Langsung ke konten utama

Kopi

Kopi, sebagaimana saudaranya Teh merupakan jenis minuman pelengkap dalam kehidupan sehari-hari kita, bagi sebagian orang misalnya, sarapan pagi belum sempurna tanpa segelas kopi maupun segelas teh hangat. bagi sebagian orang yang lain, hari ini bisa jadi akan gagal tanpa segelas kopi dan teh, sebab dari segelas kopi dan teh itu ia akan memperoleh 'pencerahan' tentang apa yang akan dia kerjakan nantinya.

bagi saya sendiri, teh maupun kopi tidaklah termasuk sebagai minuman favorit, ada atau tidak itu tidaklah penting. tetapi soal rasa, tentu saja saya bisa bedakan bagaimana kopi yang enak dan tidak. karena itulah saya selalu penasaran dengan kopi sehingga setiap kali ada pertemuan saya sering memesan kopi, sekedar ingin membedakan saja rasa antara kopi di warung A dengan kopi yang di warung B. kopi di kota C dengan kopi di kota D. semoga ini bukan alasan untuk mengatakan saya akan menjadi pecandu kopi.

nah, dari hasil 'kerja keras' saya selama ini, boleh dibilang (bukan maksud untuk merendahkan) kopi Solong Ulee Kareng yang terkenal itu 'tidak ada rasanya' dibandingkan dengan kopi yang ada di daerah Pidie. kopi di Pidie lebih kental, ini yang membuat saya tidak pernah lupa dengan rasanya, aromanya juga lebih menggoda. pertama sekali merasakan nikmatnya kopi racikan masyarakat Pidie puluhan tahun lalu saat saya masih duduk di kelas sekolah dasar, kebetulan pada momen-momen tertentu saya sering pulang ke Teupien Raya tempat nenek, dan mencicipi kopi disana bisa dikatakan sunnah. kalau tidak beli sendiri ya titip. sejak saat itu saya tidak pernah lupa dengan kopi didaerah keurupuk mulieng tersebut.

karena itu, kesempatan pulang ke tempat nenek yang cuma semalam minggu yang lalu tidak disia-siakan begitu saja. pagi-pagi sekali, hari seninnya (saya pulang sore minggu) saya dan sepupu pagi-pagi sekali, pukul 6 pagi pergi ke pasai suboh alias pasar pagi. satu hal yang tidak pernah saya temui dikampung halaman saya Aceh Timur sana. disana aktivitas baru dimulai pukul 9 pagi. sementara disini pukul 8 aktivitas telah selesai semuanya, tak heran kalau kita ke pasar agak siang suasana sepi dan senyap.

kembali kecerita semula, pagi itu saya membeli banyak kue dan lontong, berikut dengan mie caluek nya, harganya sangat murah, hanya seribu rupiah per bungkusnya, ini tentu saja membuat saya dan sepupu terheran-heran dan seperti tidak percaya, kok ada makanan semurah ini, kue saja seribu masih dapat empat potong, kalau kenal penjualnya kita bisa diberi diskon lagi. berbeda sekali dengan di Banda Aceh ini, semuanya serba mahal dan harganya berjumpalitan.

terakhir saya 'pamit' ke sepupu saya, "saya mau ke warung, mo beli kopi dulu," kata saya dan disambut tawa simpul sepupu.
namun, memang belum rejeki saya pagi itu, sampai dirumah saat bongkar muatan baru ketahuan kalau kopi yang dibeli tadi tinggal, kecewa tentu saja, tapi untuk menangis tentu saja tidak mungkin. dan sorenya saya menebus kekecewaan tersebut dengan membeli kopi lagi, dengan kekentalan dan kelezatan yang sama.

sekedar berbagi, dibanding yang encer saya lebih suka kopi yang sedikit agak kental dan pahit dan tidak terlalu manis, apalagi kalau ada gelatio/buihnya...uhm...enak sekali. bagi para solong mania, sebelum bilang solong is number one sebaiknya cicipi dulu kopi-kopi yang ada di pidie deh...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.