Adam, Alim, Aku


Suara sepeda kecil beroda tiga terdengar memasuki teras, lalu pintu bergedeguman. Begitulah ciri khas Adam anakku kalau pulang.
“Mah, ada gopek?”
“Untuk apa?”
“Ada pengemis.”
“Mamah tidak punya, pakai uangmu saja.” Kataku sambil terus melanjutkan aktifitas memasak.
Anakku itu lalu mendorong kursi makan hingga menempel ke kulkas. Menaikinya, sambil berjinjit dan mengangkat dagunya agar lebih tinggi, ia mencari-cari sesuatu di atasnya . “Gak ada gopek mah, ada juga srebu.”
“Tidak apa-apa, seribu juga boleh, dimana pengemisnya?”
“Tadi masih di depan rumah si Ikhsan.”
“Cepetan, nanti keburu jauh.”
Anakku kembali keluar dengan berlari. “Nek, ini uangnya.”
Sang nenek pengemis itu berhenti lalu memutar badannya kemudian mengangkat sedikit topi capingnya. “Massya Allah nak, leutik keneh tos bageur pisan. Ya Alloh, gusti pangeran mugi-mugi ieu budak janten anak anu bakti kakolotnya, ka bangsa jeung agamana. Janteun budak sing cageur, sing pinteur, sing bageur! Sing jauh tina maksiat, beunhar hade tong hilap mayar jakat. Gera gede nya, gera sakola ka Bandung. Alhamdulillah ya Alloh. Atur nuhun nya Neng.” Nenek itu berlalu.
“Mah, Adam dipanggil Neng.”
Ini bukan kejadian pertama. Anakku Adam adalah seorang bocah laki-laki, tetapi wajahnya cantik jelita. Dagunya berbelah walaupun samar. Bibirnya tipis saja, dilanjutkan dengan dua lesung pipit kecil di pipinya. Hidungnya mancung, bulu matanya lentik sekali seperti habis dirol.
Kalau dagunya pasti dari bapaknya. Bibirnya turunan dari keluargaku. Hidungnya? Seratus persen milikku. Bulu matanya? Dari ayahnya. Tapi, bola mata yang hitam legam dan besar itu? Dari manakah? Ah, aku tidak mau menelusurinya. Aku percaya saja itu milik Adam sendiri. Yang Maha Kuasa memberikannya khusus untuknya. Satu-satunya cara agar ia kelihatan benar-benar laki-laki adalah dengan memotong pendek-pendek rambutnya dan ini jarang dilakukan ayahnya. Lupa itulah alasannya selalu.
“Bapak terlambat lagi?” Adam kecil bertanya, lebih tepatnya mengungkapkan kekecewaanya kepada ayahnya yang sampai di rumah setelah adzan maghrib usai. Adam memang telah menunggu ayahnya untuk bersama-sama sholat maghrib ke masjid dari tadi, dengan baju koko biru mudanya.
“Iya, besok bapak akan pulang lebih cepat. Sekarang kita maghrib di rumah saja ya Mas.”
Suamiku, Alim kadang-kadang memanggil Adam dengan Mas karena menurutnya, kelahiran Adam dirasakannya seperti mendapat rejeki yang melebihi dari emas segunung. Ia seperti mendapatkan berkah yang tiada terhingga.
“Pak, tadi mamah bilang, kalau Adam memberikan uang untuk pengemis karena minta dido’akan, berarti Adam tidak ikhlas. Bener pak?”
Suamiku menatap ke arahku sebentar, “Tidak Dam, tetap ikhlas.” Ia lalu berdiri, sambil membuka kancing kemejanya, “Kurasa belum perlu sejauh itu mengajarinya.”
Adam memang telah jadi bahan diskusi yang tiada habis-habisnya sejak ia brol ke dunia ini.
“Siapa namanya dik?” Kak Alim bertanya padaku yang masih tergolek lemah di tempat tidur rumah bersalin, ketika Adam baru berumur dua hari. Ia membawa kertas dan bulpen. Aku tahu itu standar administrasi rumah bersalin ‘Syifa Budi’ ini. Mereka akan sekaligus membuatkan akte kelahiran untuk setiap bayi yang dilahirkan di sini.
Sejak pernikahan bahkan sejak sebelum itu, hingga kami memiliki Adam anakku, kak Alim masih memanggilku dengan ‘dik’. Dia baru ikut-ikutan memanggilku dengan Mamah ketika Adam mulai bisa bisa menyebutkan kata itu.
“Adam.” Sahutku.
“Oh, Adam siapa?”
“Adam Adrian.”
“Hanya itu?”
“Iya.” Jawabku dengan masih tergolek lemah.
Sepuluh hari kemudian, Akte Kelahiran itu jadi, tertera namanya ‘Adam Adrian Jimmy!’ Kata ketiga itu benar-benar merusak! “Mengapa Jimmy?” Tanyaku.
“Karena bagus aja.” Jawabnya enteng.
“Kalau mau menambah, tambahlah dengan kata-kata yang bagus. Kalau bisa yang berasal dari Al Qur an.”
“Apa artinya Adam?”
Oops
“Allah memerintahkan agar kita memberikan nama yang bagus kepada anak-anak kita. Tidak harus berbahasa Arab. Orang jawa memberi nama anaknya dengan ‘Slamet’ atau ‘Raharjo’, ‘Sugeng’ yang semuanya berarti keselamatan, kesejahteraan. Semuanya memiliki arti yang bagus. Apakah kau akan memberikan nama ‘Al Baqoroh’ yang berarti sapi betina? Atau ‘Annisatul Laily’ yang berarti perempuan malam?”
Dia lucu juga. Tapi dia benar.
“Jimmy adalah satu-satunya presiden Amerika yang bisa memaksa Muso Dhayan, pemimpin Yahudi laknat itu untuk berdamai dengan Mesir dan menyerahkan Gurun Sinai. Tidak ada orang lain yang sanggup. Aku menghargainya dengan mengambil sebagian namanya untuk anakku. Itulah alasannya.”
Ah, sejauh itukah pemikirannya?
Alasan yang tidak terlalu jauh berbeda diungkapkannya dikala tidak setuju ketika aku mengusulkan agar Adam memanggil ‘Abi’ kepadanya dan ‘Umi’ kepadaku. “Menjadi keluarga yang islami bukan berati menjadi keluarga arab. Kita tetap bisa menjadi keluarga yang islami dengan tetap menjadi orang Indonesia. Jeffrey Lang tetap seorang muslim sejati walau tetap seorang Amerika sama seperti Muhammad Ali. Ngomong-ngomong dulu anak-anak Abu Jahal dan Abu Lahab memanggil bapaknya dengan sebutan apa yah?”
Wat?
Adam telah menjadi inspirasi yang tidak pernah kering. Adam juga telah menjadi kunci pembuka hal-hal yang tidak aku ketahui tentang Kak Alim suamiku. Satu demi satu hal yang tidak terduga terkuak. Kukira semuanya akan ku ketahui begitu kami menikah. Ternyata tidak, ‘satu-demi satu’ itu terus berlanjut sampai Adam lahir, sampai kini.
Ketika kehamilanku menginjak usia delapan bulan lebih, kami mulai bersiap-siap membeli perlengkapan bayi, termasuk perlengkapanku sendiri. “Guritamu cuma satu?”
“Iya. Kurasa cukup.”
Kak Alim pergi ke pasar lagi lalu membeli bahan blacu dan menjahitkan gurita bertali dua belas untukku, tidak ketinggalan bebengkung alias stagen yang hanya dipakai orang-orang jaman dulu. Ternyata ia pandai menjahit juga. Itu terjadi di rumah orang tuaku. Disana memang ada mesin jahit.
Kak Adam berani memandikan Adam bayi yang ketika itu masih belum lepas pusarnya. Aku sendiri secara jujur akan mengakui kalau aku tidak sanggup. Ia memandikan dengan tenang, setenang ia memasang popok, gurita dan baju bayi. Kemudian membungkusnya dengan bedong yang sangat rapi. Melebihi rapinya bedonganku atau perawat sekalipun.
Wow, luar biasa. Setelah itu aku akan mendapat giliran mandi dengan air hangat yang telah disiapkannya. Begitu ia melihat aku kesulitan memasang guritaku sendiri, ia segera memasangkannya dengan kencang sambil menggerutu. Aku hanya tersenyum. Juga kasihan. Kak Alim pasti capek sekali. “Capek ya?”
“Gak apa apa, asal kamu jangan sering sering aja beranak.”
“he he he.”
Suatu ketika, Adam menunggu di depan rumah kami, menunggu mang Narno, tukang nasi goreng langganannya yang tidak kunjung lewat.
“Adam ingin nasi goreng? Kita bikin sama-sama yah?” Kak Alim mengajak Adam yang cemberut ke dapur. Lalu mulai mengiris bawang, menggiling bumbu, memotong kecil kecil daging ayam yang telah direbus yang memang selalu tersedia di kulkas, memotong kol, baso dan sosis. Suara berdesis segera mengalun dari atar kompor gas yang dinyalakan Adam. Kak Alim suamiku mulai sibuk menggorang nasi. Blue Band, Masako, kecap Bango, telur dan beberapa bahan yang telah diraciknya tadi sekarang tengah berguling-guling didalam wajan. Semuanya sedang diaduk-aduk Aroma wangi mulai berhembus. Tak lama setelah itu nasi gorang ‘Mang Alim’ segera tersaji. Adam memakannya dengan bernafsu. Akupun ikut mencicipi. “Waah enak banget ya?”
“Iya mah, nasi goreng mang Narno aja kalah nih!”
“Kok nggak ada api yang menyambar ke dalam wajan tadi? Tidak seperti di restoran?”
“Ooh itu pakai arak sedikit. Gak boleh tuh?”
“Ooh.”
“Pak, kenapa tidak jualan nasi goreng aja? Seperti mang Narno, kan enak tuh abis bikin langsung dapet duit, gak usah nunggu sampai sebulan kayak bapak?”
“Kalau bapak jualan nasi goreng, kasihan mang Narno dong, nanti jualannya gak laku...”
Sejak itu aku tidak pernah bikin nasi goreng lagi, tidak akan disentuh oleh Adam! Dia hanya mau makan buatan bapaknya.
“Mah bagaimana caranya Adam bisa lahir?”
Hah, pertanyaan yang tidak terduga sama sekali “Mm gimana yah? Ayahmu memberikan cinta yang banyak sekali untuk mamah sehingga lahirlah Adam.”
Ia kelihatan tidak puas dengan jawaban itu. “Pak, kok Adam bisa lahir, gimana yah?”
“Ooh, bapak sama mamah tertidur, setelah beberapa hari abis itu, lahirlah kamu.”
“Bapakmu bohong Dam!”
“Bapak bohong?”
“Tidak Dam, Bapak hanya salah menjawab. Yang bener jawaban mamahmu.”
Adam hampir tiga tahun dan kurasa sudah waktunya bagiku untuk mewujudkan cita-citaku mengajarinya Ali Ba ta, mengajarinya a i u e o, ba bi bu be bo. Beberapa buku dan lembaran kertas huruf latin dan arab ku beli. Adam malah mencoret-coretnya.
“Adam!”
Ia berlari ketakutan menghambur kepangkuan bapaknya yang sedang bermain piano. Suara piano yang sebelumnya sangat merdu sekarang ditimpali genjrang-genjrung yang sangat berisik.
“Adam!”
“Mah, Adam baru tiga tahun kurang!” Suamiku memandangku dengan heran. “jangan pinta ia melakukan sesuatu diatas usia itu. Umur berapa dulu mamah mulai belajar membaca?”
Ya Allah, dia benar lagi. “Pak kalau memberi contoh kepada anak dengan sholat berjamaah ke masjid sebaiknya dilakukan mulai usia berapa yah?”
“He he ‘bu Ustadzah’ benar. Dam, ikut bapak ke masjid yuk?”
Adam sedang tertidur di kasur palembang di depan tivi setelah menonton film kartun ‘catdog’ kesukaannya. aku dan dan kak Alim tengah memandangi wajahnya.
“Dulu, waktu Adam masih dikandunganmu, apa yang kamu do’akan?”
“Semoga ia menjadi anak yang soleh, berbakti kepada orang tuanya, kepada nusa dan bangsa.....”
“Dalam hati kecilmu, apa yang kau inginkan?”
“Aku ingin anak yang cantik”
“Ooh, aku inginkan anak laki-laki. Tuhan telah mengabulkan do’a-do’a kita.”
“Iya, anak laki-laki yang cantik.”
Kak alim mendekatkan wajahnya ke pipi Adam. Sesaat lagi ciuman itu akan terjadi. Adam akan terbangun dan aku akan menjadi repot menidurkannya kembali. Ia akan rewel lama sekali. Aku segera menahannya dengan menarik bahu Kak Alim.
Ia menatapku sebantar. “Ciuman yang sudah setengah jalan tidak boleh dihentikan!” katanya.
Bibir yang telah monyong itu tiba-tiba mendarat di bibirku. Mmmwwwaaah!
Ah Dam, cinta bapakmu memang banyak sekali....!

Komentar