Langsung ke konten utama

Hidup Bukan Untuk Tersesat

hampir dua bulan ini saya banyak berinteraksi dengan orang-orang, apakah itu pegawai negeri, guru taman kanak-kanak, guru sekolah dasar, ibu rumah tangga, aktivis, pekerja media, bahkan petani dan pengrajin. semuanya mengasyikkan sebab ada diskusi-diskusi menarik selama pertemuan itu. diskusi itu tentang harapan dan mimpi-mimpi mereka selama hidup di dunia, beragam sekali keinginan tersebut, ada yang ingin mempunyai usaha sendiri, wajar sebab ini merupakan salah satu alternatif untuk meningkatkan taraf hidup menjadi lebih baik. bagi yang sudah mapan secara finansial mereka banyak yang memilih ingin melakukan pengembangan diri dan menambah pergaulan, ini juga menarik sebab memang begitulah kodrat manusia, membutuhkan interaksi sosial untuk melanjutkan hidup.

namun ada yang lebih menarik lagi, sekaligus membuat miris karena ternyata banyak sekali mereka-mereka yang tidak tahu ada dimana dan akan kemana, mereka seperti anai-anai, terserah kemana angin menerbangkan mereka. mereka tidak punya prioritas dalam hidup, dan yang terjadi adalah mereka harus memakai topeng dalam hidupnya, melakoni peran yang tidak mereka senangi karena mereka tidak dapat membuat keputusan untuk dirinya sendiri.

mereka adalah orang-orang yang menyerahkan hidupnya pada keadaan, sehingga mereka terjebak dalam labirin yang panjang bahkan sampai mereka tua, dan anehnya sebagian besar dari mereka adalah orang-orang berpendidikan.

mengapa takut punya cita-cita?

kesehatan, faktor usia, umur dan pendidikan sering kali diajadikan orang untuk tidak mempunyai cita-cita. atau dengan terpaksa mengubur cita-cita tersebut karena mereka tidak memperoleh gelar apapun dalam tingkat pendidikan. cita-cita adalah lilin, bentuk lain optimisme. semakin sering cita-cita disebut dan divisualisasikan, maka semakin besar pula peluang cita-cita tersebut terwujud. lalu, mengapa takut menjawab saat ditanya apa yang ingin kita capai dan peroleh dalam hidup? apakah ada larangan untuk tidak boleh menjawab, dan apakah ada yang mentertawakan bila semua itu tidak tercapai? tidak ada, maka teruslah membangun cita-cita dan menyalakan lilin optimisme dalam hidup anda.

tentang seorang guru TK

ada cerita menarik tentang seorang guru TK yang tidak mempunyai cita-cita dalam hidupnya, "saya tidak punya keinginan apapun," jawabnya santai saat saya tanya. kedengarannya aneh dan lucu karena dia adalah seorang pendidik, bagi sebagian orang mungkin ini biasa saja, dan wajar, toh cuma dia yang tidak punya keinginan dan prioritas, tapi saya melihat lain, dia seorang pendidik dan mengetuai sebuah yayasan, bagaimana mungkin seorang pendidik sekolah terpadu tidak mempunya prioritas dalam hidupnya, maka jangan heran jika anak didiknya juga tidak mempunyai alasan dan cita-cita yang kuat, mengapa ia harus ada di dunia ini.


Hidup bukan untuk tersesat

hidup tak ubahnya seperti pusaran angin, bila kita tidak kuat berpegang pada prinsip maka samalah kita seperti anai-anai dan kapas yang terbang kemana saja. hidup hanya sekali, alangkah tidak indahnya bila kita hanya mengisi hari-hari dengan rutinitas yang menjemukan, tidak bisa terus bermetamorfosis, tidak bisa berinovasi, karena sistem yang menjebak. sebagai manusia cerdas, ada kalanya kita harus berhenti sejenak, mencari jalan untuk keluar dari kerumunan rutinitas yang padat, pada aktivitas lain yang menyenangkan. jangan takut mengambil keputusan, sebab hidup memang harus diputuskan dan mempunyai pola.

Komentar

  1. Benar ...hidup kita harus punya tujuan dan arah serta pengembangan diri, kasihan bagi orang yang gak tahu tujuan hidup

    BalasHapus

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

Postingan populer dari blog ini

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

ilustrasi TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi... "Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun. Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya.  "Merahnya parah ngga?" cecarnya. "Parah!" jawabku. Jujur. Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur. Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih k

Taare Zameen Par, setiap anak adalah "bintang"

@internet SUDAH dua kali saya menonton film  Taare Zameen Par atau Like Star on Earth. Dua kali pula saya menangis. Ini di luar kebiasaan, sebab saya bukan orang yang mudah menitikkan air mata, apalagi hanya untuk sebuah film. Tapi film yang dibintangi Aamir Khan dan Darshel Safary ini benar-benar beda, mengaduk-ngaduk emosi. Masuk hingga ke jiwa. Film ini bercerita tentang bocah berusia 8-9 tahun (Darshel) yang menderita dyslexia. Dia kesulitan mengenal huruf, misalnya sulit membedakan antara "d" dengan "b" atau "p". Dia juga susah membedakan suku kata yang bunyinya hampir sama, misalnya "Top" dengan "Pot" atau "Ring" dengan "Sing". Bukan hanya itu, dia juga sering menulis huruf secara terbalik. Kondisi ini membuat saya teringat pada masa kecil, di mana saya juga sering terbalik-balik antara angka 3 dengan huruf m. Akumulasi dari "kesalahan" tersebut membuatnya tak bisa membaca dan menulis, n

Secangkir Kopi Rempah dan Sepotong Roti Lapis Daging

Bohong kalau aku tak ingin ada kamu di sini. Menikmati malam yang dingin setelah hampir seharian dibebat mendung dan diguyur hujan. Dengan isi kepala dipenuhi sulur-sulur pekerjaan yang menumpuk. Entah karena itu pula akhir-akhir ini aku merasa semakin tak nyenyak tidur. Entah karena rindu untukmu yang kian bertumpuk. Ini yang keempat kalinya aku datang ke kafe ini. Tak begitu jauh dari rumah. Selain, tempatnya juga nyaman, bebas asap rokok, tak berisik, lapang, dengan pendar-pendar lampu kekuningan yang agak sedikit temaram. Selalu ada tempat untuk membahagiakan diri sendiri. Tempat ini, mungkin saja salah satu di antaranya. Seorang pelayan pria segera menghampiri begitu aku merapatkan pantat dengan kursi kayu berpelitur cokelat muda yang licin. "Mau pesan kopi rempah?" tanyanya ramah. Aku mengangguk cepat. Ya, kopi rempah adalah tujuanku datang ke kafe ini. Selain, berencana menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tertunda. Juga untuk menghilangkan nyeri yang seja