Langsung ke konten utama

Traveling with My Boy Bike: Gowes di Aceh Selatan

ADALAH pengalaman tak terlupakan dalam ingatan saat kita bisa melakukan hal-hal yang menyenangkan. Bersepeda akhir-akhir ini memang menjadi salah satu hobi yang mendapat prioritas, selain tetap menulis seperti biasa. 

Seperti halnya hobi-hobi yang lain, makin dilakukan makin bikin penasaran dan makin menantang. Bersepeda kini menjadi hobi yang makin menarik untuk kulakoni. Ini pula yang membuatku bela-belain memboyong sepedaku ke Aceh Selatan pada 13-17 November, tujuannya agar tetap bisa bersepeda di sela-sela padatnya workshop.

Dan ternyata benar, padatnya agenda workshop nyaris tak memberiku kesempatan untuk itu. Syukurlah kami datang sehari sebelum acara, jadi ada sedikit waktu untuk mengeksplore sebagian wilayah Aceh Selatan dengan sepeda.

Daerah itu adalah Kecamatan Samadua, yang berbatasan langsung dengan Kota Tapaktuan, Ibu Kota Kabupaten Aceh Selatan. Cerita seru tentang perjalanan ini akan aku tulis belakangan, sementara aku tampilkan beberapa foto-fotonya dulu ya. Berikut foto-fotonya: 


Di lokasi air terjun Air Dingin di Kecamatan Samadua, Aceh Selatan. Capture by Seila Azzafira


Di bawah marka jalan di ruas jalan nasional Aceh Barat Daya-Aceh Selatan, di Kecamatan Samadua. Capture by Seila Azzafira

Di jembatan gantung di sungai Gunung Sikabu, Kecamatan Samadua, Aceh Selatan. Capture by Seila Azzafira

Di perjalanan menuju jembatan gantung Gunung Sikabu, Kecamatan Samadua, Aceh Selatan. Capture by Seila Azzafira

Berenang bersama bocah di kolam di bawah air terjun Air Dingin Samadua, Aceh Selatan. 

Lelah mendayung, akhirnya 'nebeng' kawan hehehe. Capture by Seila Azzafira


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.