Langsung ke konten utama

Isyarat Malam

Tentu, tak semua hal harus diceritakan dengan detil. Malam itu kucoba tertawa sambil menyembunyikan sesuatu dari wajahku. Aku takut ia melihatnya dan ia bisa menebaknya. Aku tersipu, sebab begitu cepatnya kenangan itu kembali hadir dalam ruang ingat yang memang tak pernah sengaja untuk dilupakan begitu saja.


Masih terhitung bulan, tentu masih sangat segar rupanya, wanginya masih menyemerbak dalam hati ini, dan semangatnya masih terpancar seperti sinar perak yang selalu dipersembahkan Bulan kepada malam. Yang selalu kujadikan perumpamaan. Aku tersenyum, mengulum cerita yang memenuhi rongga jiwa.

Bila malam. Adakah malam jemu kepada Bulan? Atau siang yang enggan Mentari datang? Dan bila mendung atau hujan datang, apakah itu karena Malam yang memintanya atau Bulan yang mengirimkannnnnya? AKu berfikir lain, karena di sanalah letak kenikmatan percintaan Malam dan Bulan.

Seperti bulan yang tak selalu purnama. Rindu juga ada pasang surutnya, kadang ia sabit ketika dekat dan ingin menjadi purnama tatkala rindu itu sendiri jauh. Kadang-kadang ia hanya mengirimkan isyarat melalui penanggalan waktu. Tunggulah kekasih! Aku akan datang sebentar lagi! Akan ada purnama sejenak lagi! Tunggulah!

Dan malam mencari jalannya untuk menunggu Bulan. Ada gemintang kecil yang mengirimkan kabar untuknnya, meski ia tak pernah tahu seperti apa rupa cahayanya. Kabar yang sering hadir dalam mimpi, membuatnya terbangun dalam desah yang kacau. Tercenung dan larut dalam lena. Adakah ini pertanda? Bahwa Bulan akan selalu bersama bulan? Untuk hidup bersama jagad yang penuh dengan bimasakti.

Ah!....Tak kuhiraukan pertanyaan itu "Seperti sudah saja kau ini..." Katanya berulang.
Aku tak ingin menjabarkan kata tentang itu, karena semakin terjabar akan semakin hanyut dalam kenangan di pagi yang basah itu. Aku tahu, Bulan hanya hadir untuk Malam, dan Matahari tercipta untuk Siang.


09/08/09
21:37 pm

when i miss someone

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.