Senin, 18 Juli 2022

Perahu yang Tertambat di Tepi Sungai




DI BANTARAN sungai dengan pohon cemara berderet-deret, Nyak Ni duduk menyandarkan punggungnya pada salah satu pohon. Matanya nanar memandangi masjid kubah bawang berwarna hijau di seberang sungai. Kontras dengan air sungai yang sedang keruh. Hujan semalam tidak hanya membuat sungai menjadi serupa kopi susu, tetapi juga telah membuat rumahnya menjelma seperti sungai. Kopi susu. Minuman mewah yang sering diidamkan Nyak Ni. Mewah, sebab untuk meraciknya membutuhkan susu. Dan ibunya tak pernah sanggup membeli susu.

 

Nyak Ni suka menyendiri di bantaran sungai yang membelah kota menjadi dua bagian. Selain angin yang silir melenakan, duduk di sini menjadi hiburan tersendiri baginya. Dia sering hanyut pada pemandangan kapal-kapal nelayan yang parkir di pinggir sungai. Warnanya merah, kuning, biru, dan hijau. Semarak.

 

Namun, setiap kali duduk di bantaran sungai ini, pikirannya selalu terusik oleh percakapan antara dia dengan ibunya pada suatu siang.

 

"Kau lihat perahu itu, Ni?" 

 

"Yang mana, Mak?"

 

"Itu!" Ibunya, Maneh, menyeru sembari telunjuknya mengarah pada perahu kecil yang tertambat di pinggir sungai, warnanya kusam, diikat pada sebatang bakau yang tumbuh di pinggir sungai. Perahu itu bergerak-gerak pelan mengikuti riak-riak air yang diempas angin. "Lalu kau lihat yang di sana!"

 

Sekali lagi Maneh mengarahkan telunjuknya pada deretan kapal-kapal bertenaga mesin yang parkir di sisi lain sungai. Beberapa ABK terlihat bergerak-gerak di atas kapal. Mungkin mereka sedang membersihkan kapal atau sedang mengisi bahan bakar.

 

"Kenapa dengan kapal-kapal itu, Mak?"

 

Maneh menghela napas. Dia tak ingin buru-buru menjawab pertanyaan sulungnya. Dia ingin menikmati kebersamaan itu. Jarang-jarang mereka punya waktu berdua untuk bercengkerama seperti ini. Kemiskinan telah merenggut banyak hal dari mereka, termasuk waktu bersama anak-anak. Maneh menghela napas. Berkali-kali. Mungkin sedang melakukan relaksasi sembari menemukan kata-kata yang tepat untuk menjelaskan.

 

"Lautan yang luas itu kehidupan, Ni. Sebuah dunia. Di sana ada manusia, sama seperti di tempat kita sekarang. Kapal-kapal itu adalah manusianya. Juga perahu yang tertambat di sana.”

 

Nyak Ni menoleh pada ibunya. Sulit baginya untuk mencerna. Yang dia tahu, di laut itu hanya ada ikan, cumi-cumi, udang, mungkin juga monster, tetapi manusia ....

 

“Laut adalah tempat bertarung. Musuhnya adalah gelombang. Kapal-kapal itu bertarung dengan gelombang, yang kalah... akan tenggelam.”

 

“Dimakan hiu, Mak? Atau Paus?” timpalnya.

 

Maneh menoleh. Ditelisik mata sulungnya, masih memancarkan cahaya yang sehangat mentari pagi. Cahaya itulah yang menjadi penggerak turbin kehidupannya sejauh ini.

 

“Sedangkan perahu itu, riak sungai saja sudah membuatnya bergoyang-goyang, Ni, bagaimana mungkin bisa bertahan di lautan luas?”

 

Nyak Ni melihat mata ibunya berkaca-kaca. “Seperti perahu itulah kita, kamu, ayah, Mak, dan adik-adikmu.”

 

Sampai di sini Nyak Ni mulai paham apa yang dibicarakan ibunya. Entah mengapa, dia merasa kata-kata tadi begitu mengiris hatinya. Mengiris perasaannya sebagai anak.

 

“Apakah kita akan tenggelam, Mak?” pertanyaan itu, sekonyong-konyong saja keluar dari mulutnya.

 

Maneh tidak menjawab, hanya mengusap lembut pipi gadis kecilnya.

 

Pertanyaan itulah yang kembali mengusiknya saat ini. Padahal percakapan dengan ibunya itu sudah lama sekali, tetapi mengapa sangat sulit terhapus dari ingatannya. “Apakah kita akan tenggelam, Mak?” air matanya menitik saat mengulang kembali pertanyaan itu di hatinya.

 

Saat hujan turun sangat lebat seperti semalam, Nyak Ni yang sudah tertidur jadi terbangun karena tempias yang hinggap ke wajahnya. Rumah tempat mereka tinggal, ah, kata-kata rumah terdengar begitu mewah dan istimewa. Kenyataannya, tempat mereka berteduh lebih cocok disebut gubuk. Atapnya hanya beberapa lembar seng lapuk yang ditutupi dengan spanduk bekas. Dindingnya kayu-kayu bekas hasil pulungan ibunya. Ada dipan tempat biasa mereka tidur dan istirahat sehari-hari. Rumah itu tidak dilapisi semen atau pun tegel. Setelah hujan reda jadi tak ada bedanya dengan sawah.

 

Namun, itu masih terasa nyaman bagi Nyak Ni ketimbang aroma busuk yang nyaris saban waktu terhirup oleh hidungnya. Tak jauh dari situ memang terdapat tempat pembuangan akhir yang sangat luas. Sampah-sampah warga kota diangkut dengan truk-truk besar saban hari. Nyak Ni mengutuk TPA itu setiap kali ia bernapas. Sedangkan ibunya, selalu bersyukur karena di sanalah tempat ia mengais rezeki. Tapi itu dulu, sebelum ibunya banting setir menjadi pembakar arang milik salah seorang juragan. Meski selalu pulang dalam keadaan coreng-moreng, tetapi sejak bekerja di dapur arang, tidak ada bau busuk yang ikut menempel di baju ibunya.

 

Kantuk Nyak Ni benar-benar hilang saat disadari tanah di rumahnya menjadi basah. Awalnya hanya serupa rembesan dari sela-sela dinding, lama-lama alirannya menjadi semakin deras seiring dengan hujan yang kian lebat. Nyak Ni bangkit menyusul ibunya yang bergerak cepat memindahkan barang barang ke atas dipan. Atau digantung di mana pun yang memungkinkan. Sebuah kompor minyak, karung plastik berisi beras, peralatan makan, dan printilan lain. Rumah menjadi berisik dan penghuninya seperti anak tikus yang kocar-kacir. Dua adik Nyak Ni malah kegirangan dan sibuk bermain air.

 

“Mak, ayah ...”

 

Nyak Ni ingat ayahnya. Sudah sebulan ini ayahnya tidak tidur di rumah. Juga tidak pernah pulang ke rumah. Lelaki renta itu selalu tidur di pondok yang ada di ujung jalan. Saat hujan deras seperti ini, tentu ayahnya sangat kedinginan. Kalau anginnya kencang, malah pondoknya bisa-bisa diterbangkan.

 

"Ayah enggak apa-apa.”

 

Maneh menenangkan hati putrinya. Dia pun bukannya tidak peduli pada Noh. Dia kasihan pada lelaki itu. Tapi apa boleh buat, mereka sudah sepakat untuk mengurus hidup masing-masing. Noh bukan lagi suaminya.

 

Namun, demi dilihatnya hujan yang semakin deras, Maneh mematung di jendela. Air di rumahnya sudah tergenang di atas mata kaki. Matanya lurus menatap ke ujung jalan, dia berharap agar hujan bisa reda, tetapi yang tampak hanya butir-butir hujan yang menghalangi pandang. Lelaki itu, Noh, pasti sangat kedinginan. Jangan-jangan Noh pun belum makan. Bagaimana kalau Noh mati karena kelaparan dan kedinginan?

 

Seliris perasaan bersalah menyelinap dalam jiwa Maneh. Andai saja, andai saja dia tidak mengiyakan permintaan Noh saat itu, tentu Noh tak perlu tidur di pondok ujung jalan itu sebulan terakhir ini. Setidaknya masih ada tempat berteduh yang memadai.

 

“Aku tidak ingin terus-terusan jadi beban kamu, Maneh.”

 

Kata Noh tiap kali mengutarakan niatnya untuk berpisah dan Maneh selalu menolaknya. ''Kamu lihat sendiri bagaimana kondisiku, Neh. Aku sudah tua, aku penyakitan, kamu tidak bisa bekerja karena harus mengurus aku, sedangkan anak-anak juga perlu diberi makan. Aku tidak bisa memaafkan diriku, Neh. Aku malu, aku suami yang tidak berguna. Kalau kita berpisah, setidaknya bisa meringankan beban kamu, kamu tidak perlu mikirin aku, bisa bekerja dengan tenang..."

 

Pada akhirnya mereka berpisah juga. Namun, setiap kali Maneh melihat Noh tergeletak di pondok itu, setiap kali pula hatinya terluka. Dia merasa nasibnya tak ubahnya seperti perahu kecil yang tertambat di pinggir sungai itu. Terombang-ambing. Untuk menahan riak sungai saja tak mampu. Konon lagi gelombang laut? 

 

Saban hari Maneh pergi ke dapur arang dengan air mata yang diperam di sanubarinya. Sewaktu-waktu pecah saat ia sedang sendirian. Entah di waktu salat, atau di saat menjelang tidur. 

 

Nyak Ni tersentak dari lamunannya. Ia memandangi perahu kecil yang tertambat di pinggir sungai. Dia merasa perahu itu adalah dirinya. Sendiri. Ringkih. Tak berdaya. Tak ada yang peduli. Ibu dan ayahnya juga sudah tak lagi bersama. Meski setiap hari bisa menemui ayahnya di pondok, tetapi tetap ada yang hilang di hatinya.

 

Nyak Ni kembali teringat pada ayahnya. Dia belum melihat ayahnya sejak hujan semalam. Apakah semalam ayahnya kehujanan? Kedinginan? Apa ayahnya sudah makan? Kalau belum, dia akan pulang untuk mengambil sepiring nasi. Ibunya tidak akan marah.

 

Nyak Ni bangkit setelah mengambil sebutir kerikil dan melemparkannya ke sungai. Tumbukan kerikil di permukaan air memunculkan gelombang berbentuk lingkaran. Kemudian hilang perlahan-lahan.

 

Ia menyusuri bantaran sungai dan bergegas menuju ke pondok tempat ayahnya tinggal selama ini. Selama itu, pikirannya terus dilanda kecamuk. Mengapa ayah ibunya berpisah, padahal Nyak Ni tidak pernah melihat mereka bertengkar. Nyak Ni ingin menanyakan itu pada ayahnya. Ia pun mempercepat langkah sambil sesekali melompat menggapai dahan cemara.

 

Untuk pertama kalinya dia merasa langkahnya sangat ringan. Hatinya terasa lebih lapang. Di kejauhan, dia melihat ayahnya masih meringkuk di pondok. Langkahnya semakin cepat. Saat jarak semakin dekat, Nyak Ni melihat ayahnya masih meringkuk di pondok dan berselimut selembar sarung usang. Kakinya mengintip dan tampak pucat.

 

Nyak Ni sampai di pondok. Ia duduk di samping ayahnya. Perlahan digoyangkan tubuh ayahnya. Tak ada Jawaban. Digoyangkan sekali lagi sambil memangilnya, tetap tak ada jawaban.[] 


Peulanggahan, Oktober 2021

 

Previous Post
Next Post

Mencintai Pagi seperti Mencintai Zenja

0 komentar:

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)