Minggu, 27 Agustus 2006

"Cinta Rumput"

"Cinta Rumput"
layakah Rumput jatuh cinta? pada pengembara yang menumpang lewat dalam kehidupannya. yang bercerita sekilas tentang arah dan tujuannya, sedikit tentang negeri asalnya lalu kemudian pergi lagi. Rumput beruntung, Pengembara memilih menginap ditempatnya malam itu, membuat api unggun yang kecil sehingga Rumput bisa merasai sedikit kehangatan dimalam yang benar-benar dingin. mereka mengobrol hingga malam tua dengan kata-kata sepatah-sepatah. Rumput merasa tertarik pada Pengembara muda itu, ia menyukai kekakuan dan kedinginannya, sedikit angkuh barangkali. Rumput juga heran bagaimana mungkin Pengembara dengan sifat seperti itu yang dia sukai, kaku, bahkan belum pernah sekalipun ia mendengar kata terimakasih atas apa yang telah dilakukan Rumput untuknya. Rumput telah mengijinkannya mendirikan tenda ditempatnya, memasakkan makanan spesial untuk menjamunya pertama kali, membantunya mencari kayu untuk perapian, tetapi lelaki asing itu seperti batu yang teronggok dan tak bisa mengucapkan terimkasih, tapi itu tak diambil pusing oleh Rumput.
tapi malam ini Rumput merasa ada yang berubah dari Pengembara itu. ia sedikit lebih hangat. sempat beberapa kali bercanda. tadi siang ia diajak ikut memancing ke sungai untuk lauk makan siang mereka.
"kau baik sekali hari ini" puji rumput tulus. matanya mengapung diair. sama sekali tidak melihat sipemilik wajah dingin itu. sorot matanya yang tajam membuat rumput tak berani menatapnya, ia takut hatinya kembali bergetar sama seperti setiap kali emreka beradu pandang.
"sebelumnya aku jahat?" tanya pengembara
"aku tidak bilang begitu"
"ya"
"Horee.....aku dapat ikannya" teriak rumput bersuka cita karena tangkapannya berhasil. tidak sia-sia ia sudah membuang waktu satu jam disunga berbatu ini, arusnya lumayan deras, batunya besar-besar, disekelilingnya tumbuh pohon pakis yang sesekali dipetik rumput untuk disayur. pengembara mengulum senyum melihat kesuka riaan rumput.
"masakanmu enak, Put" puji pengembara dengan tulus.
"oh ya?" rumput mendongak
"iya, ikan bakar mu enak sekali, begitu juga dengan tumisan pakisnya. dimana kamu belajar memasak?"
"Cinta"
"Cinta?"
"He-eh..."
"aku ngga ngerti"
"begini, sesuatu yang dilakukan dengan atau karena cinta, semuanya akan terasa lebih indah, lebih nikmat dan terasa sempurna. aku memasak dengan penuh cinta sehingga masakanku menjadi enak, yang makan juga barangkali memakannya dengan cinta sehingga ia merasakan enak pula, coba kalau dia makan dengan amarah dan benci, masakan seenak dan selezat apapun tetap terasa tidak enak..." jelas rumput panjang lebar.
"kau ini bisa saja, apa termasuk tinggal dihutan ini sendirian karena cinta?" tanyanya penuh selidik.
"iya, aku melakukannya untuk cinta. semoga aku bisa bertahan disisa waktu untuk mencintainya..."
"kau mencintai pohon beringin besar itu?"
"tidak" jawab rumput cepat. "beringin itu terlalu tinggi untuk bisa kugapai, aku tidak pernah berfikir untuk mencintainya"
"lalu?"
"ada burung, dengan warna yang cukup indah. dia tidak berasal dari wilayah ini, tapi tinggal dibelahan bumi yang lain yang sangat jauh sekali dengan ku. aku menyukainya, begitu juga dia, entah kami bisa dikatakan sepasang kekasih entah tidak. yang pasti diantara kami ada rasa cemburu, ada rindu, ada marah kadang juga sakit hati jika salah satu diantara kami ada yang melakukan sesuatu yang tidak kami sukai. mungkin untuk sebuah kesia-siaan...."
"kenapa begitu?"
"untuk sesuatu yang tidak pasti"
"hmm..."
"entahlah...apa rumput boleh jatuh cinta"
"Rumput juga punya perasaan, punya hati dan naluri....tak ada larangan untuk jatuh cinta"
"aku tidak tahu"
"apa saat ini juga sedang jatuh cinta?" tanya pengembara tiba-tiba. rumput gelagapan. mukanya bersemu merah, ia menunduk, jantungnya bergetar lebih kencang. rumput melirik pengembara yang dibalas dengan senyum yang lembut.
"aku...."rumput terbata. "aku...jatuh cinta kepada siapa disini? tak ada yang bisa kucintai ditempat seperti ini" akhirnya rumput menemukan jawaban jitu.
"kau yakin?"
"apa maksud pertanyaan mu?"
"jatuh cinta pada ku mungkin"
"he he he...aku? jatuh cinta pada mu? orang asing yang baru ku kenal dua hari? aku tak yakin..." elak rumput.
"Baiklah, tak apa. tapi coba kau renungkan apa yang telah kau lakukan untukku, menemaniku memancing, memasak untuk ku, kau bahkan sama sekalit idak marah atau kesal dengan sikapku yang acuh tak acuh. apa itu denganmudah kau lakukan bila tidak ada perasaan apa-apa?"
"aku tidak ingin kau salah menganalisa"
"Tapi sampai kapan kau mencintai yang disana? tanpa kepastian. atau kau memang tahu bahwa dia tak bisa kau miliki, bukankah ini namanya sia-sia?"
"apakah ada yang sia-sia untuk cinta?"
"Maaf, aku tak bermaksud menyinggung perasaan mu"
keduanya diam, rumput menjulurkan kakinya ke air. dingin. ia menjadi tak semangat lagi memancing. tapi meninggalkan pengembara seorang sendiri itu tidak mungkin pikirnya. sejujurnya ia ingin selalu dekat disamping lelaki asing itu. merasai sedikit kedinginannya juga kehangatannya yang tak biasa.
rumput terpekur menatap butiran air yang pecah, pikirannya melayang jauh. pada yang disana. sempat terfikir untuk membiarkannya begitu saja, mengakhiri catatan mereka dari hari-hari kemarin. tetapi nyatanya sampai hari ini masih ada pena yang terus bergerak untuk sebuah kisah. surat-surat cinta masih ada, kata-kata mesra masih sering terdengar.
selingkuh? ia sama sekali tidak pernah berfikir kesana. bagaimana kalau dengan pengembara ini? benar kalau ia menyukainya, betul juga kalau ia mempunyai rasa yang sukar diterjemahkan selama kehadiran pengembara ini. tetapi itu bukanlah bentuk lain dari pengkhianatan.
"hari ini kita cukupkan saja memancingnya, sudah ada lima ekor, sudah melebih dari cukup untuk makan siang kita"
rumput tak bergeming, sepanjang perjalanan pulang ia hanya diam, begitu juga ketika memasak, membersihkan ikan. tak ada suara selain gemerisik yang ditimbulkan dari suara-suara sekitar. pengembara heran dengan perubahan rumput tetapi ia tidak berani bertanya.
"kapan kamu pulang ke negeri asalmu?" tanya putri setelah mereka makan siang.
"dua tahun lagi"
"aku akan kembali sendiri, menunggui yang disana hingga masa waktu itu habis. dan entah sampai kapan." rumput menangis. tapi ia segera menyeka air matanya."apa tidak boleh rumput jatuh cinta seperti yang lain, yang bisa ia miliki, yang tak perlu menunggu waktu untuk mengadu rindu, yang tak perlu ditutupi dengan kebohongan untuk sekedar bertemu atau mendengar suaranya. apa tidak boleh..." rumput berkata lirih. ia sama sekali tidak mengharapkan jawaban dari semua itu.
"kau akan ada yang menemani, ada pohon, ada angin, hujan, bulan, matahari, bintang...." pengembara tak yakin apakah kalimat itu bisa menghibur rumput atau justru sebaliknya, membuatnya kian sedih. ia bisa merasakan kesedihan dan kelelahan pada diri rumput atas cintanya yang tak biasa. dia yang ingin mengakhiri semuanya tetapi tidak memiliki keberanian.
"alangkah tidak enaknya berada diposisi rumput" batinnya
"rumput..." pengembara menggenggam tangannya, sementara tangan kanannya menyeka dua butir di pipi rumput. "jangan menangis ya..."
"apakah menangis hanya untuk mengartikan kesedihan?"
pengembara menggeleng. ia memberanikan diri memeluknya. tubuh rumput terasa panas, tetapi ia kedinginan, mukanya pucat dan bibirnya bergetae. rumput nyaris tak bergerak dalam pelukannya.
"aku boleh mencintaimu?" tanya rumput nyaris berbisik
pengembara tertegun mendengar ucapan rumput, ia tak menyangkan rumput akan seberani itu menyatakan perasaaannya.
"jangan takut pengembara...aku tidak memintamu mencintai ku..."
"bukan itu maksudku..."
"ya, kau akan pergi dua tahun lagi dan aku tetap disini, menunggu sisa waktu itu...."
pengembara menguatkan pelukannya...
rumah Adam, 26-27/08/06
pkl 23:04-01:02

Jumat, 25 Agustus 2006

Adam, Alim, Aku

Adam, Alim, Aku

Suara sepeda kecil beroda tiga terdengar memasuki teras, lalu pintu bergedeguman. Begitulah ciri khas Adam anakku kalau pulang.
“Mah, ada gopek?”
“Untuk apa?”
“Ada pengemis.”
“Mamah tidak punya, pakai uangmu saja.” Kataku sambil terus melanjutkan aktifitas memasak.
Anakku itu lalu mendorong kursi makan hingga menempel ke kulkas. Menaikinya, sambil berjinjit dan mengangkat dagunya agar lebih tinggi, ia mencari-cari sesuatu di atasnya . “Gak ada gopek mah, ada juga srebu.”
“Tidak apa-apa, seribu juga boleh, dimana pengemisnya?”
“Tadi masih di depan rumah si Ikhsan.”
“Cepetan, nanti keburu jauh.”
Anakku kembali keluar dengan berlari. “Nek, ini uangnya.”
Sang nenek pengemis itu berhenti lalu memutar badannya kemudian mengangkat sedikit topi capingnya. “Massya Allah nak, leutik keneh tos bageur pisan. Ya Alloh, gusti pangeran mugi-mugi ieu budak janten anak anu bakti kakolotnya, ka bangsa jeung agamana. Janteun budak sing cageur, sing pinteur, sing bageur! Sing jauh tina maksiat, beunhar hade tong hilap mayar jakat. Gera gede nya, gera sakola ka Bandung. Alhamdulillah ya Alloh. Atur nuhun nya Neng.” Nenek itu berlalu.
“Mah, Adam dipanggil Neng.”
Ini bukan kejadian pertama. Anakku Adam adalah seorang bocah laki-laki, tetapi wajahnya cantik jelita. Dagunya berbelah walaupun samar. Bibirnya tipis saja, dilanjutkan dengan dua lesung pipit kecil di pipinya. Hidungnya mancung, bulu matanya lentik sekali seperti habis dirol.
Kalau dagunya pasti dari bapaknya. Bibirnya turunan dari keluargaku. Hidungnya? Seratus persen milikku. Bulu matanya? Dari ayahnya. Tapi, bola mata yang hitam legam dan besar itu? Dari manakah? Ah, aku tidak mau menelusurinya. Aku percaya saja itu milik Adam sendiri. Yang Maha Kuasa memberikannya khusus untuknya. Satu-satunya cara agar ia kelihatan benar-benar laki-laki adalah dengan memotong pendek-pendek rambutnya dan ini jarang dilakukan ayahnya. Lupa itulah alasannya selalu.
“Bapak terlambat lagi?” Adam kecil bertanya, lebih tepatnya mengungkapkan kekecewaanya kepada ayahnya yang sampai di rumah setelah adzan maghrib usai. Adam memang telah menunggu ayahnya untuk bersama-sama sholat maghrib ke masjid dari tadi, dengan baju koko biru mudanya.
“Iya, besok bapak akan pulang lebih cepat. Sekarang kita maghrib di rumah saja ya Mas.”
Suamiku, Alim kadang-kadang memanggil Adam dengan Mas karena menurutnya, kelahiran Adam dirasakannya seperti mendapat rejeki yang melebihi dari emas segunung. Ia seperti mendapatkan berkah yang tiada terhingga.
“Pak, tadi mamah bilang, kalau Adam memberikan uang untuk pengemis karena minta dido’akan, berarti Adam tidak ikhlas. Bener pak?”
Suamiku menatap ke arahku sebentar, “Tidak Dam, tetap ikhlas.” Ia lalu berdiri, sambil membuka kancing kemejanya, “Kurasa belum perlu sejauh itu mengajarinya.”
Adam memang telah jadi bahan diskusi yang tiada habis-habisnya sejak ia brol ke dunia ini.
“Siapa namanya dik?” Kak Alim bertanya padaku yang masih tergolek lemah di tempat tidur rumah bersalin, ketika Adam baru berumur dua hari. Ia membawa kertas dan bulpen. Aku tahu itu standar administrasi rumah bersalin ‘Syifa Budi’ ini. Mereka akan sekaligus membuatkan akte kelahiran untuk setiap bayi yang dilahirkan di sini.
Sejak pernikahan bahkan sejak sebelum itu, hingga kami memiliki Adam anakku, kak Alim masih memanggilku dengan ‘dik’. Dia baru ikut-ikutan memanggilku dengan Mamah ketika Adam mulai bisa bisa menyebutkan kata itu.
“Adam.” Sahutku.
“Oh, Adam siapa?”
“Adam Adrian.”
“Hanya itu?”
“Iya.” Jawabku dengan masih tergolek lemah.
Sepuluh hari kemudian, Akte Kelahiran itu jadi, tertera namanya ‘Adam Adrian Jimmy!’ Kata ketiga itu benar-benar merusak! “Mengapa Jimmy?” Tanyaku.
“Karena bagus aja.” Jawabnya enteng.
“Kalau mau menambah, tambahlah dengan kata-kata yang bagus. Kalau bisa yang berasal dari Al Qur an.”
“Apa artinya Adam?”
Oops
“Allah memerintahkan agar kita memberikan nama yang bagus kepada anak-anak kita. Tidak harus berbahasa Arab. Orang jawa memberi nama anaknya dengan ‘Slamet’ atau ‘Raharjo’, ‘Sugeng’ yang semuanya berarti keselamatan, kesejahteraan. Semuanya memiliki arti yang bagus. Apakah kau akan memberikan nama ‘Al Baqoroh’ yang berarti sapi betina? Atau ‘Annisatul Laily’ yang berarti perempuan malam?”
Dia lucu juga. Tapi dia benar.
“Jimmy adalah satu-satunya presiden Amerika yang bisa memaksa Muso Dhayan, pemimpin Yahudi laknat itu untuk berdamai dengan Mesir dan menyerahkan Gurun Sinai. Tidak ada orang lain yang sanggup. Aku menghargainya dengan mengambil sebagian namanya untuk anakku. Itulah alasannya.”
Ah, sejauh itukah pemikirannya?
Alasan yang tidak terlalu jauh berbeda diungkapkannya dikala tidak setuju ketika aku mengusulkan agar Adam memanggil ‘Abi’ kepadanya dan ‘Umi’ kepadaku. “Menjadi keluarga yang islami bukan berati menjadi keluarga arab. Kita tetap bisa menjadi keluarga yang islami dengan tetap menjadi orang Indonesia. Jeffrey Lang tetap seorang muslim sejati walau tetap seorang Amerika sama seperti Muhammad Ali. Ngomong-ngomong dulu anak-anak Abu Jahal dan Abu Lahab memanggil bapaknya dengan sebutan apa yah?”
Wat?
Adam telah menjadi inspirasi yang tidak pernah kering. Adam juga telah menjadi kunci pembuka hal-hal yang tidak aku ketahui tentang Kak Alim suamiku. Satu demi satu hal yang tidak terduga terkuak. Kukira semuanya akan ku ketahui begitu kami menikah. Ternyata tidak, ‘satu-demi satu’ itu terus berlanjut sampai Adam lahir, sampai kini.
Ketika kehamilanku menginjak usia delapan bulan lebih, kami mulai bersiap-siap membeli perlengkapan bayi, termasuk perlengkapanku sendiri. “Guritamu cuma satu?”
“Iya. Kurasa cukup.”
Kak Alim pergi ke pasar lagi lalu membeli bahan blacu dan menjahitkan gurita bertali dua belas untukku, tidak ketinggalan bebengkung alias stagen yang hanya dipakai orang-orang jaman dulu. Ternyata ia pandai menjahit juga. Itu terjadi di rumah orang tuaku. Disana memang ada mesin jahit.
Kak Adam berani memandikan Adam bayi yang ketika itu masih belum lepas pusarnya. Aku sendiri secara jujur akan mengakui kalau aku tidak sanggup. Ia memandikan dengan tenang, setenang ia memasang popok, gurita dan baju bayi. Kemudian membungkusnya dengan bedong yang sangat rapi. Melebihi rapinya bedonganku atau perawat sekalipun.
Wow, luar biasa. Setelah itu aku akan mendapat giliran mandi dengan air hangat yang telah disiapkannya. Begitu ia melihat aku kesulitan memasang guritaku sendiri, ia segera memasangkannya dengan kencang sambil menggerutu. Aku hanya tersenyum. Juga kasihan. Kak Alim pasti capek sekali. “Capek ya?”
“Gak apa apa, asal kamu jangan sering sering aja beranak.”
“he he he.”
Suatu ketika, Adam menunggu di depan rumah kami, menunggu mang Narno, tukang nasi goreng langganannya yang tidak kunjung lewat.
“Adam ingin nasi goreng? Kita bikin sama-sama yah?” Kak Alim mengajak Adam yang cemberut ke dapur. Lalu mulai mengiris bawang, menggiling bumbu, memotong kecil kecil daging ayam yang telah direbus yang memang selalu tersedia di kulkas, memotong kol, baso dan sosis. Suara berdesis segera mengalun dari atar kompor gas yang dinyalakan Adam. Kak Alim suamiku mulai sibuk menggorang nasi. Blue Band, Masako, kecap Bango, telur dan beberapa bahan yang telah diraciknya tadi sekarang tengah berguling-guling didalam wajan. Semuanya sedang diaduk-aduk Aroma wangi mulai berhembus. Tak lama setelah itu nasi gorang ‘Mang Alim’ segera tersaji. Adam memakannya dengan bernafsu. Akupun ikut mencicipi. “Waah enak banget ya?”
“Iya mah, nasi goreng mang Narno aja kalah nih!”
“Kok nggak ada api yang menyambar ke dalam wajan tadi? Tidak seperti di restoran?”
“Ooh itu pakai arak sedikit. Gak boleh tuh?”
“Ooh.”
“Pak, kenapa tidak jualan nasi goreng aja? Seperti mang Narno, kan enak tuh abis bikin langsung dapet duit, gak usah nunggu sampai sebulan kayak bapak?”
“Kalau bapak jualan nasi goreng, kasihan mang Narno dong, nanti jualannya gak laku...”
Sejak itu aku tidak pernah bikin nasi goreng lagi, tidak akan disentuh oleh Adam! Dia hanya mau makan buatan bapaknya.
“Mah bagaimana caranya Adam bisa lahir?”
Hah, pertanyaan yang tidak terduga sama sekali “Mm gimana yah? Ayahmu memberikan cinta yang banyak sekali untuk mamah sehingga lahirlah Adam.”
Ia kelihatan tidak puas dengan jawaban itu. “Pak, kok Adam bisa lahir, gimana yah?”
“Ooh, bapak sama mamah tertidur, setelah beberapa hari abis itu, lahirlah kamu.”
“Bapakmu bohong Dam!”
“Bapak bohong?”
“Tidak Dam, Bapak hanya salah menjawab. Yang bener jawaban mamahmu.”
Adam hampir tiga tahun dan kurasa sudah waktunya bagiku untuk mewujudkan cita-citaku mengajarinya Ali Ba ta, mengajarinya a i u e o, ba bi bu be bo. Beberapa buku dan lembaran kertas huruf latin dan arab ku beli. Adam malah mencoret-coretnya.
“Adam!”
Ia berlari ketakutan menghambur kepangkuan bapaknya yang sedang bermain piano. Suara piano yang sebelumnya sangat merdu sekarang ditimpali genjrang-genjrung yang sangat berisik.
“Adam!”
“Mah, Adam baru tiga tahun kurang!” Suamiku memandangku dengan heran. “jangan pinta ia melakukan sesuatu diatas usia itu. Umur berapa dulu mamah mulai belajar membaca?”
Ya Allah, dia benar lagi. “Pak kalau memberi contoh kepada anak dengan sholat berjamaah ke masjid sebaiknya dilakukan mulai usia berapa yah?”
“He he ‘bu Ustadzah’ benar. Dam, ikut bapak ke masjid yuk?”
Adam sedang tertidur di kasur palembang di depan tivi setelah menonton film kartun ‘catdog’ kesukaannya. aku dan dan kak Alim tengah memandangi wajahnya.
“Dulu, waktu Adam masih dikandunganmu, apa yang kamu do’akan?”
“Semoga ia menjadi anak yang soleh, berbakti kepada orang tuanya, kepada nusa dan bangsa.....”
“Dalam hati kecilmu, apa yang kau inginkan?”
“Aku ingin anak yang cantik”
“Ooh, aku inginkan anak laki-laki. Tuhan telah mengabulkan do’a-do’a kita.”
“Iya, anak laki-laki yang cantik.”
Kak alim mendekatkan wajahnya ke pipi Adam. Sesaat lagi ciuman itu akan terjadi. Adam akan terbangun dan aku akan menjadi repot menidurkannya kembali. Ia akan rewel lama sekali. Aku segera menahannya dengan menarik bahu Kak Alim.
Ia menatapku sebantar. “Ciuman yang sudah setengah jalan tidak boleh dihentikan!” katanya.
Bibir yang telah monyong itu tiba-tiba mendarat di bibirku. Mmmwwwaaah!
Ah Dam, cinta bapakmu memang banyak sekali....!

Rabu, 23 Agustus 2006

Minggu, 20 Agustus 2006

satu dua tiga

satu dua tiga
semalam aku melihat bintang
kelap kelip
meski langit agak gelap
tetap tampak indah
menghilangkan getar dikaki
meratakan nafas yang tak teratur

hari ini ada matahari
memberiku kehangatan
dalam tubuh yang menghangat tetapi dingin
mensejajarkan langkahnya denganku
mengawasiku dari jauh
takut kalau aku hampir jatuh seperti kemarin sore
satu dua tiga dan seterusnya
kaki ini terus melangkah
menyusuri lorong
melewati ruas-ruas jalan
ada satu dua tiga rumput melambai
dan seribu anai-anai yang beterbangan
melemparkan doa
dan kusambut dengan kedua tangan terbuka

satu dua tiga
dan seterusnya
aku sampai
dan aku tertidur

Jumat, 18 Agustus 2006

"Ijinkan"

"Ijinkan"
andai kau ijinkan
walau sekejap memandang
ku buktikan kepadamu
aku memiliki rasa
cinta yang kupendam
tak sempat aku nyatakan
karena kau tlah memilih
mengetuk pintu hatinya

ijinkan aku mengatakan
inilah kesungguhan rasa
ijinkan aku menyayangi mu

sayangku ooo...
dengarkan lah
suara hatiku
cintaku ooo...
dengarkanlah isi hatiku

bila cinta tak menyatukan kita
bila kita tak mungkin bersama
ijinkan aku menyayangimu

sayangku ooo....
dengarkanlah
isi hatiku
cintaku ooo...
dengakanlah suara hatiku...


sudah tengah malam, sisa-sisa hujan tadi masih ada satu-satu. tik tok...tik tok..bunyinya dari atas atap. dan angin bertiup dua kali lipat lebih kencang dari tadi siang, menggoyangkan pohon-pohon, menggugurkan daun-daun, menerbangkan sampah-sampah. hujan dan angin bergumul. melahirkan dingin hingga ketulang iga. ditambah lagi dengan kipas angin yang sengaja dibiarkan berputar-putar, semakin sempurnahlah rasa dingin malam itu. tanpa selimut, tanpa baju tebal, hanya ada selembar kertas dan pena yang tergeletak dilantai.
seorang gadis masih terbeliak matanya hingga selarut ini. bulu-bulu halus ditangannya tampak berdiri menahan dingin yang teramat sangat. tapi entah mengapa dia tak ingin berselimut. pikirannya serasa masih menyusuri jalan-jalan gelap ketika ia pulang selepas magrib tadi. dipayungi hujan dan ditemani angin kencang, membuat motor yang dikemudikannya kadang-kadang agak oleng. bajunya pelan-pelan basah hingga akhirnya basah kuyup, syukurlah tadi sore ia tak lupa memakai helm sehingga kepalanya terlindungi. awalnya ia berniat untuk menunda pulangnya, tetapi melihat langit yang begitu gelap dan angin yang begitu kencang ia tak yakin kalau hujan akan berhenti sekitar sejam kedepan. karenanya ia memutuskan untuk terus pulang. setelah membeli salak di kios buah ia kembali melaju. sesekali ia masuk ke lubang-lubang kecil, motornya tidak ada lampu lagi. ia hanya mengandalkan penglihatannya saja dimalam yang gelap dan dingin itu. beberapa butir bening mengalir dari pipinya yang basah, tetapi sekejap saja sudah menyatu dengan air hujan dan mengalir. gadis itu terisak.
setengah jam kemudian ia sampai dirumah, mandi lalu ganti pakaian dan makan malam bersama kedua orang sepupunya. ia kembali ceria, tak ada bias-bias kesedihan yang membuat kedua saudaranya akan curiga. hatinya masih seperti tadi, kecewa dan kesal tetapi ia merasa tak perlu lah orang lain tahu.
"Mau minum susu?" tanyanya tadi sore kepada seseorang.
"Tidak"
"Maunya apa?" tanyanya lagi setengah bercanda
"Tidur lagi"
"Ya udah kalau begitu, tidur aja lagi" katanya lagi, sedikit geram
"Iya"
lalu setelah itu tidak ada kata-kata lagi. dan gadis itu pulang.
***
gadis itu tau kalau mereka sama-sama mencintai, sama-sama menyayangi. ia tahu semuanya. tetapi sesekali sebagai perempuan ia merasa semua itu memerlukan pengulangan. ia ingin sesekali lelaki itu mengulangi mengatakan ia mencintainya, dan tanpa malu-malu ia memintanya dan dengan sabar lelaki itu melakukan apa yang dimintai olehnya. mereka mengobrol berjam-jam. melewati hari-hari bersama-sama. dan semakin lama ia merasa cintanya kepada laki-laki itu semakin besar saja, padahal yang ia harapkan adalah berkurang sehingga ia benar-benar bisa melupakan lelaki yang telah menemaninya selama setahun lebih. lama-lama ia kian memahami bahwa cepat atau lambat hubungannya dengan lelaki itu akan berakhir. karena itu cintanya semakin besar dan dalam, ia ingin mencintai lelaki itu dengan sangat isitimewa sekali disisa-sisa perjalanan cintanya. kadang ia merasa tersiksa dengan semua ini, tetapi ia juga memberikan kekuatan baginya untuk terus mempertahankan cinta mereka.
entah apa yang membuatnya begitu mencintai lelaki itu, ketika ditanya ia selalu menjawab karena lelaki itu sangat istimewa. entah dimana letak keistimewaannya dia sendiripun terkadang bingung. selalu yang dikatakannya pada lelaki itu adalah "semoga aku bisa melupakan mu setelah menikah nanti". pernyataan yang terdengar sangat berat karena dia menyadari lelaki itu tak bisa selamanya dia cintai apalagi dimiliki. pun begitu sama sekali tidak pernah terlintas dibenaknya untuk menyesali pertemuannya dengan lelaki itu. entah sejak kapan ia mulai jatuh cinta kepada lelaki itu, yang pasti setiap kali mengenang awal-awal pertemuan mereka hampir tidak ada yang tidak indah.
pernah ia menangis memikirkan perjalanan cintanya yang rumit, tetapi kemudian ia teringat bahwa hidup memang rumit, setidaknya ia masih mempunyai logika untuk berfikir sehingga tidak melakukan hal-hal yang tidak diinginkan
***
kemarin sore mereka bertemu lagi. setiap kali bertemu ia merasa semakin mencintainya. walaupun setelah itu ia kadang kesal dan marah, tetapi tetap tidak mengurangi apa yang ia rasakan. dan hari ini dia kembali menunggu untuk laki-laki itu...dia ingin sekali mengatakan...
bila cinta tak menyatukan kita
bila kita tak mungkin bersama
ijinkan aku menyayangimu

"tidur"

"tidur"

tidur merupakan salah satu bentuk istirahat yang paling baik, ketika tidur tubuh menjadi rileks dan segar. otot-otot menjadi regang dan tentu saja melancarkan peredaran darah. selain itu tidur yang baik juga menghilangkan stress tentunya, selain penat dan rasa lelah yang mendera setelah beraktifitas seharian.

orang yang kekurangan tidur akan kelihatan pucat dan loyo, sebaliknya kebanyakan tidur juga tidak baik, tubuh menjadi tidak segar dan malas. ngomong-ngomong soal tidur memang mengasyikkan, membayangkan kasur yang empuk dan dikelilingi bantal-bantal yang empuk saja bisa membuat mata selalu merasa kantuk. apalagi kalau memang sudah berada diatasnya. perut laparpun bisa dihilangkan dengan tidur.

tidur merupakan salah satu aktivitas yang tidak dapat dihindarkan oleh setiap orang, begitu juga saya. tidur inipun kata orang ada macamnya, ada yang namanya tidur ayam, ada yang tidur mati. jenis tidur ayam biasanya sering disebut sebagai tidur ecek-ecek karena totalitasnya dalam tidur kurang. artinya seseorang yang tidur ayam akan mudah sekali terganggu dengan kesibukan yang ada disekitarnya, misalkan suara berisik atau keributan lainnya walhasil tidurnyapun menjadi tidak nikmat. sedangkan tidur mati memang mirip-mirip orang mati, sama sekali tidak berpengaruh terhadap gangguan-gangguan yang ada disekitarnya. dan kalau mau digolongkan jenis tidur saya barangkali lebih tepat dan etis bila dimasukkan ke jenis nomer dua.

terkadang saya merasa aneh juga dengan jenis tidur saya ini. pernah saya dicubitin ibu ketika tidur karena menghimpit adik saya yang masih bayi, besoknya ditanyain apa semalam saya merasakannya? saya malah balik nanya ke ibu memangnya ibu nyubitin saya yah semalam? dan sekarang sudah hampir setengah bulan lamanya kelahiran bayi kecil dirumah kami, tetapi belum pernah sekalipun saya mendengarkan jeritannya dimalam hari bila saya sudah tidur. padahal hampir setiap malam si baby menangis karena haus atau ngompol. saya juga bisa tidur nyenyak tanpa gangguan berarti ketika orang lain sibuk mengeluhkan nyamuk-nyamuk yang rewel. kareanya tidur menjadi aktivitas yang sangat menyenangkan bagi saya karena saya benar-benar bisa melupakan semua beban yang ada dikepala saya. saya tidak perlu terganggu dengan suara bising, gaduh dan gedebag gedebug

Rabu, 16 Agustus 2006

"Berlayar ke pulau hati"

"Berlayar ke pulau hati"
I am sailing
I am sailing,
home again cross the sea
I am sailing stormy water to be near you to be free
I am flying I am flying,
like a bird cross the sky
I am flying passing hihg clouds to be with you to be free can you hear me,
can you hear me through the dark night far away
I am dying forever trying to be with you who can say We are sailing We are sailing,
home again cross the sea We are sailing stormy waters To be near you to be free, oh love,
to be near you to be free
***
Aku pernah naik kapal layar dan sekarangpun masih berada dalam kapal layar itu.
Sejarah naiknya aku ke kapal layar ini tidaklah biasa. Tidak sebagaimana lazimnya orang-orang berlayar. Mencari agen perjalanan, membeli tiket, ke pelabuhan mencari kapalnya, naik lalu mencari kamar (atau hanya tempat duduk, bila naik kapal kecil untuk perjalanan yang singkat) lalu berlayar. Tidak, aku tidak seperti itu. Naiknya aku ke kapal layar ini adalah suatu kebetulan. Lebih tepatnya karena rasa iba alias kasihan sang pemilik kapal padaku. Saat itu, karena sesuatu sebab, aku sedang terapung-apung di tengah lautan. Lalu, ada sebuah kapal layar lewat. Berhenti sebentar, menurunkan tangga dan mempersilahkan aku untuk naik. Jadi, selamatlah diriku.
Pemilik kapal layar ini adalah seorang perempuan cantik dan luar biasa baiknya. Ia menyediakan salah satu kamarnya yang bagus sekali untukku. Di dalamnya ada tempat tidur yang empuk, pengatur udara yang bisa di set menjadi panas atau dingin sesuai keinginan kita. Ada pesawat televisi berikut kasur yang empuk di depannya untuk menonton sambil tiduran, beberapa lukisan, lemari pendingin yang penuh dengan makanan. Yang lebih penting dari semua itu, ada satu set komputer yang lengkap dengan jaringan internetnya!
Tidak kalah dengan kamar yang disediakan, sang pemilik kapal yang cantik jelita ini setiap saat mengunjungiku. Hanya sekedar menanyakan keadaanku sudah baikan atau belum (maklum baru ditolong dari tengah laut), atau meminumkan obat, atau menyuapi makan. Tidak jarang pula ia membawakan cerita-cerita yang amat menarik atau sekedar dongeng pengantar tidur yang lucu.
Kelembutan hatinya dan keramahan tutur katanya sungguh membuat hati siapapun akan terbuai. Tanpa kusadari, di hatiku mulai tumbuh rasa kagum, rasa terima kasih yang besar, rasa ingin selalu berada di dekatnya dan bermacam-macam rasa lainnya yang kalau disebut dengan satu kata adalah, cinta!
Gayung bersambut! Matanya mengatakan hal yang sama. Dan ketika dimintakan ketegasan padanya, bibirnyapun mengucapkan hal yang tidak berbeda. Kapal layar yang penuh cinta inipun bertambah kencang melaju di tengah langit yang biru dan timpalan kepak sayap burung camar yang sedang terbang.
Sang pemilik kapal masih tetap mengunjungiku di kamar ini. Tidak untuk meminumkan obat lagi, karena dilihatnya aku sudah sangat sehat. Tetapi tetap mengalunkan berbagai cerita atau untuk menatapkan matanya yang indah padaku. Disamping itu, ia mengajariku membuat sesuatu di jaringan internetnya, sesuatu yang disebutnya dengan ‘rumah maya’. Aku baru tahu juga, ternyata ia seorang guru yang sangat pandai. Dalam waktu singkat saja, aku langsung dapat membuat rumah mayaku, yang menurut ukuranku cukup indah. Tapi bukan hanya rumah maya yang indah itu saja yang berkesan. Kenangan bagaimana ia mengajariku, itulah yang lebih tak terlupakan. Suatu waktu, karena sangat seriusnya ia memberi petunjuk, tanpa disadarinya ia terpaksa mendekatkan mukanya ke wajahku sehingga aku dapat merasakan hembusan nafasnya menampar pipiku. Seumur hidupku, walau hanya beberapa saat, itulah saat yang kurasakan paling indah. Aku berharap itu adalah mimpi dalam tidurku. Dalam tidurku yang panjang, dalam tidurku yang sangat panjang atau kalau mungkin, dalam tidurku yang tak akan terbangun. Karena aku tidak ingin mimpi itu berakhir.
Tapi setelah itu, sang pemilik kapal makin jarang menunjungiku. Kalaupun lewat dan bertemu, ia hanya memberikan seulas senyum atau hanya melambaikan tangan dari jauh. Terakhir, ia mengatakan, bahwa ia berlayar di kapal ini dengan seseorang yang ia sebut kekasih, yang tentunya tinggal dikamar lain yang jauh lebih indah, lebih besar dan pasti lebih dekat posisinya dengan kamar sang pemilik. Oops! Sadarlah aku. Sekarang aku sering duduk memandang lepas di buritan. Kapal layar ini jalannya semakin lambat. Beberapa layarnya sudah tidak mengembang. Layar mesra sudah tidak ada lagi, beberapa layar cintanya juga sudah digulung. Di sini, diburitan ini dulu aku sangat mengagumi sebuah layar yang kalau ia terkembang, sangat indah dipandang. Layar itu bertulisan ‘my soul’. Sekarang yang layar itupun sudah diturunkan.
Ah, tahulah aku, berarti aku harus segera bersiap-siap. Bila layar cinta terakhir sudah tidak berkibar lagi, maka kapal ini akan segera berhenti. Dan tanpa sang pemilik kapal memberitahupun aku sudah tahu apa yang harus aku lakukan. Aku harus turun dan mempersilahkan mereka melanjutkan perjalanan. Aku sangat bahagia tidak harus turun atau ditinggalkan di tengah laut. Karena bila itu terjadi, aku akan sangat sedih. Karena tidak punya kesempatan untuk mengucapkan terima kasih dan salam perpisahan dan mendengar ucapan standar dari pengeras suara bila penumpang kapal turun ‘thanks very much for have take a sailing with us, have a nice day and don’t forget to take a joint with this boat when you have a plan to get a sailing again, bla bla bla….., and thank you.’
Aku sangat bahagia telah diperkenankan ikut dalam sebuah pelayaran yang sangat menyenangkan, yang tak terlupakan, yang semuanya telah tersalin lengkap dalam catatan harianku.