyut jantung pasien yang sekarat. Saat ini pasien itu mungkin adalah diriku sendiri.
Kulirik pencatat waktu digital dari layar ponsel. Hanya seperempat kurang dari pukul dua belas malam. Kusedot minuman ringan bersoda untuk membasahi kerongkongan. Rasa asam membuatku meringis. Ah, lidahku rupanya sudah tak bersahabat lagi dengan minuman seperti ini. Kucomot sepotong pisang bakar berlapis keju untuk menetralisir rasa asam.
Aku seperti tak adil pada diriku sendiri. Membiarkan jasadku termangu seorang diri seperti ini. Dikepung angin malam. Digigit nyamuk-nyamuk liar haus darah. Sementara hatiku terbang melayang jauh. Entah ke mana. Hmm, sebenarnya aku tahu. Hati dan pikiranku tertuju pada sebuah pesan elektronik yang masuk ke kotak masuk sepuluh hari yang lalu.
"Tunggu aku di kotamu. Aku akan datang menemuimu, sebelum kelopak-kelopak angsana bermekaran. Aku akan menghubungimu nanti."
Pesan itu telah mengusikku. Saban pagi usai membaca pesan itu, aku terbangun dengan hati dan perasaan penuh debar. Memeriksa ponselku, kalau-kalau ada panggilan masuk yang terlewatkan olehku.
Nyatanya hingga hari ini, belum ada tanda-tanda seseorang itu akan menghubungiku. Sementara itu aku tahu tanggal kedatangannya semakin dekat. Aku bersikukuh menahan diri untuk tidak membalas pesan tersebut, ataupun menghubunginya lewat ponsel.
"Dik, warungnya mau tutup."
Ucapan pria tua penjual jagung bakar di tepi pantai ini mengacaukan lamunanku. Aku terkesiap. Segera kulirik jam digital di ponsel. Oh, sudah lewat dua puluh lima menit dari pukul dua belas. Lampu-lampu di sekitar mulai dipadamkan. Pria itu sedang beres-beres menutup lapak dagangannya.
"Berapa, Pak?"
"Enam belas ribu saja," jawabnya ramah.
Aku menyerahkan selembar uang dua puluh ribuan. "Sisanya tak usah dikembalikan."
"Terimakasih, Dik. Semoga Allah membalasnya berlipat ganda."
"Aamiin. Bapak juga ya, semoga usahanya berkah dan lancar."
+++
Pagi ini lagi-lagi aku bangun dengan hati riuh bagai bunyi lonceng diterpa angin. Menanti kabar ini sangat menyiksaku. Memengaruhi aktivitasku. Aku jadi ingin malas-malasan saja sambil bermain puzzle block di ponsel.
"Seperti apa wajahmu sekarang, Zelda?" Tanyaku melalui pesan elektronik sebulan sebelumnya.
"Kau bahkan baru saja melihat foto terbaruku."
"Itu cuma foto, dan bisa saja menipu."
"Aku tidak pernah berubah. Setidaknya bagimu dan untukmu."
"Hmm..."
"Kamu?"
"Aku ingin berubah untukmu."
"Oh ya?"
"Ya."
"Seperti apa misalnya?"
"Aku ingin kau pangling saat melihatku nanti."
"Rima, kau selalu membuatku tak bisa bersabar untuk segera bertemu."
Hasrat ingin membuatnya pangling itulah yang mengayunkan langkahku menuju tempat spa di pusat kota. Aku menolak pintu kaca tempat itu dengan hati kian berdebar. Bukan karena aku tak pernah ke sini, melainkan karena aku merasa konyol.
Ada apa denganku? Mengapa aku harus repot-repot memastikan wajahku tidak kering dan tidak kusam saat bertemu Zelda. Aku ingin memastikan kuku-kukuku rapi dan terawat. Hal-hal yang sebelumnya sering kuabaikan. "Cinta. Itu karena cinta," secuil bisikan muncul dari sudut hatiku yang lain.
+++
12 Januari
Kicau burung dari rumah tetangga membangunkanku pagi ini. Kamarku yang sebelumnya gelap kini dipenuhi burai-burai cahaya. Aku meraih ponsel yang terselip di bawah bantal. Memeriksa pesan masuk, email, dan kotak pesan di sosial media. Hufff... tak ada satupun pesan dari Zelda. Aku menggerutu kesal.
Harusnya kemarin Zelda sudah ada di kota ini. Hari ini, 12 Januari adalah hari pertemuan penting yang harus dihadirinya. Ia akan menjadi salah seorang panelis untuk seminar bertopik energi terbarukan yang dibuat oleh salah satu instansi di tingkat provinsi. Aku sudah mendapatkan salinan materi yang sudah dipersiapkan Zelda jauh-jauh hari.
"Kau datang ya, Rima."
"Enggak, aku hanya mau bertemu denganmu. Bukan menyaksikanmu memberi ceramah di ruang dengan kerumunan orang-orang."
Perbincangan kami sebelumnya kembali membayangi.
Perbincangan itulah yang memaksaku datang ke hotel tempat pertemuan digelar. Sampai di lobi hotel, hatiku menjadi tidak karuan. Tanganku rasanya seperti menggigil, bukan oleh dinginnya ruangan karena mesin pengatur suhu. Tapi oleh rasa gugup yang tak sanggup kubendung.
Mungkin Zelda sengaja tak memberi kabar. Mungkin ia sengaja ingin memberi kejutan. Mungkin. Mungkin... Berbagai kemungkinan bermain di benakku. Berputar-putar bagai gasing.
Aku segera mendekati meja panitia. Dua perempuan muda berseragam cokelat menyambut ramah.
"Apa acaranya sudah dimulai?"
"Sudah, Bu. Dua jam yang lalu." Jawab salah satu di antara mereka.
"Oh. Hmm... sesi Pak Zelda pukul berapa?"
Seketika raut kedua perempuan itu berubah. Mereka saling pandang. Lalu seperti menggumamkan sesuatu. Aku bertanya dengan isyarat.
"Hmm... Pak Zelda... batal tampil, Bu."
"Kenapa?"
"Beliau mengalami kecelakaan beberapa hari lalu."
"Kecelakaan?"
"Iya. Kecelakaan mobil yang tabrakan dengan bus beberapa hari lalu, ada kok beritanya di koran."
Jantungku rasanya seperti berhenti berdetak. Segera kubuka ponselku dan mencari-cari berita kecelakaan beberapa hari lalu melalui surat kabar online. Sembari berharap berita itu bukan kecelakaan yang dimaksudkan si perempuan tadi. "Yang ini?" Aku menunjukkan judul berita itu.
"Iya, Bu."
Aku membaca potongan berita itu secara cepat. Di paragraf ketiga tertulis salah satu nama korban meninggal dunia yang sudah sangat kukenal. Nama yang sudah melekat di ingatanku selama bertahun-tahun. Nama yang selalu kusertakan dalam doa-doa panjang. Nama yang selalu kuidam-idamkan untuk kutemui. Zelda Zulfikar.[]
Januari 2018

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.