Kamis, 30 Agustus 2007

Rabu, 29 Agustus 2007

Pesan Kepada Teman

"Salam. Terimakasih telah mengantarkan kopian Meretas Jalan Menuju Jingga
(saya menunggu2 anda online dari kemarin).
Saya betul2 gak menyangka, anda menitip itu untuk saya, saya kaget bercampur senang (beberapa saat kemudian terharu), teringat perjuangan anda menulis itu, dan perjuangan anda mengantarnya untk saya. Saya sudah membaca semuanya.
Terimakasih telah berbagi kpd saya.
Jika nanti anda sdh online, saya ingin dengar cerita anda kala mengantarnya kpd saya"



Empat baris pesan muncul dalam bentuk offline message begitu saya membuka program yahoo messenger dilayar komputer. satu dari empat itu tidaklah terlalu menarik untuk diperhatikan, bahkan langsung saya delete tetapi tidak untuk tiga pesan lainnya yang dikirimkan oleh nick name yang sama. membaca pesan tersebut membuat saya serta merta ingin menangis dan mengeluarkan air mata sebanyak-banyaknya. namun karena ditempat umum dan di ruangan terbuka itu tidak mungkin untuk dilakukan. menangis didepan orang? adalah hal yang tidak mungkin saya lakukan dan tidak ingin saya lakukan kecuali dia adalah orang-orang pilihan bagi saya.

karenanya, yang terbaik untuk saat itu adalah memilih rest room sebagai tempat yang tepat untuk mengeluarkan semua air mata yang mulai menggenang saat kalimat terakhir selesai saya baca. aneh sekali. saya merasa cengeng, sangat cengeng bahkan sejak Meretas Jalan Menuju Jingga selesai ditulis. menangislah saya sepuasnya di kamar mandi, beruntungnya kondisi kamar mandi tersebut bersih dan nyaman sebagai fasilitas yang disediakan untuk umum.

tapi bukan soal itu yang ingin saya ceritakan, melainkan perihal cerita saya yang ditunggu oleh seorang teman tersebut. anggap saja ini sebuah kejutan baru untuknya. aktivitas yang semakin padat akhir-akhir ini membuat saya jarang sekali bisa online pada siang hari. paling itu baru bisa dilakukan setelah pukul tujuh malam. hal yang berbeda dialami oleh teman saya, ia bisa online mulai pagi hingga pukul enam sore. perbedaan inilah yang membuat intensitas kami "bertemu" menjadi berkurang dan oleh karenanya saya terpaksa "menitipkan" pesanannya di ruang tamu ini.

seorang teman, yang saya sedikit sekali mengetahui tentangnya, tidak tahu asal-usulnya, tidak tahu dimana ia tinggal, saya hanya tahu nama lengkapnya, dimana dia bekerja, sedikit tentang latar belakangnya sebagai aktivis, tapi tentu saja saya tidak akan mengatakan siapa teman saya itu. saya ragu apakah kami pantas disebut sebagai teman (atau mungkin sahabat?) mengingat serba sedikitnya pengetahuan kami tentang masing-masing tadi.

semua itu kemudian menjadi penting dan berarti saat ia menjadi istimewa dalam keseharian saya, dialog-dialog yang kami lakukan, seloroh, semua terasa hidup dan banyak menginspirasi saya dalam banyak hal. saya banyak belajar dari ketenangan dan kematangannya dalam berfikir. satu hal yang akan selalu saya ingat, dia hadir dalam hari-hari berat saya, menemani saya, termasuk dalam proses menyelesaikan Meretas Jalan Menuju Jingga. menenangkan saat saya dengan asertifnya mengemukakan apa yang saya maui dan inginkan. dia memang teman yang menyenangkan, tidak pernah menyalahkan, tidak pernah menggurui, tidak pernah mendikte, walaupun ia berhak melakukan itu mengingat usia kami yang memang terpaut jauh. karena itu saya menjadi sangat hormat dan menjunjung tinggi apa yang dulu pernah kami sepakati. dan dengan itu semua ia masih sering menerima kemarahan dan kejengkelan saya yang terkadang tidak masuk akal. mau mendengar jerit hati saya, mau merasakan tangis dan air mata terpendam saya, dan kadang iseng memberikan jalan keluar yang konyol. tapi itulah kelebihannya.


dari awal saya memang sudah berfikir untuk memberikan kejutan itu untuk nya. sejak itu terfikirkan oleh saya, saya hanya berharap agar ia masih bekerja ditempatnya yang sekarang sehingga tidak perlu repot-repot mencari-cari alamatnya untuk menitipkannya. karena itulah, begitu cerita tersebut selesai saya tulis, saya buru-buru mengeditnya lalu mem-print out nya hingga hampir pukul sebelas malam. menjelang tengah malam itu saya pulang kerumah dengan niat ingin menitipkan sesuatu dalam amplop besar berbentuk surat yang harus saya tulis tangan (saya sengaja tidak ingin mengetiknya). lalu barulah setelah itu saya mengirimkannya kepadanya.

tapi niat itu hanya sampai pada niat saja, karena begitu sampai dirumah saya kecapean dan sangat lelah. rasa kantuk yang luar biasa membuat saya tidak sanggup menuliskan apapun walau hanya sepotong tulisan untuknya. tapi alangkah tidak enaknya ditengah rasa kantuk yang mendera itu saya harus mengerjakan pekerjaan lain (bahan presentasi untuk esok hari) yang mau tidak mau harus saya selesaikan malam itu. dan selesai hingga akhirnya saya terkapar dilantai. semestinya kata-kata ini tidak dituliskan disini, tapi dihalaman kertas putih dengan tinta hitam yang saya punyai. tapi....

esoknya seperti biasa, saya memasukkan naskah tersebut didalam amplop besar. bercampur dengan isi tas yang lain. bahan presentasi, botol minuman, dua buah kotak pensil besar yang berbeda fungsi, dan cet berecet lainnya yang tidak perlu disebutkan satu persatu tapi sangat berarti demi kenyamanan beraktivitas.

maka sebelum pukul lima sore saya sudah berhasil menitipkan itu pada petugas khusus yang ada disana. tentunya setelah dua kali saya bertemu orang yang salah untuk menitipkan itu. saya memang bertekad ia harus menerima itu pada hari tersebut (tapi saya tidak tahu apakah dia menerimanya hari Jumat sore itu atau tidak).

"Titip ini untuk Bapak Bla bla bla..." kata saya sambil menyerahkan amplop. petugas tersebut mengangguk seraya mengatakan apakah saya perlu dibuatkan nota penerimaan atau tidak. dan saya menjawabnya tidak perlu. saya berfikir, kalaupun teman saya itu tidak menerimanya atau amplop itu hilang, berarti memang saya yang belum beruntung.

tidak ada perjuangan apa-apa untuk mengantarkan bungkusan itu kepadanya seperti yang ia katakan. hanya datang, menitipkan lalu menuju kantin dan memesan Peunajoh Raja disana. saya senang, telah memenuhi janji saya pada diri saya sendiri. dan saya senang, dia telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam hidup saya.

21:03
rumah cinta
28/8/07



Senin, 27 Agustus 2007

Aku Diminta Bercerita

Aku Diminta Bercerita
aku diminta bercerita tentang cinta
terus terang aku bingung
sama bingungnya seperti diminta bercerita tentang isi hati
sebab banyak sekali yang berkubang disana
ketika matahari tergelincir
kumpulan air mata membanjir
membentuk lumut-lumut berkerak disudut yang entah
mungkin juga berkolaborasi dengan bulan yang terbalut perak
yang ku katakan ada bola matanya disana
aku setengah sadar
terhuyung dan hampir terjerembab
tapi ku akui
kau memang hebat dan berani



senin, 27/08/07

Jumat, 24 Agustus 2007

Dialog Dua Perempuan

Dialog Dua Perempuan

Tabloid Politik dan Hukum yang dipegang perempuan paruh baya tersebut langsung ia letakkan saat melihat putri semata wayangnya muncul diruangan tengah dengan wajah cemberut. Seperti biasa, Hani perempuan itu langsung menerima salaman dari anaknya disusuli dengan kecupan dikening anaknya. Begitulah cara ia menumpahkan kasih sayang pada anaknya.

“Bagaimana hari ini? Menyenangkan?” Tanya Hani pada anaknya, Zalia

Zalia mengangguk. Tapi Hani tahu kalau anggukan itu lebih pada ekspresi tidak menyenangkan yang ingin dikatakan oleh Zalia.

“Apakah tidak bisa kalau tidak ada pelajaran Bahasa Indonesia Mama?” Tanya Zalia kemudian. Mulutnya masih moncong kedepan. Hani jadi geli melihat sikap anaknya. Kalau tengah begitu pasti dia disuruh mengarang lagi di sekolah. Tugas yang paling tidak disukai oleh Zalia.

“Bisa saja, toh setiap hari kita sudah berbicara dalam bahasa Indonesia.” Jawab Hani pendek. Zalia tersenyum senang, ia merasa ibunya berpihak padanya. Mengarang memang tugas yang sangat menyebalkan baginya. Sejak ia tahu menulis dan membaca hal yang paling tidak disukai olehnya adalah pelajaran menulis. Konon lagi kalau ia disuruh memikirkan sesuatu dan menuliskannya dalam bentuk cerita.

“Terus untuk apa pelajaran itu masih ada juga.”

“Karena Bahasa Indonesia yang kita pakai banyak tidak benarnya. Penggunaan kosa kata yang tidak tepat,”

“Tapi…” potong Zalia cepat.

Alis Hani berkerut, menunggu ucapan anaknya selanjutnya.

“Tapi kenapa?”

“Akhir-akhir ini bukan tugas mengarangnya yang membuat Zalia sebal. Tapi gurunya.”

“Lho, kok gurunya. Memang kenapa dengan gurunya?” hani sedikit tidak mengerti dengan alasan yang diberikan oleh Zalia.

“Bapak itu seperti pilih kasih terhadap siswa yang lain. Masak anak-anak yang lain disuruh mengarang bebas, sedangkan aku disuruh mengarang tentang keluarga.” Mata Zalia berkaca-kaca. Tampaknya ia memang sedang kesal sekaligus sedih. “Mama kan tahu, Zalia paling tidak suka pelajaran mengarang, apalagi mengarang tentang keluarga. Dimana Zalia harus bercerita tentang ibu, tentang ayah, tentang kakak, adik….bapak itu tidak mau kalau aku hanya menceritakan tentang ibu saja. Padahal aku sudah katakan kalau tidak punya ayah, tidak punya adik…” kali ini tangis Zalia benar-benar pecah. Air matanya mengalir dipipinya yang putih kemerahan.

Hani menarik napas berat, kegundahan yang sama juga mulai merasuki dirinya. Bahkan lebih parah lagi dari yang dirasakan oleh Hani anaknya. Entah mengapa, tiba-tiba saja ia merasa tulang belulangnya hancur. Seluruh persendiannya lemas tak bertenaga, sekalipun untuk merengkuh Zalia kedalam pelukannya.

Rasanya baru kemarin ia melahirkan Zalia, memberinya asi dan nasi pisang, mengganti popoknya, meninabobokannya, menggendongnya. Tapi hari ini ia mendapati anaknya sudah dewasa, ia sudah kelas dua SMU, sudah dapat mengatakan ia tidak menyukai ini dan tidak menyukai itu. Hal yang diam-diam sangat ditakuti Hani.

Entah seberapa sering Zalia bertanya mengapa ia tidak pernah melihat ayah dirumah mereka. Tidak pernah mengantarnya ke sekolah layaknya teman-temannya yang lain. Ia hanya mengenal seorang ibu sejak lahir hingga dewasa. Namun ia tak pernah bertanya lagi soal itu saat tahu bahwa yang melahirkan dirinya adalah Hani. Ia tak tahu bahwa selain Hani tentu saja ada seseorang yang membuatnya ada ke dunia ini. Ia hanya tahu proses melahirkan hanya bisa dilakukan oleh perempuan, bukan laki-laki. Karena itu ia tak begitu mempedulikan keberadaan seorang ayah baginya.

Namun, kondisi itu pelan-pelan berubah seiring dengan pertumbuhan usianya yang semakin dewasa. Ia mulai lebih aktif lagi menanyakan perihal ayahnya pada sang ibu. Namun jawaban yang ia dapatkan tak pernah puas seperti yang ia harapkan.

“Nanti kalau kamu sudah dewasa kamu akan tahu Zalia.” Jawab hani suatu ketika

“Kapan Zalia dewasa mama?”

“Saat kamu mulai merasa membutuhkan orang lain selain Mama.”

“Siapa itu Mama?” Zalia masih belum paham

“Nanti kalau kamu sudah dewasa kamu akan tahu sendiri.”

Zalia kecil hanya melongok menatap mata ibunya yang sendu. Ia tak tahu mengapa ibunya berubah setiap kali ia menanyakan siapa ayahnya. Tapi, namanya saja anak kecil ia tidak tahu dengan semua itu.

“Mama?” panggil Zalia setelah agak lama. Hani tersentak dan langsung membetulkan letak duduknya.

“Iya sayang. Jangan menangis lagi ya.” Ucapnya pelan

Kali ini giliran Zalia yang bengong, karena ia sudah berhenti menangis sejak tadi tapi mengapa baru sekarang Hani menyuruhnya diam.

“Mama memikirkan sesuatu?”

Hani menggeleng.

“Mama…” panggilnya pelan

“Ya sayang.” Jawab Hani sambil mengusap pipi anaknya. Kembali ia menangis. Setiap kali memandangi Zalia selalu ia menangis, selalu saja hatinya sendu dan muncul rindu yang menggelegak. Wajah itu putih kemerahan, bukan seperti dirinya yang hitam manis, bukan juga seperti Iyan mantan suaminya yang tidak terlalu putih. Hidungnya mancung dan matanya agak kecoklatan. Rambutnya sedikit agak kemerahan. Orang akan lebih percaya bila dikatakan Zalia memiliki garis keturunan arab ketimbang dikatakan keturunan Melayu maupun Aceh.

Zalia memang sangat berbeda, dan juga istimewa bagi Hani. Ia sama sekali tidak berjiwa seniman padahak dirinya dan mantan suaminya, ayahnya Zalia adalah penulis dan seniman, Iyan seorang pelukis dan pemusik. Tapi Zalia, ia sangat menyukai pelajaran eksakta dan hal-hal yang berbau ilmiah dan penelitian. Karena itu sedikit sekali orang yang percaya kalau Zalia anak kandung Hani. Mereka lebih senang mengatakan Zalia anak hasil adopsi atau anak titipan. Walaupun untuk itu setiap kali Hani harus menangis karena Zalia memang darah dagingnya sendiri. Anak hasil pernikahannya dengan Iyan, mantan suaminya yang sekarang entah dimana.

“Zalia sudah tahu, siapa orang lain yang mama maksudkan dulu.”

“Siapa dia?” selidik Hani

“laki-laki kan Ma”

Hani mengangguk sambil mengusap kepala anaknya. Zalia memang benar.

“Jadi sekarang Zalia boleh tahu kan tentang ayah Ma?”

“Benar kamu ingin tahu semua itu?”

“Iya.”

“Baiklah,” Hani menarik napas. “Kita mulai dari arti nama kamu Zalia. Mengapa mama memberikan kamu nama seperti itu. Yang dulu sering sekali kamu protes karena orang-orang banyak memanggil mu dengan Zal. Dan kamu bilang nama itu terdengar seperti nama laki-laki kan?” hani memulai ceritanya. Zalia mengangguk. Yah, dulu dia memang sering merajuk saat orang-orang memanggilnya begitu.

“Nama itu berasal dari nama seseorang yang bernama Zal. Seseorang yang sangat dekat dihati mama. Saking dekatnya mama sampai tidak bisa menghadirkan orang lain dihati mama selain dia.”

“Apakah Zal itu bagian dari nama ayah?”

Hani menggeleng

“Mama mengenal Zal jauh sebelum mama bertemu dan menikah dengan ayah mu Zalia. Karena sesuatu dan lain hal, mama tidak bisa terus bersama dengan Zal. Karena itu akhirnya mama menjatuhkan pilihan pada ayah mu. Tapi itupun tidak bertahan lama, karena mama tidak sanggup terus menerus hidup diliputi kebohongan.”

“Apa maksud mama kebohongan.”

“Mama tidak pernah bisa mencintai ayah kalian, karena itu mama memutuskan dan meminta agar ayah menceraikan mama.”

“Ayah mengabulkan?”

“Tentu saja tidak sayang. Tapi mama bersikeras.”

“Maksud mama kalian? Apa aku punya kakak?”

“Iya, laki-laki. Ayah mu tidak mengizinkan mama membawanya.”

“Berarti ayah tidak sayang pada ku.”

“Bukan begitu. Saat mama pergi, ayah tidak tahu kalau mama mengandung mu. Mama juga tidak tahu kalau saat itu mama mengandung. Kalau mama tahu tentu saja mama tidak terlalu ngotot untuk berpisah dari ayah”

“Apakah aku mirip ayah Ma?”

Lagi-lagi Hani menggeleng

“Jadi aku ini anak siapa Mama?”

“Zalia, jangan berpikir buruk dulu. Kamu tidak perlu takut dan jangan pernah berfikir kamu anak hasil tidak baik. Saat mengandung mu, mama terus menerus merindui Zal. Fotonya selalu mama lihat, pokoknya segala sesuatu yang mama lakukan karena termotivasi oleh Zal. Mama juga sangat kaget begitu kamu lahir seluruh wajah Zal ada pada diri mu. Kemiripan kalian sangat banyak, hobby, keinginan. Semua itu tidak sanggup mama jangkau mengapa bisa terjadi Zalia.” Air mata Hani mengucur deras. Jiwanya benar-benar lara sekarang. Ia sangat kasihan pada Zalia yang tidak pernah mengenal siapa ayahnya. Dan juga kepada anak lelakinya yang sekarang tidak pernah ia tahu keberadaannya, apakah ia tumbuh selamat atau sudah tidak ada lagi. Apakah dia sudah dewasa dan tampan seperti ayahnya atau bagaimana. Tak bisa dilukiskan bagaimana rindunya.

“Mengapa bisa begini mama?” Zalia jadi ikut menangis.

“Suatu saat kamu akan mengerti Zalia. Tentang arti mencintai dan dicintai. Akal kita tidak pernah cukup untuk mengkaji semua itu. Akal kita terbatas.”

“Bagaimana kalau tiba-tiba ayah hadir ditengah-tengah kita Ma?” Tanya Zalia kemudian.

Hani merengkuh anaknya dan menjatuhkannya dalam pelukannya. Baginya ada atau tidak kehadiran Iyan kembali bukanlah persoalan baginya. Ia sudah tak pernah memikirkannya lagi untuk kembali hidup bersama Iyan.

“Jangan katakan kalau guru bahasa mu itu adalah ayah mu Zalia.”

“Itulah yang ingin aku kata kan Mama.”

Dan air mata adalah jawaban atas semua itu.

Rumah Cinta

24/08/07

Selasa, 21 Agustus 2007

Meretas Jalan Menuju Jingga Bagian XIV (Tamat)

Meretas Jalan Menuju Jingga Bagian XIV (Tamat)

Lama ku pandangi wajah Juan. Belum ada sepatah katapun yang mampu ku ucapkan, padahal keberadaan Juan disini adalah karena undangan ku setelah tiga bulan lebih kami tidak pernah saling bertemu, tidak pernah berkirim kabar dan tidak pernah saling tahu bagaimana keadaan masing-masing. Sangat banyak yang ingin ku katakan padanya, tentang keinginan dan semua isi hati ku selama ini. Tapi entah mengapa bibir ini tiba-tiba mengatup. Suasana hati ku berganti dengan keharuan dan kesenduan yang sangat luar biasa.

Pada saat-saat seperti ini kebimbangan dan keraguan kerap kali menyerangku. Membuatku terkurung antara iya dan tidak untuk mengambil keputusan. Tapi, kali ini aku tidak boleh gagal, apa yang beberapa waktu lalu pernah ku lakukan tidak boleh terulang lagi hari ini. Aku ingin semuanya menjadi baik, berjalan sebagaimana garis yang wajar, tidak menelikung, tidak merampas hak orang lain. Aku hanya ingin memiliki Juan sekarang.

Tapi apakah ia masih menerima ku? Perempuan yang pernah mempermainkannya karena alasan yang tidak masuk akal. Perempuan yang telah kalah oleh perasaannya sendiri. Perempuan yang telah membuat hidupnya sendiri terkatung-katung?

Untuk yang kesekian kalinya aku hanya bisa memandangi wajah Juan yang teduh. Wajahnya yang bersih dan bersinar masih sama seperti saat pertama sekali aku mengenalnya. Sikapnya yang lembut dan sabar juga tak pernah berubah meskipun aku telah berkali-kali melakuan kesalahan. Dan ia masih mau memenuhi undangan ku malam ini, itu artinya dia tidak membenci ku. Setidaknya aku masih berani berharap matahari jingga ku belumlah tenggelam.

Entah mengapa kali ini aku sangat sulit mengeluarkan apa yang ada dihati ku. Tidak seperti biasanya, meskipun aku cenderung introvert tetapi bisa menjadi sangat terbuka kepada orang yang sudah sangat dekat dengan ku. Tak terkecuali Juan. Tapi lidah ku seperti tidak berfungsi sama sekali saat ini.

"Sudah setengah jam kita duduk, apakah hanya untuk diam saja Jingga?" Tanya Juan memecah keheningan. Aku menoleh, memandangi bola matanya yang hitam dan bersinar. Ku tarik napas dalam-dalam, berharap semua bongkahan gundah dihati ku menyublim dan menguap bersama semilir angin.

"Abang yakin, ada sesuatu yang ingin kamu bicarakan, dan penting. Kalau tidak untuk apa kamu mengundang abang setelah sekian lama kita tidak pernah berkomunikasi. Tapi melihat mu diam begini abang jadi ragu…" Juan sengaja mengulurkan ucapannya.

"Abang marah sama Jingga?" Tanya ku pelan.

"Abang tidak pernah merasa begitu, kamu masih muda, pola pikir dan suasana hati kamu masih sering berubah-ubah, dan abang bisa mengerti itu. Tapi sayangnya kamu tidak pernah mau membaginya bersama abang, kamu telan dan pendam sendiri masalah mu." Kata Juan tenang.

"Jingga tidak bermaksud begitu bang,"

"Kamu boleh-boleh saja bilang tidak, tapi abang bukan anak kecil lagi."

"Maksud Jingga mengundang abang kali ini adalah untuk memperjelas hubungan kita, sebelumnya Jingga minta maaf telah berlaku tidak baik terhadap abang."

"Kamu mau hubungan kita ini dikemanakan?"

"Semuanya terserah abang, Jingga tidak bisa mengatakan apa-apa. Belum tentu apa yang Jingga maui abang juga menyetujuinya. Aku…aku hanya merasa tidak pantas saja menjadi seseorang yang istimewa untuk abang."

"Mengapa berkata seperti itu?"

Aku tidak langsung menjawab. Pertanyaan Juan tidak mudah untuk dijabarkan. Perlu susunan kata-kata yang panjang dan terarah untuk bisa menggambarkan seperti apa sebenarnya hati dan perasaan ku. Aku mengamati bayangan wajahku dari pantulan meja. Walaupun tidak begitu jelas tapi sangat kentara kesenduan dan kegelisahan disana. Aku mendadak menjadi tak ubahnya seperti pesakitan yang duduk dimeja hijau. Menunggu ketukan-ketukan palu dari Juan tentang kelanjutan hubungan kami. Terus terang aku sangat takut Juan hilang dalam kehidupan ku dan berharap ia akan menjadi suami ku. Tapi dengan apa yang pernah ku lakuan padanya bukan tak mungkin Juan sudah mencoret nama ku dari daftar sebagai calon istrinya.

"Aku tidak punya alasan bang. Tapi yang pasti aku merasa begitu, abang terlalu baik untuk gadis seperti ku, terlalu dewasa untu menerima sikap ke kanakan ku ini." Kata ku akhirnya.

“Apa kamu berfikir abang akan menghakimi orang begitu mudahnya Jingga? Apakah ada yang sempurna didunia ini selain sang pencipta itu sendiri?”

Aku menggeleng.

“Kalau begitu mengapa kamu berkata seperti itu?”Tanya Juan lagi.

“Ya…enggak begitu juga…” aku tergagap. Benar-benar tampak bodoh dihadapan Juan.

Tanpa aba-aba Juan merapatkan dirinya didekatku. Aku sama sekali tidak menggeser dudukku. Kedua tangannya yang kekar memegang bahu ku. Aku diam saja dan membiarkan jari-jari tangannya mencengkeram pundakku agak sedikit kuat. Matanya yang lembut menatap bola mata ku hingga membuat ku malu dan menunduk.

“Jujur saja abang katakan, abang sangat mencintai dan menyayangi kamu Jingga. Perasaan abang pada mu masih seperti dulu. Abang tetap ingin kamu menjadi istri abang, bisa menerima abang dengan apa adanya,” ucapnya tak lama setelah itu. Aku terdiam sesaat. Merasa tak percaya dengan apa yang baru saja ku dengar. Tak yakin dengan perkataan Juan. Juan mengangguk sekali lagi untuk meyakinkan hati ku. Sepertinya ia mengerti dengan keraguan ku.

“Sekarang semuanya tinggal menunggu keputusan kamu. Kalau kamu masih mau hubungan ini dilanjutkan, kita lanjutkan dengan syarat kita harus segera menikah. Kalau tidak….ya, kita sudahi sampai disini saja.” Ucap Juan pelan

Aku mendongak. Mencari kebenaran sekali lagi dimatanya yang teduh

“Benarkah?” Tanya ku, masih dengan rasa tidak percaya yang besar.

“Iya. Kamu mau abang harus bilang bagaimana lagi?” tanyanya setengah bercanda. “Apa kamu mau abang mengambilkan bulan itu untuk mu?”

Aku tertawa mendengar candaannya yang berlebih. Juan memang mempunyai segalanya. Dalam segalah hal ia banyak kesamaan dan kemiripan dengan Zal. Senang bercanda, romantis, berwibawa, dan juga manja. Tapi Juan tetaplah Juan, bukan Zal maupun yang lainnya.

Tak sadar air mata ku jatuh menetes. Keharuan tiba-tiba menyeruak begitu hebatnya dalam hati ku. Membuat ku tak mampu membendung air mata yang akan keluar. Air mata ku jatuh seiring dengan bibir yang terus tersenyum dalam ketakjuban. Semua ini adalah karunia. Jika saja aku bisa berbagi kebahagiaan ini dengan kedua orang tua ku. Betapa lebih indahnya.

“Tapi …” tiba-tiba Juan mengucapkan sesuatu. Seperti ada kerisauan dihatinya. Aku kembali cemas

Ada apa bang?” Tanya ku penuh selidik. Aku khawatir dia berubah pikiran.

“Bagaimana dengan wali nikah kamu?”

Aku menghela napas.

“Jingga sudah bicarakan dengan Om Aby, beliau sudah bersedia.”

“Maafkan abang ya sayang. Tidak berhasil meyakinkan hati orang tua mu. Kita berdoa saja semoga Allah memberikan keajaiban-Nya.”

Aku mengangguk pelan. Hanya itu yang bisa ku lakukan. Aku sendiri juga masih belum mengerti dengan sikap orang tua ku yang tiba-tiba keras dan tidak mau bertoleransi sedikitpun begitu. Padahal aku tahu mereka sangat menyayangi ku, terlebih setelah kakak dan adik ku meninggal dalam kecelakaan lima tahun yang lalu. Mereka membuang kesedihannya dengan memanja kan ku dengan sangat berlebihan. Walaupun untuk menandingi itu aku terpaksa mengenyampingkan beberapa keinginanku yang tidak sesuai dengan mereka.

“Ayah dan mama sangat sayang pada Jingga. Semua orang tahu itu Bang. Jingga juga bingung mengapa bisa jadi begini.”

“Sudah, jangan dipikirkan lagi. Paling mereka hanya bisa bertahan sebentar dengan cara begitu.”

“Semoga.”

***

Air mata ku terus mengalir. Walaupun bedak dan pemerah pipi sudah dibubuhkan oleh Bibi Intan, istri paman Aby tetap saja tidak mampu ku bendung air mata ku untuk tidak meleleh. Berkali-kali bibi Intan menyapunya dengan tisu, berkali-kali pula air mata ku tumpah dan membasahi pipi ku. Disamping kiri pama Aby berdiri mematung, memandangi ku dari cermin besar didepan ku. Barangkali ia juga tengah berfikir sama seperti yang sedang aku fikirkan. Mengapa ayahku belum juga luluh sampai hari ini. Mengapa ia tega membiarkan anak perempuannya dinikahkan oleh adiknya. Yang seharusnya menjadi tanggung jawabnya sebagai orang tua.

Tangan paman Aby yang besar menyentuh bahu ku. Sekedar untuk mengalirkan semangat dan membuang kesedihan ku. Agar aku merasa yakin, bahwa dalam kondisi seperti ini masih ada yang mau menerima ku. Masih ada yang menganggap ku anak dan bersedia menjadi wali nikah ku. Entah apa jadinya bila pama Aby tidak bersedia menjadi wali nikah ku. Mungkin aku juga tidak akan mau menikah.

“Kuat kan hati mu Jingga. Jangan menangis terus. Pengantin laki-lakinya sudah datang.”

“Bagaimana tidak sedih dan menangis paman, disaat-saat seperti ini semestinya ayah dan mama yang mendampingi Jingga. Bukan paman. Peristiwa seperti ini sekali dalam seumur hidup Jingga, dan juga ayah, karena mereka tidak punya anak lain selain Jingga.” Ucapku dengan tangis yang makin keras. Bibi Intan semakin kalang kabut melihat ku. Begitu juga dengan paman Aby, kedua suami istri itu sibuk menenangkan ku, menyuruh ku diam. “Tapi aku….Tidak ada seorang anakpun yang senang menikah seperti Jingga ini paman, sudah tidak direstui, diusir dari rumah, harus menyiapkan semuanya sendiri. Entah apa jadinya bila paman juga tidak mau menerima Jingga.” Aku makin tersedu-sedu. Ku peluk bibi Intan dengan erat.

“Sudah sayang, ini hari kebahagiaan mu, jangan menangis terus ya? Bibi yakin, mama dan ayah pasti akan menemui kamu, walaupun kita tidak bisa pastikan kapan harinya. Kami cukup mengenal siapa ayah mu.” Ucap bibi Intan lembut. Paman Aby mengangguk mengiyakan.

Acara pernikahan ini sengaja dibuat sesederhana mungkin. Dari keluarga ku hanya dihadiri oleh paman Aby dan bibi Intan, nenek dan beberapa teman dekat ku saja. Sementara dari pihak Juan yang datang hanya kedua orang tuanya, kakak dan seorang adiknya dan beberapa orang lainnya yang tidak ku kenal. Aku tak sanggup untuk menghadirkan banyak orang sementara kedua orang tua ku sendiri bersikeras untuk tidak hadir. Anak mana yang sanggup menerima ucapan selamat dari orang lain sementara restu dari orang tuanya sendiri tidak ia terima.

Lagi-lagi air mata ku mengalir mengenang semua itu. Tak pernah ku duga semua kenangan manis bersama orang tua berakhir dengan ukiran pahit seperti ini. Saat sayup-sayup suara Juan melafalkan akad nikah aku justru semakin larut dalam isak tangis. Orang-orang yang hadir disana memandangku dengan gumulan perasaan yang entah seperti apa. Sebagian yang sudah mengerti duduk persoalannya memandangku dengan prihatin, sementara yang tidak mengerti permasalahannya entah apa yang mereka pikirkan tentang ku. Bukan aku ingin terus menerus menangisi ini, tapi air mata yang terus mengalir ini memang tidak bisa dibendung.

Isakan itu berubah menjadi sesenggukan yang parau saat ibu Juan memeluk dan merengkuh ku. Kata-kata petuahnya yang lembut dan bersahaja membuat hati ku semakin larut dalam kesedihan yang panjang dan tak berujung. Aku merindukan pelukan ibu sekarang. Menginginkan ayah memeluk ku dan membisikkan sesuatu ditelinga ku, seperti yang dibisikkan oleh ibunya Juan.

“Kuat hati mu Nak…” bisik Ibunya Juan ditelinga ku. “Jadilah perempuan yang tegar seperti karang, memiliki kesabaran seluas lautan. Menjadi oase ditengah padang gurun. Jangan pernah membenci kedua orang tua mu karena masalah ini. Mereka hanya sedang emosi.” Tuturnya lembut.

Aku menangguk pelan sambil menyeka air mata.

“Makasih Ma,” jawab ku singkat.

“Sekarang kamu sudah menjadi seorang istri, lakukanlah tugas dan kewajiban mu dengan baik, agar kamu juga mendapatkan hak mu dengan baik pula. Ibu titip Juan ya…”

Aku lah yang menitipkan diri pada Juan. Jawab ku dalam hati. Sungguh ia perempuan yang sangat perasa sekali. Betapa beruntungnya aku mendapatkan ibu sepertinya.

Tak lama setelah itu nenek melakukan ritual kecil yang dikenal dengan sebutan peusijuek. Aku dan Juan didudukan bersama dan diperciki air dengan menggunakan rangkaian bunga dan daun-daunan. Dikedua telinga kami disematkan ketan kuning dan disuapi dengan tumpoe, sejenis makanan tradisional pelengkap ritual peusijuek tadi yang juga terbuat dari tepung ketan.

Setelah itu saling bergantian, ritual berikutnya dilakukan oleh ibunya Juan, bibi Intan dan beberapa orang tetua kampung lainnya. Ritual ini sendiri bagi sebagian orang ada yang menganggapnya sebagai perbuatan bid’ah, karena ia lebih mirip dengan ritual hinduisme. Tetapi ada pula yang berpendapat bahwa ini adalah simbolisasi dari kemakmuran, kesejukan dan kebersamaan. Entahlah, aku tidak begitu mengerti, tepatnya tidak berani mengatakan tidak. Takut akan dikatakan sebagai pembangkang lagi.

Sejalan dengan itu diluar sana terdengar sedikit kegaduhan kecil. Tak lama kemudian suasana itu menular kedalam, orang-orang mulai berbisik, semuanya memandang keluar. Aku dan Juan saling berpandangan. Akan ada kejadian apalagi ini. Mau tak mau aku jadi risau juga. Tapi untuk bangun dan melihat keluar jelas tidak mungkin.

Ada apa lagi bang?” Tanya ku pada Juan.

“Abang juga tidak tahu sayang,” jawabnya

“Alhamdulillah! Jingga…” suara nenek terdengar pias

Ada apa Nek?” buru ku

“Orang tua mu.” Nenek menunjuk keluar

“Kenapa? Mereka datang kemari?”

“Iya Nak. Itu mereka masih diluar.”

“Benar kah?” nenek mengangguk pasti. “Bang?” kata ku pada Juan dengan bibir merekah tersenyum. Walaupun aku belum tahu apa maksud kedatangan mereka tapi hati ku mengatakan bahwa mereka ingin memberi restu untuk ku. Dan juga Juan tentunya.

Tanpa menunggu lama aku langsung bangkit dan melihat keluar. Disana ku lihat mama tengah duduk dikursi dan menangis. Disampingnya ayah termangu, terdiam membisu. Untuk sesaat aku hanya sanggup menyaksikan semua adegan itu dari balik pintu. Orang-orang yang hadir disana ada yang mulai menitikkan air mata.

“Mama….maafkan Jingga!” issak ku sambil merengkuh kakinya untuk bersujud. Ku ciumi kakinya dengan penuh takzim dan bersahaja. “Beri Jingga restu ma” kata ku lagi. Hal yang sama juga ku lakukan pada ayah. Aku menangis sejadinya. Disampingku Juan menyusul, menciumi kaki kedua orang tua ku. Namun melihat keduanya masih belum bergeming membuat ku menjadi semakin was-was dan bersedih hati.

“Ma, Ayah, katakanlah sesuatu untuk Jingga.” Ratap ku.

“Nek…” kata ku pada nenek mengharapkan ada penjelasan dari kediaman ini.

“Biarkan orang tua mu menenangkan diri dulu. Kamu masuk saja dulu.”

“Nggak Nek. Jingga nggak mau masuk kalau mama dan ayah belum memberikan restu untuk Jingga.”

“Tapi semuanya kan bisa dibicarakan didalam sayang, ngga disini.”

“Tapi Nek…untuk apa mama dan ayah datang, kalau bukan untuk Jingga?”

Tak ada yang bersuara, selain dari isakan tangis setiap orang yang terdengar seperti desau angin yang kuat. Semua larut dalam perasaannya masing-masing. Kali ini aku tak menolak ketika nenek menuntun ku masuk ke dalam. Kebisuan kedua orang tua ku kembali membuat hati ku terasa robek seperti disayat-sayat. Perih.

“Jingga….” Suara mama membuat langkah ku terhenti

Aku menoleh dan membalikkan badan. Ku lihat mama merentangkan kedua tangannya. Kepalanya ia anggukkan pertanda menyuruhku agar mendekatinya. Aku tersenyum lega.

“Maafkan kami ya Nak.” Ucap mama terbata

“Maafkan ayah juga sayang.”

Aku tak sanggup lagi berkata-kata. Usai sudah semua perjalanan ini. Usai sudah semua peperangan hati dan kehidupan ku. Semua yang hadir juga tak sanggup membendung air mata mereka untuk tidak jatuh. Sesungguhnya Allah adalah maha pembolak-balik hati. Setiap malam aku berdoa agar Allah mengembalikan orang tua ku, dan Dia sudah mengabulkan doa ku. Terimakasih Allah.

“Jaga Jingga baik-baik Juan.” Ucap mama dan ayah bersamaan.

Juan mengangguk. Dengan lembut ayah merengkuhnya dan memeluknya dengan erat. Ini adalah karunia terbesar dalam hidup ku. Meskipun sedikit ada kekecewaan karena bukan ayah yang menikah kan ku. Tapi, semua itu adalah fase kehidupan yang harus dialami oleh seorang Jingga.

“Abang adalah matahari jingga ku.” Bisik ku pada Juan.

“Kamu juga matahari jingga ku.”

“Selamat untuk kalian berdua” sebuah suara lain tiba-tiba membuat kami sama-sama berpaling.

“Zal.” Ucap ku refleks

“Terimakasih sudah mau datang Zal.” juan dan zal saling berpelukan
aku menatap kedua laki-laki tersebut dengan senyum mengembang.

(Tamat)

22 Juli – 21 Agustus 2007

Minggu, 19 Agustus 2007

Kuat

Kuat
xxxx itu kuat, tetapi lebih bijaksana karena kesalehannya
xxxx itu kuat, tetapi lebih mulia karena ketaqwaannya
xxxx itu kuat, tetapi lebih terhormat karena imannya
xxxx itu kuat, tetapi lebih abang cintai karena memiliki ketiganya




on tuesday, 5 may 2005

AKU

AKU
aku malam yang rindukan bulan
aku siang yang rindukan matahari
aku gersang yang rindukan embun
aku padang pasir yang rindukan oase
aku jalan yang rindukan musafir
aku lautan yang rindukan pelayar
aku belantara yang rindukan penjelajah