Langsung ke konten utama

Ketika Semangat Berbicara

Mengapa ia masih bisa tertawa? padahal di hatinya tersimpam beban berat sebagai proses pendewasaan terhadap dirinya. mengapa ia masih bisa ceria menjalani hari-hari yang berat? jauh dari orang tua yang selama ini menghidupinya, jauh dari adik-adiknya yang selama ini merengek manja meminta sesuatu padanya, jauh dari ayahnya yang sudah tiada....jauh sekali bahkan untuk itu ia harus memendam rindu yang teramat sangat, ia sering menangis bila malam, terisak mengapa Tuhan begitu cepat menjemput ayahnya.


kepadaku, perempuan itu bercerita, tak lama setelah ayahnya pergi menghadap Sang Khaliq ia bermimpi, sang ayah memberikan juru kemudi kepadanya, pesan tersirat yang ingin disampaikan sang ayah kepada dia selaku anak tertua yang mempunyai tiga orang adik, "bahwa tanggung jawab keluarga mulai saat ini ada pada mu, Nak"


begitulah, ia menjauh dari keluarga bukan berniat ingin meninggalkan, bukan pula karena ingin melepaskan mereka begitu saja dalam kesedihan dan ketidak mengertian menjalankan apa yang pernah dirintis oleh sang Ayah dulu. itu karena ia merasa tidak bisa memberikan yang optimal terhadap keluarganya, disini, di tempatnya yang tak lagi baru ia bisa menukarkan waktunya lebih banyak untuk mewujudkan mimpi-mimpinya, hingga akhirnya semua berjalan seperti yang ia inginkan; benar-benar bisa menjalankan amanah seperti yang dipesankan oleh ayahnya lewat mimpi.

tapi sejak beberapa hari yang lalu, aku tahu perempuan muda itu hampir tidak bisa tidur, wajah ibu dan tiga adiknya terus menumpangi biji matanya. memang berat yang mereka rasakan sekarang, sesuatu yang tak dapat di tembus logika telah terjadi. dan siang tadi kesempurnaan luka itu benar-benar nyata, adiknya yang nomor dua kecelakaan, mobil yang dikendarainya terbalik ke jurang. bukan karena ia sedang ikut-ikutan off road, bukan pula karena ia iseng, tetapi karena ia juga ikut menanggung beban dua orang adiknya lagi. pekerjaan yang tak pernah direstui oleh sang Ayah yang sempat berpesan sebelum ia pergi, "Bahwa sang adik jangan pernah mencari nafkah seperti yang pernah dilakukan sang Ayah, akan binasa...."


entah itu benar atau tidak, tapi yang jelas sudah dua kali kejadian buruk itu terulang, ditempat yang sama, dengan mobil yang sama.
perempuan itu risau, sangat risau sebab ia tidak bisa melihat kondisi adiknya langsung, ia juga tidak tahu harus berbuat apa untuk menyembuhkan luka keluarganya.

aku mencari tahu mengapa ia masih bisa tersenyum, mengapa ia masih bisa menemani teman-temannya yang berduka untuk bersama-sama menutup luka menganga. mengapa ia hanya menangis ketika orang-orang tidak bisa melihatnya.


dia bukan perempuan luar biasa yang punya semua kelebihan, dia bukan perempuan sempurna yang bisa membuat semuanya menjadi mudah. dia perempuan biasa yang berpadu unik dalam watak koleris yang kuat dan plegmatis yang damai. dua kombinasi inilah yang membuatnya senantiasa kuat untuk menghadapi hal sesulit apapun. darinya aku belajar tentang menyimpan luka yang rapi dan pelan-pelan membakarnya, ia melakukannya dengan cara yang arif dan bijaksana, tanpa orang tahu hingga akhirnya sakitnya benar-benar hilang.

ia mempunyai impian yang kuat, mempunyai semangat yang kuat yang setiap hari ia tempa agar lima tahun yang akan datang dunia benar-benar salut kepadanya, saat itu ia tepat berumur 28 tahun. dan orang-orang akan terkagum-kagum padanya, pada saat itulah ia membuktikan bahwa semangat kerja keras ayahnya seratus persen turun padanya. cita-citanya sederhana, ia hanya ingin menjadi pebisnis yang unggul dalam hal apapun.

dengan semangatnya, perempuan itu telah menyalakan semua lilin yang bisa ia pakai untuk menjemput masa depannya yang secerah matahari. ia hanya perlu menapaki beberapa terjalan lagi, beberapa sandungan dan beberapa kerikil hingga akhirnya ia memegang bendera kemenangan di puncak kebahagiaan.

Komentar

  1. Hidup tanpa semangat...ibarat tubuh bagai boneka...dengan semangat lah kita bisa merancang masa depan
    Tulisan yang bermamfaat untuk obat jiwa bagi yang hilang semangat

    BalasHapus

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

Postingan populer dari blog ini

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

ilustrasi TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi... "Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun. Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya.  "Merahnya parah ngga?" cecarnya. "Parah!" jawabku. Jujur. Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur. Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih k

Taare Zameen Par, setiap anak adalah "bintang"

@internet SUDAH dua kali saya menonton film  Taare Zameen Par atau Like Star on Earth. Dua kali pula saya menangis. Ini di luar kebiasaan, sebab saya bukan orang yang mudah menitikkan air mata, apalagi hanya untuk sebuah film. Tapi film yang dibintangi Aamir Khan dan Darshel Safary ini benar-benar beda, mengaduk-ngaduk emosi. Masuk hingga ke jiwa. Film ini bercerita tentang bocah berusia 8-9 tahun (Darshel) yang menderita dyslexia. Dia kesulitan mengenal huruf, misalnya sulit membedakan antara "d" dengan "b" atau "p". Dia juga susah membedakan suku kata yang bunyinya hampir sama, misalnya "Top" dengan "Pot" atau "Ring" dengan "Sing". Bukan hanya itu, dia juga sering menulis huruf secara terbalik. Kondisi ini membuat saya teringat pada masa kecil, di mana saya juga sering terbalik-balik antara angka 3 dengan huruf m. Akumulasi dari "kesalahan" tersebut membuatnya tak bisa membaca dan menulis, n

Secangkir Kopi Rempah dan Sepotong Roti Lapis Daging

Bohong kalau aku tak ingin ada kamu di sini. Menikmati malam yang dingin setelah hampir seharian dibebat mendung dan diguyur hujan. Dengan isi kepala dipenuhi sulur-sulur pekerjaan yang menumpuk. Entah karena itu pula akhir-akhir ini aku merasa semakin tak nyenyak tidur. Entah karena rindu untukmu yang kian bertumpuk. Ini yang keempat kalinya aku datang ke kafe ini. Tak begitu jauh dari rumah. Selain, tempatnya juga nyaman, bebas asap rokok, tak berisik, lapang, dengan pendar-pendar lampu kekuningan yang agak sedikit temaram. Selalu ada tempat untuk membahagiakan diri sendiri. Tempat ini, mungkin saja salah satu di antaranya. Seorang pelayan pria segera menghampiri begitu aku merapatkan pantat dengan kursi kayu berpelitur cokelat muda yang licin. "Mau pesan kopi rempah?" tanyanya ramah. Aku mengangguk cepat. Ya, kopi rempah adalah tujuanku datang ke kafe ini. Selain, berencana menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tertunda. Juga untuk menghilangkan nyeri yang seja