Sabtu, 02 Juni 2012

Pelukis Kisah

Juni masih terlalu belia. Masih ingatkah engkau pada skenario tak tertulis itu? Peran yang kemudian membuat kita menjadi sepasang pelukis kisah. Yang selalu membawa kanvas dan kuas. Meski untuk itu, kita selalu berlumur warna dari cat yang berantakan.

Juni masih sangat belia. Tetapi ia mampu mengajarkan kita makna cinta yang sesungguhnya. Untuk menghormati perbedaan, menghargai rasa. Juni mengajarkan kita untuk lebih egaliter. Lukisan itu, hampir sempurna bentuknya, semua berawal dari Juni.

Malam ini, aku kembali mendapati sebagian tubuhku berlumur wangi tubuhmu yang menggoda. Melekat bagai atsiri dan membuat berdesir ketika angin berhembus. Memacu detak hingga jantung terengah-engah. Ah, Cinta. Rahasia ini memang nikmat, tapi kerap membuat lelah.

Aku hampir sempurna melukis rupa wajahmu, tapi di sisi yang lain harus ada yang tak pernah selesai. Sebab kita tak inginkan semuanya menjadi entah. Aku Cinta, aku yang selalu mengerang gelisah. Bagai bulan yang samar oleh pucuk daun. Maka kadang aku menepi untuk berdamai dengan takdir.[]

Sabtu, 26 Mei 2012

Perjanjian

Perjanjian
Aku rindu bau tanah selepas hujan di kota itu. Sebab kita pernah menikmati rasa dengan cara yang tak biasa, seperti romansa yang dibalut kenangan, maka debar selalu saja memberi makna dengan sangat peka.

Seperti apa rupa lorong-lorong yang pernah kita lalui waktu itu? Masihkah bergelantung senyum di kolopak bibirnya? Dan seperti apa matahari yang terbit di ufuk itu? Masihkah selalu merona dengan jingga yang memeluk wujudnya?

Tak pernah habis, kata akan selalu ada untuk menjabarkan keadaan. Juga tentang lekuk-lekuk kota ini, di mana kita pernah bertemu dalam diam dengan mata mengerling. Sekedar untuk mengisyaratkan sesuatu, bahwa beginilah aplikasi dari perjanjian yang tak pernah tertulis itu.

Ah, perjanjian itu, hingga kapan akan terus kita patuhi. Mengapa tidak ada yang berani untuk melanggar, bukankah tidak ada materai yang memaksa kita untuk saling mematuhi?

Cinta, inilah debar, dan inilah warna, jingga yang selalu memberi hangat, dan degub yang selalu menterjemahkan rasa.


Jumat, 04 Mei 2012

Foto; Mengingat Joseph Dalam Gambar

Tahun 2005 silam saya berkenalan dengan pak Joseph, saya biasa memanggil beliau pak Josh, usia tidak lagi muda, tetapi beliau memiliki pribadi yang menarik dan bersahabat, ramah dan suka bercanda. Ia sering sering mengirimkan saya foto-foto, seperti foto bunga tulip ketika ada pameran bunga Keukenhof.

Beberapa tahun terakhir kami kehilangan kontak, id ym nya tidak pernah lagi terlihat online, entah apa yang terjadi dengan beliau, semoga keadannya selalu sehat dan baik.

Berikut beberapa foto kiriman dari pak Josh yang masih tersimpan di blog saya
Pak Josh pernah mengirimkan saya post card bergambar seperti ini
Pelabuhan Nijmegen yang terlihat dari atas jembatan Waalburg tampak terlihat sangat anggung dan menawan. Nijmegen sangat terkenal dengan Vierdagse Lopen atau jalan empat hari hingga ke manca negara. Nijmegen Waalkade ini terletak sekitar 122 km dari Dam Plein.
Foto bunga Tulip ini diambil pak Josh ketika ia sedang mengunjungi pameran bunga Keukenhoff yang digelar setiap tahun di negara kincir angin tersebut.

Tulip Orange
 










































Tulip Hitam
Jalan lintasan Tram atau kereta api listrik di Belanda



Festival Keukenhof; Sepenggal Kenangan Tentang Pak Josh


Sejak tanggal 21 Maret 2012 kemarin pameran taman bunga Keukenhof  kembali digelar di Belanda, awalnya tidak ada yang istimewa dari perhelatan akbar di negeri kincir angin tersebut. Namun tiba-tiba saya terkenang pada seorang sahabat maya saya yang sudah kehilangan kontak.
Namanya Joseph. Saya biasa memanggil beliau dengan sebutan pak Josh, kami berkenalan melalui program Yahoo! Messenger sekitar tahun 2005 silam, dan menjalin persahabatan yang cukup asyik dan menyenangkan.
Pak Josh adalah seorang Belanda yang punya darah Indonesia, ayahnya dulu adalah seorang ‘penjajah’ yang menikahi gadis Maluku, pak Josh pernah beberapa kali ke Maluku, dan ia mengerti bahasa Indonesia. Selama pertemanan kami interaksi yang kami lakukan melalui percakapan bahasa Indonesia.

Sabtu, 28 April 2012

Sepi Yang Menganiaya


Aku hampir tua dalam kembaraku, warna-warna langit kulihat berubah dari satu warna ke warna yang lain, begitu juga dengan cara angin menyentuh kulitku, kadang perlahan, kadang bergerak liar menjelajahi ari-ari kulit.

Tapi cinta masih terus mengambang dalam makna yang sesungguhnya, betapa definisi tidak mampu menjelaskan tentang getaran yang hinggap, apalagi tentang rasa yang sering pecah tertabrak cahaya.

Selasa, 10 April 2012

Menanti Purnama Usai

MALAM beranjak renta. Bungkuknya hampir serupa perempuan penikmat purnama itu. Dengan kaki yang dijulurkan ke tangga rumahnya, mata berselaput abu-abu milik perempuan itu tak sedetik pun melepaskan pandangannya dari langit.
Angin berhembus kuat, menusuk hingga ke tulangnya yang telah berpuluh-puluh tahun diserang reumatik. Tapi ia tak peduli, sebab pendar purnama itu telah demikian mujarabnya menyembuhkan semua luka di hidupnya.
Perempuan itu bersandar ke pintu, duduknya serupa patung yang tertancap dalam liang tanah yang padat. Sesekali ia meraba wajahnya yang keriput, merasakan serat-serat kulit tangannya yang kasar melekat di sana.
Wajah kaku dan dingin yang telah menyaksikan banyak luka, air mata dan juga amis darah, juga kesepian maha panjang yang telah mendera hingga ke dasar ulu hatinya.
“Akan tiba suatu malam di mana engkau menginginkan purnama segera berakhir,” kata lelaki suaminya berpuluh-puluh tahun lalu.
Perempuan itu tidak segera menjawab. Di bawah perak bulan ia meraih cangkir kopinya dan menyesapnya perlahan. Di bawah bayang-bayang pohon dikunyahnya ubi rebus secara perlahan. Di tengah kepungan belantara tak ada lagi yang membuatnya bahagia kecuali bisa bersama suaminya.
“Purnama tidak akan pernah berakhir,” ucapnya sepotong.
Lelaki itu tersenyum simpul.

Minggu, 08 April 2012

Perempuan Almarhum

Perempuan Almarhum
AKU baru berumur sepuluh tahun saat pertama kali bertemu dengannya. Perempuan itu mengenakan kebaya berbahan katun berwarna ungu yang telah pudar. Di beberapa tempat dipenuhi bercak tahi lalat berwarna hitam. Binatang jahil, tega sekali ia memberaki baju usang seorang perempuan tua sepertinya.
Perempuan itu menyapaku. Memamerkan giginya yang hitam dipenuhi karat getah sirih bercampur pinang yang telah dikunyahnya sepanjang umurnya. Aku agak takut. Dalam pikiran kanak-kanakku seringainya tak lebih seperti senyum mak lampir. Menghadirkan hawa kengerian.

Rambutnya kelabu, dengan gumpalan warna putih di sana-sini menjulur dari balik songkoknya. Songkok rajut dari bahan wol yang telah cokelat dimakan usia. Di sisi sebelah kirinya terlihat sobek dan dijahit dengan benang warna hitam ala kadarnya.


Aku mencium canggung tangan keriputnya. Aroma terasi dan bawang menyengat halus ke syaraf hidungku. Menghadirkan sensasi mual yang naik hingga ke ubun-ubun. Sejak saat itu aku telah sah menjadi murid Mak Itam, sebutan bagi perempuan tersohor yang berprofesi sebagai guru ngaji di kampung itu.