Langsung ke konten utama

Matahari yang terbit di Sabang


Oleh : Ihan Sunrise


“Sebentar lagi aku datang. Sekarang masih di Salon. Creambath.” Balasnya melalui layanan short massage service ketika aku memberi tahu bahwa aku telah berada di sebuah kafe tempat kami janji bertemu siang ini.

“Ok.” Balasku singkat.

“Sebentar lagi ia datang.” Kataku pada Nita. Seseorang yang hampir sepuluh tahun lamanya bersamaku. Si phlegmatis yang damai tanpa ekspresi. Si pendengar setia dan jarang menyukai perdebatan. Mungkin itu pula yang membuat kami menjadi nyaman satu sama lainnya dan bertahan selama ini. Namun kadang-kadang membuatku ingin menggigit kepalaku sendiri saking damainya dia.

“Siapa?” tanyanya.

“Seseorang yang pernah kuceritakan kepadamu.” Kataku antusias.

“Oh, yang dari Sabang?”

“Iya.”

“Sekarang masih di mana?”

“Di salon Lincha. Di dekat Mie Razali. Di mana itu? Di Seutui ya?” Tanyaku pada Nita yang sedang menekan-nekan tombol keyboard laptopnya.

“Bukan. Di Peunayong.” Jawab Nita sambil tertawa.

“Oh...” Aku nyengir. Malu hati juga rasanya sudah sekian lama di Banda Aceh tapi belum tahu di mana warung Mie Razali. Tapi itu tidak terlalu penting bagiku.

Yang terpenting sekarang adalah berdoa supaya seseorang yang sudah kutunggu sejak tiga puluh menit lalu segera datang. Ini pertemuan pertamaku dengannya yang membuat gugup. Meski bukan kali pertamanya aku melakukan kopi darat dengan orang-orang yang baru kukenal. Tetapi entah mengapa, ia begitu lain. Lebih istimewa dan begitu diharapkan untuk bertemu.

“Ia sudah datang.” Kataku pada Nita begitu namanya muncul di layar handphone-ku. “Sebentar ya.”

Aku bangkit dan segera menuju ke pintu masuk. Tak sulit untuk mengenalinya. Blus warna kuning dan kerudung berwarna senada seperti yang pernah kulihat di salah satu fotonya sudah cukup menguatkan kalau itu adalah dia. Bila aku tak salah ingat ketika itu ia mengenakan jeans berwarna hitam dan sepatu berwarna serupa pula. Dengan tas yang menggamit di salah satu lengannya.

Entah siapa yang memulai. Kami bersalaman dan saling mencium kedua belah pipi. Wajahnya yang putih menempel dengan wajahku yang kecoklatan. Wajah khas Aceh yang mengental. Terasa hangat dan dekat. Tetapi tidak sampai membuatku bergetar. Ritual yang tak pernah lagi kulakukan sejak beberapa tahun terakhir. Mencium pipi perempuan!

Ia menyenangkan. Bersahabat dan baik hati. Dan aku tergoda untuk terus menanyainya. Ceritanya memacu adrenalinku. Senyumnya mencairkan hatiku. Guyonannya menyamankan suasana. Bersamanya aku lupa pada apa yang tengah memasung ingatanku sejak kemarin sore. Kemurungan yang sejak pagi tadi menggelantung dalam benak seketika hilang menguap ketika bertemu dengannya. Aku menyukainya. Aku ingin dekat dengannya.

“Beginilah aku. Sangat apa adanya. Aku bukan perempuan feminim. Aku tak terlalu pandai berlemah-lembut. Bisa dibilang...aku adalah perempuan perkasa hehehe...” Ucapnya dengan tawa yang nyaring.

Kami bertiga tertawa. Aku, nita dan dia.

“Dan laki-laki menyukai perempuan berkarakter seperti itu. Perempuan mandiri yang tak banyak menggantungkan hidupnya pada laki-laki. Perempuan seperti itu bisa hidup dan bertahan dalam kondisi apapun.” Jawabku seadanya.

Entah benar entah tidak dengan teori itu. Entah pula karena aku menyukainya hingga terkesan membenarkan pernyataannya. Tetapi memang begitulah adanya. Perempuan mandiri adalah teka-teki yang tak mudah diselesaikan. Seperti permainan catur yang menguras tenaga. Penuh tak-tik dan nuansa politis. Pun begitu aku sama sekali tidak menyukai kedua permainan tersebut. Tetapi aku menyukai dia.

“Sabang adalah segalanya bagiku...” Ucapnya serius ketika menceritakan tanah kelahirannya. Wajahnya yang putih tampak kemerahan. Indah sekali. Diam-diam aku begitu menikmati perubahan mimik wajahnya. Kedua matanya menyipit ketika ia tertawa. “Dan aku akan melakukan apa saja untuk tanah kelahiranku. Walaupun harus mengorbankan sedikit waktu, tenaga dan uang. Semua demi Sabang tercinta.” Katanya bangga.

Kebanggaan yang tidak bisa diartikan begitu saja. Di sana ada pengharapan. Ada keinginan untuk berbuat sesuatu yang berarti. Matanya berbinar penuh pesona. Tanda bahwa ia mengatakannya dengan sepenuh hati. Dengan sebenar-benarnya tanpa bermaksud melebih-lebihkan.

Sabang. Pulau kecil yang selalu menarik untuk diperbincangkan. Pulau mistis yang selalu mengusik adrenalinku untuk segera mendatanginya. Pulau yang namanya selalu disebut-disebut di salah satu lagu kebangsaan Indonesia. Yang dulu sering kunyanyikan bahkan ketika aku belum tahu bahwa pulau itu ada di sini. Di Aceh. Kebanggaannya merayap dalam alam pikirku. Eksotisme yang kini mulai tergambarkan lebih detil.

Dan...pulau yang diam-diam telah mengajarkan arti tentang sebuah cinta yang sebenar-benarnya kepadaku. Tapi aku sedang tak ingin bercerita tentang itu sekarang.

“Adalah lelaki paling beruntung yang telah mendapatkanmu.” Kataku dengan kecemburuan penuh. Ketika aku tahu ia telah mempunyai dua malaikat dari lelaki kekasihnya. Oktri dan Molan.

Ah...jika saja aku bisa seberuntung lelaki kekasihnya itu. Yang akan menghabiskan seluruh waktu hidupnya dengan perempuan seperti dia. Hari-hari selanjutnya adalah hari penuh semangat dan harapan. Hari-hari tempat di mana cinta dan sayang tumbuh sebagaimana layaknya. Tempat rindu dan kangen dibesarkan dengan kasih. Tempat keriuhan tercipta dari riangnya yang tak pernah putus. Tanpa perlu ditahan dan ditutup-tutupi.

Atau...jika saja aku bisa menjadi Oktri dan Molan yang selalu mendapat pelukannya yang hangat. Seseorang yang akan menyeka ketika air mata jatuh bukan pada waktu dan tempat yang tepat. Seseorang yang selalu mengatakan selamat tidur dan mimpi indah ketika menjelang tidur.

Tapi...aku bukanlah Oktri atau Molan. Juga bukanlah lelaki kekasihnya itu. Aku hanya seseorang yang kebetulan mengenalnya secara tidak sengaja. Seseorang yang kebetulan menyapanya dan kebetulan ia menjawab sapaan tersebut. Dan yang secara kebetulan juga bisa bertemu dengannya di tempat ini. Tapi bila kemudian aku menyukai dan menyenanginya itu bukanlah suatu kebetulan. Ini adalah perasaan sungguhan. Rasa yang muncul tanpa ada komando dari apa dan siapapun.

“Ceritakan padaku tentang arti laut bagimu.” Pintaku harap-harap cemas.

Aku khawatir pertanyaan yang tak berkualitas ini akan membuatnya terusik. Tapi bilapun ia enggan menjawab aku tidak akan memaksa. Dan entah mengapa, setiap kali aku menyapanya malam sudah tak lagi muda. Kurasakan ia mulai menata bantal untuk tidurnya. Dan ia sedang bersiap-siap untuk mencuci kakinya, membasuh wajahnya lalu bersiap-siap untuk bermimpi. Tentang sabang. Tentang lelaki kekasihnya. Atau tentang ke dua malaikatnya. Mungkinkah tentangku? Aku malu untuk menanyakan itu padanya.

“Laut bagiku adalah taman kedua setelah taman rumahku. Laut memberikanku kenyamanan, aku bisa bersantai di sana. Dan aku bisa menemukan kebahagiaan di sana.” Ia menjawab tanyaku.

Cemasku hilang. Aku tersenyum. Catatan tentangnya bisa menjadi lebih lengkap.

Laut. Ia begitu mencintai laut. Ia merasa hidupnya ada di setiap debur ombak dan di setiap gelombang riak. Ia membangun impiannya di atas pasir-pasir yang berkilau. Ia mengukir hidupnya di atas karang-karang kokoh yang indah.

Sedangkan aku...aku begitu takut dengan laut. Ombaknya seolah-olah akan menelanku setiap kali aku menceburkan diri ke dalamnya. Gelombangnya membuatku sesak dan hampir tak bisa bernapas. Bahkan aku tak bisa berenang. Lalu bagaimana aku bisa menyukai laut? Dan bagaimana laut bisa menyukaiku?

Aku geli membayangkan semua itu. Dalam hal ini kami memang berbeda. Tapi, sejak mengenalnya aku mulai berpikir tentang laut. Mulai muncul rasa untuk ingin segera merasai airnya yang asin. Bahkan aku telah mampu menuliskan sesuatu dengan tema lautan.

“Lalu bagaimana kau bisa bermain selancar angin?” Tanyaku takjub.

“Hanya untuk membuktikan pada seseorang bahwa aku bisa.” Jawabnya diikuti tawa yang renyah.

“Motivasi lainnya?” Tanyaku lagi tak puas dengan jawaban itu.

“Untuk memajukan wisata Sabang, agar banyak event yang bisa digelar di sabang ini, sehingga akan banyak orang-orang yang datang mengunjungi sabang dengan begitu akan terjadi perputaran ekonomi masyarakat. Tak ada salahnya kan dengan memulai dari diri sendiri?”

“Bagaimana ketika kau mengawali semuanya?”

“Ada rasa takut yang menyelinap, takut jatuh, tapi akhirnya jatuh juga heheheh.”

Aku tertawa.

Aku setuju dengan pendapatnya. Tak ada hal besar yang berhasil dicapai tanpa melakukan hal-hal kecil. Begitu juga aku terhadapnya. Bila tak ada yang kecil-kecil yang menarik darinya tentu aku tidak akan bisa melihat yang besar dari dalam dirinya.

Ia begitu unik. Terlalu perkasa untuk seorang perempuan yang bisa mengendari motor besar Harley Davidson. Terlalu berani untuk seorang perempuan yang bisa bermain selancar angin. Yang tinggi layarnya melebihi dirinya sendiri. Dan yang pasti juga berat dan harus mempunyai insting yang kuat. Agar bisa menyelaraskan dengan gerak angin dan ombak.

Tapi ia juga cukup sempurna bagi seorang perempuan yang bisa memadukan gerak tangan dan kakinya dalam gerak tarian apapun. Ia bisa bernyanyi. Ia pandai memasak. Ia bisa menggunakan jejaring sosial. Ia begitu lengkap.

“Apalagi hobbymu selain itu?” Aku seperti tak pernah puas ingin mengetahui tentangnya.

“Nangos.”

“Nangos?”

“Iya.”

“Apa itu nangos?”

“Nangis sampai keluar ingus...”

“Hahahaha...”

Aku tergelak. Ia sungguh pandai bercanda. Aku menyukai hobbynya yang terakhir ini. Membuktikan bahwa ia masih memiliki jiwa perempuan yang perasa dan lembut. Kelembutan yang dibalut dengan keperkasaan yang menawan. Yang aku yakin tak ada lelaki yang mampu memiliki perumpamaan keduanya. Membayangkannya saja sudah membuatku tersenyum. Keperkasaan yang dibungkus oleh kelemah lembutan.

“Aku akan banyak belajar darimu tentang apa saja.” Kataku serius.

“Aku bukan guru.”

“Kau sudah memenuhi kriteria sebagai seorang guru. Bagiku, seorang guru adalah seseorang yang bisa mengajarkan kepada orang lain tentang sesuatu dalam hidup ini tanpa ia pernah mengatakannya. Sikapnya, tindakannya, kata-katanya adalah sesuatu yang pantas untuk dipelajari.”

“Terserahmu sajalah...” jawabmu akhirnya.

Kau! Betapa senangnya bisa menghabiskan banyak waktu denganmu. Betapa hangatnya. Betapa berartinya. Terlepas dari semua alasan dan keinginan. Terlepas dari semua harapan yang ditaruh setelah pertemuan itu. Aku merasa Tuhan telah mengirimmu untukku. Aku merasa ini adalah permudahan dari apa yang aku pinta kepada Tuhan selama ini.

Kau! Adalah seseorang yang ingin kucium pipimu untuk kedua kalinya. Lalu ketiga kalinya. Empat dan seterusnya. Adalah seseorang yang ingin kugandeng tangannya untuk menyusuri pinggir pantai yang maha dahsyat itu. Adalah seseorang yang ingin kupeluk untuk berlama-lama. Karena aku merasa, membenamkan wajah di dadamu pasti akan meluruhkan semua gundah dan gejolak.

“Kau...siapa namamu?”

“Zulfi Purnawati.”

“Ya, Zulfi Purnawati.”(*)

Note:

Kepada Kak Zulfi, mohon maaf bila ada yang tidak berkenan dengan isi cerita ini Kak. Sengaja dibuat agak nyastra dengan gaya bercerita aku dan kamu supaya lebih menggigit hehehe. Tidak ada maksud untuk meng-kamu-kan kakak lho. Luv u sist. ;-) peace!

01:52 am

30 Jan. 10

Komentar

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

Postingan populer dari blog ini

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

I Need You, Not Google

Di era kecanggihan teknologi seperti sekarang, mudah sekali sebenarnya mencari informasi. Kita tinggal buka mesin pencari, memasukkan kata kunci, lalu bisa berselancar sepuasnya.
Saking mudahnya, kadang-kadang kalau kita bertanya pada seseorang dengan topik tertentu tak jarang dijawab: coba cari di Google. Jawaban ini menurut hemat saya ada dua kemungkinan, pertama yang ditanya benar-benar nggak tahu jawabannya. Kedua, dia malas menjawab. Syukur dia nggak berpikir 'ya ampun, gitu aja pake nanya' atau 'ni orang pasti malas googling deh'. 
Kadang kita kerap lupa bahwa kita adalah manusia yang selalu berharap ada umpan balik dari setiap interaksi. Ciri makhluk sosial. Seintrovert dan seindividualis apapun orang tersebut, dia tetap membutuhkan manusia lain.
Selengkap dan sebanyak apapun 'jawaban' yang bisa diberikan oleh teknologi, tetap saja dia tidak bisa merespons, misalnya dengan mengucapkan kalimat 'gimana, jawabannya memuaskan, nggak?' atau saat dia me…