Langsung ke konten utama

Berburu Oleh-oleh di Balikpapan dengan Tiket Pesawat Murah

via. tempatwisataseru.com

Mendengar nama Balikpapan, yang terpikirkan di benak kita adalah kota ini sangat dipenuhi dengan berbagai macam kegiatan industry dan pertambangan.
Namun jangan salah, di Ballikpapan ternyata banyak sekali tempat-tempat wisata menarik yang wajib untuk dikunjungi. Mulai dari hutan bakau hingga pantai, dengan ciri khas unik sehingga menjadikan Balikpapan sebagai salah satu tujuan wisata yang wajib didatangi.
Tidak heran rasanya jika kita melihat banyak orang yang memesan tiket pesawat ke Balikpapan untuk keperluan bisnis, namun kemudian betah berlama-lama di kota ini karena keindahan wisatanya.
Selain itu, melakukan perjalanan ke Balikpapan tidak lengkap pula rasanya mencicipi makanan khasnya. Di kota ini sendiri tersedia berbagai macam pilihan makanan yang bisa dicicipi langsung hingga dibawa pulang sebagai oleh-oleh. Apalagi, masih banyak yang belum tahu apakah sebenarnya Balikpapan punya kuliner khasnya sendiri.
Jadi, jika sudah memesan tiket pesawat ke Balikpapan dan sudah mengunjungi tempat-tempat wisatanya, sekarang saatnya berburu oleh-oleh apa saja yang sebaiknya dicicipi. Berikut beberapa diantaranya:
1. Mantau
via.pondokmantau.com

Mendengar nama Mantau kita pastinya akan teringat dengan kue khas dari Tiongkok. Kue yang proses pembuatannya di kukus ini ternyata merupakan salah satu oleh-oleh khas dari Balikpapan.
Di Balikpapan, Mantau diolah lagi sehingga jadi terlihat berbeda dengan Mantau dari Tiongkok. Bahkan beberapa inovasi pun dilakukan oleh pembuat Mantau di Balikapapan.
Salah satunya adalah dengan menyediakan Mantau Lada Hitam yang kini tengah populer sebagai salah satu oleh-oleh dari Balikpapan.
Apalagi jika ditambahkan dengan isi daging didalamnya, dipastikan kue Mantau khas Balikapapan ini punya cita rasa yang sangat lezat.
2. Pisang gapit

via. prokal.co

Oleh-oleh khas berikutnya dari Balikpapan adalah Pisang Gapit. Bagi masyarakat lokal Blikapapan, oleh-oleh ini disebut pisang jepit.
Pisang khas Balikpapan ini ini dibuat dengan menggunakan bahan baku pisang gepok. Pisang tersebut kemudian dibakar dengan menggunapan api dari arang. Ketika sudah matang, pisang dijepit dengan alat dari kayu dan kembali dibakar hingga menjadi lebih matang.
Nah, untuk menambah kelezatan dari pisang, biasanya pembuat Pisang Gapit akan menambahkannya dengan kuah cokelat plus aroma nangka, gula merah dan santan. Penasaran? Yuk, cicipi oleh-oleh ini langsung di Balikpapan.
3. Aneka olahan kepiting

via. bandanaku.wordpress.com

Salah satu makanan utama yang pasti akan selalu ada di Balikpapan adalah kepiting. Hampir di setiap restoran atau warung makan yang ada di Balikpapan menyediakan kepiting sebagai salah satu menunya.
Tidak heran rasanya jika kepiting ini kemudian diolah lagi, sehingga menjadi ciri khas oleh-oleh yang akan dibawa pulang bagi pendatang yang berkunjung singkat ke Balikpapan.
Berbagai oleh-oleh yang bisa dibawa pulang ini diantaranya adalah kepiting tauco, kepiting mentega, hingga kepiting lada hitam.
Namun, selain makanan tersebut, kepting di Balikapapan juga diolah menjadi makanan lainnya, yaitu menjadi abon.
Cara pembuatannya hampir sama dengan abon yang menggunakan bahan dasar populer seperti sapi atau ayam. Namun, kali ini menggunakan bahan dasar kepiting.


via abonkepiting.com

Salah satu ciri khas yang biasanya akan dirasakan saat mencicipi abon kepiting bersama nasi putih hangat adalah, tekstrunya yang halus, namun menghadirkan rasa yang lebih gurih dan nikmat, apalagi jika ditambahkan dengan olahan sambal pedas.
Dijamin, kepiting abon dari Balikpapan ini punya cita rasa yang tidak ada duanya. Nah, jika sudah memesan tiket pesawat ke Balikpapan, dan kemudian sudah puas mengunjungi tempat wisatanya, jangan lupa untuk membeli salah satu abon kepiting di Balikpapan.

Sebagai rekomendasi abon kepiting dengan merek Botting biasanya akan diburu oleh para pendatang yang sedang berkunjung ke Balikpapan untuk berwisata.[] 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

ilustrasi TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi... "Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun. Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya.  "Merahnya parah ngga?" cecarnya. "Parah!" jawabku. Jujur. Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur. Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih k

Nyamannya Kerja Sambil Ngopi di Pinggir Krueng Aceh

Enakkan duduk di sini? :-D Selama Covid-19 ini saya memang lumayan membatasi bertemu dengan orang-orang. Inisiatif untuk mengajak teman-teman nongkrong jarang sekali saya lakukan. Kalau ke kedai kopi, hampir selalu sendirian saja. Kalaupun sesekali bersama teman, itu artinya sedang ada pekerjaan bersama yang tidak memungkinkan kami untuk tidak bertemu. Atau karena ada sesuatu yang perlu didiskusikan secara langsung.  Ini merupakan ikhtiar pribadi saya sebagai tindakan preventif di tengah kondisi pandemi yang semakin tidak terkendali. Teman-teman saya sudah ada yang terinfeksi. Saya turut berduka untuk mereka, tetapi saya pun tidak bisa berbuat banyak selain mendukung mereka khususnya secara morel. Nah, balik lagi ke cerita kedai kopi tadi. Ada beberapa kedai kopi yang akhir-akhir ini menjadi langganan favorit saya. Tak jauh-jauh dari kawasan tempat saya tinggal di Gampong Peulanggahan, Kecamatan Kutaraja, Banda Aceh. Walaupun akhir-akhir ini sebagian besar waktu saya ada di rumah, teta

Taare Zameen Par, setiap anak adalah "bintang"

@internet SUDAH dua kali saya menonton film  Taare Zameen Par atau Like Star on Earth. Dua kali pula saya menangis. Ini di luar kebiasaan, sebab saya bukan orang yang mudah menitikkan air mata, apalagi hanya untuk sebuah film. Tapi film yang dibintangi Aamir Khan dan Darshel Safary ini benar-benar beda, mengaduk-ngaduk emosi. Masuk hingga ke jiwa. Film ini bercerita tentang bocah berusia 8-9 tahun (Darshel) yang menderita dyslexia. Dia kesulitan mengenal huruf, misalnya sulit membedakan antara "d" dengan "b" atau "p". Dia juga susah membedakan suku kata yang bunyinya hampir sama, misalnya "Top" dengan "Pot" atau "Ring" dengan "Sing". Bukan hanya itu, dia juga sering menulis huruf secara terbalik. Kondisi ini membuat saya teringat pada masa kecil, di mana saya juga sering terbalik-balik antara angka 3 dengan huruf m. Akumulasi dari "kesalahan" tersebut membuatnya tak bisa membaca dan menulis, n