Selasa, 24 Desember 2013

di Bulan (purnama?)

tak sengaja aku melihat bulan, belum sempurna penuh memang
(atau sudah?) tak begitu jelas
pandanganku terhalang bayang-bayang pohon
aku mencari-cari bayangmu di sana
tak ketemu memang
yang muncul justru kenangan
beribu-ribu kenangan
senyum, tawa, dan air mata
rindu, sesak dan melesak
aku mencari-cari sungai tempat biasa aku menepi
di hatimu, di rindu yang menggebu-gebu
di cinta, di yang tak terdefinisi
di kasih, di sayang, di yang tak terjemahkan


16 Dec 2013

Jumat, 13 Desember 2013

Cinta adalah Omong Kosong

Kadang-kadang kita hanya perlu berbicara kepada angin, di pinggir pantai, di antara riuh gemuruh ombak. Berteriak, tersedu, mungkin juga tertawa. Angin seumpama rasa yang tak terbentuk, hanya dapat dirasakan. Gerakannya, kadang begitu anggun, kadang begitu liar. Membuat hati berdebar-debar. Merobek dan menyakiti.

Rasakah yang menyemai benih rindu kemudian tumbuh besar menjadi cinta?

Jika rasa itu angin, maka sah-sah saja menganggapnya semacam kamuflase, atau fatamorgana. Tak ada yang bisa diharapkan selain harapan itu sendiri, bahwa angin itu ada, bahwa rasa itu bukan utopia. Maka dengan itu kita bisa berdamai dengan diri sendiri. Meredakan amuk amarah, meluluhkan emosi. Membuat sadar bahwa rasa bukanlah sekotak surat yang dikirim tanpa alamat. Yang bisa diterima oleh siapa saja.

Selasa, 03 Desember 2013

Di sini

gambar diambil dari sini

di tempat ini harapan masih memiliki tempat
walau pagi seringkali hanya disambut percikan air
dan ikanikan yang berenang di kolam berlumut
juga rumputrumput yang semakin tumbuh subur
di perdu pohon mangga
di perdu pohon kelengkeng
di sekeliling pohon semangka yang tumbuh tanpa sengaja

di secangkir kopi kita kerap memandangi citacita
di koran-koran lusuh yang diterbangkan angin
di obrolan yang lebih banyak diwarnai diam
lalu kita beranjak
masuk ke ruangan masing-masing

Senin, 02 Desember 2013

Menunggu (mu)

Hutan bambu
Di ujung senja yang menjuntai aku masih menunggu. Bahwa sebentar lagi langit akan gelap, memang! Tapi gelap itu tidak akan mematikan harapanku untuk menunggu (mu).
Justru gelap akan menuntunku pada pagi. Waktu di mana sinar mentari terburai dan aku bebas menyirami tubuhku dengan cahayanya. Waktu di mana burung-burung terbangun untuk berkicau. Lalu satu dua suaranya paling merdu tertangkap telingaku. Meski setelahnya aku masih belum menangkap merdu suaramu, tak apa. Selalu ada kisah manis di balik prosesi menunggu (mu) bukan?
Menunggu (mu) adalah jeda bagi puisi untuk melahirkan narasi. Hingga akhirnya kau datang bersama kesiur angin dan setitik embun.

Yuk, (menolak) seks bebas!

The Stiletto Heel @internet
Kemarin pagi saat sarapan saya sempat-sempatkan duduk di depan TV, padahal udah nyadar bakal telat sampai di tempat kerja. Kebetulan sepupu saya lagi nonton chanel RCTI, pagi-pagi begitu apa lagi kalau bukan DahSyat yang jadi pilihannya. Tapi ada yang menarik perhatian saya pagi kemarin, selain hostnya yang lebih banyak dari biasa, juga pita merah yang dipakai oleh masing-masing host tersebut. Juga para penonton yang memenuhi studio DahSyat.

Saya tanya ke sepupu kenapa sih mereka itu pada pakai pita warna merah begitu? Sayangnya adik sepupu saya juga ngga tahu. Nonton ya nonton aja dia. Baru ngeh ada pita-pitaan setelah saya nanya. Beberapa saat kemudian barulah saya tahu kalau mereka sedang memperingati Hari HIV/AIDS sedunia yang jatuh pada Minggu, 1 Desember 2013 kemarin.

Selesai sarapan saya pun langsung cabut berangkat kerja. Di tempat kerja, setelah cek email dan menyiapkan beberapa bahan pekerjaan saya cek timeline di facebook. Beberapa jam kemudian muncul notifikasi dari salah seorang teman. Saya masuk ke link dari notif tersebut, mau tahu apa yang saya temukan di sana? NATIONAL CONDOM WEEK 2013!

Minggu, 01 Desember 2013

Perih karena cinta

Perih karena cinta
Dan benar,
Perih itu rasanya sangat tipis sekali
Bagai silet yang menyayat dan breetttttt
Tiba-tiba sudah putus nadinya

Tapi perih oleh cinta ini rasanya lebih tersayat dari sayatan silet
Bukan, ini bukan soal cintaku yang tak terperi
Ini oleh cinta mereka yang tidak kukenal
Yang kubaca hanya lewat tulisan demi tulisan
Tapi perihnya sampai ke hatiku