Langsung ke konten utama

Traveling with My Boy Bike #2: Gagal Menaklukkan Pentagon



Menjadi seorang goweser, benarlah seperti yang aku duga. Membutuhkan stamina dan fisik yang kuat. Itu kalau kita memang ingin menjadi pengayuh sepeda, yang bisa mengayuh ke mana pun hati inginkan. Si goweser pemula ini sudah kena 'batunya' gara-gara ingin menyaingi para senior. Kapok? Justru itu bikin semangat untuk gowes jadi kian berapi-api.
Ceritanya, dua minggu lalu aku mengajak teman untuk gowes di hari Minggu. Dia bilang ayuk. Kami sepakat untuk 'nebeng' sebuah klub sepeda yang hari itu sudah merencanakan mau ke Pentagon. Konfirmasinya aku dapat jelang tengah malam.
Saking semangatnya, aku lupa menanyakan di mana itu Pentagon, bagaimana rutenya, dan memungkinkan atau tidak buat pemula seperti aku. Pentagon adalah nama yang 'sexy' bagi sejumlah kalangan komunitas sepeda di Banda Aceh, khususnya komunitas sepeda gunung. Setidaknya, teman-teman di dua komunitas sepeda yang aku kenal, menyebutkan kalau Pentagon cukup berarti untuk dituju.
Lalu, di mana itu Pentagon? Bukan, bukan di Amerika, melainkan di pedalaman Indrapuri sana, di Aceh Besar. Di gugusan Bukit Barisan. Ini salah satu lokasi persembunyian tentara GAM di masa lalu. Wajar kan kalau aku jadi sangat penasaran dengan lokasi ini.
Besok paginya, usai salat Subuh aku langsung bersiap-siap. Pukul 06:30 WIB harus sudah kumpul di Blang Padang. Dari sini kami loading (pergi dengan mobil) menuju Indrapuri. Aku girang bukan kepalang, kegirangan yang hanya seusia es batu yang dikeluarkan dari freezer. Begitu cepatnya ia menyublim.
See... pemandangannya sangat menakjubkan bukan?

Sampai di Indrapuri, mobil berhenti di masjid. Parkir di sini. Inilah titik start kami. Usai berdoa kami semua mulai bergerak, pelan tapi pasti aku mulai mendayung. Mengekor senior yang menjadi kepala suku. Mula-mula tak ada kendala apa pun. Aku mengayuh dengan santai, sambil sesekali merasakan uap tubuh yang hangatnya terasa lain. Sisa demam tak jadi beberapa hari yang lalu. Meski begitu aku terus berafirmasi, i can do it, i can do it.
Tapi i can do it saja ternyata tidak cukup. Saat mulai memasuki area yang berbukit, aku mulai kewalahan. Napas mulai ngos-ngosan, keringat keluar segede-gede gaban. Bisa ditebak, posisiku jadi yang paling cembret. Terakhir, aku memilih turun dan mendorong sepedaku agar sampai ke puncak. Sementara yang lain asyik saja mendayung dengan santai.
Sampai akhirnya, untuk menuntun sepeda pun aku tak sanggup lagi. Jalanku bagai siput. Di saat yang tepat seorang senior yang sudah di puncak turun lagi untuk mengambil sepedaku. Aku? Ya ampuuuunnn... ini sebenarnya 'aib' untuk diceritakan, tapi tak apalah. Aku malah terkulai tak berdaya di pinggir jalan. Tiba-tiba pitam dan gelap. Kemudian muntah-muntah. Duh... betapa memalukan. Di tengah situasi itu, temanku malah usil meledekku. Dia bilang aku jadi begitu gara-gara nggak pakai helm dan sarung tangan. Ingin rasanya kutimpuk bokongnya dengan kerikil.
Setelah pitamnya hilang aku dan teman tadi menuju ke bukit tempat yang lainnya sudah menunggu. Kalimat yang pertama kudengar adalah: gimana, mau lanjut atau balik aja?
Menyatu bersama embun
Tanpa memedulikan 'harga diri', aku langsung jawab, balik aja deh. Dan ini lagi-lagi jadi kesempatan buat si teman untuk menggoda. Ketika balik seorang diri aku baru tahu, rute yang kami lalui tadi ternyata sudah jauh melewati Pesantren Umar Diyan. Hanya saja kami masuk dari jalur yang berbeda. Walaupun gagal ke Pentagon, tapi ada rasa puas yang hinggap di hati. Oh, ini puas yang sebenarnya, bukan dalam rangka hanya untuk menghibur diri.
Pulangnya karena sudah sendiri, kecepatan gowesnya jadi suka-suka dong. Kalau lelah aku berhenti, sambil foto-foto, atau tiduran di rumput sambil merasakan embun yang tersisa. Hhh... inilah kedekatan paling tak berjarak dengan alam. Ada kedamaian yang merasuk ke jiwa. Sisanya, aku harus menempuh jarak Indrapuri-Banda Aceh yang jauhnya lebih dari 25 kilometer. Menghabiskan hingga tiga jam waktu karena harus berhenti hingga di beberapa tempat.
Mengayuh sepeda ibarat terus mengulang-ngulang doa, suatu saat kita akan sampai pada titik yang dituju. Buatku, bersepeda bukan sekadar untuk mendapatkan 'lelah'. Tetapi cara mudah untuk bersyukur kepada Pemilik Semesta.[]

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.