Langsung ke konten utama

Tempurung Senja


foto by http://khanifsalsabila.wordpress.com
APRIL baru saja usai, aku teringat pada tirai jendela yang tersibak perlahan. Di luar butir-butir gerimis lengket di kaca jendela. Cahaya dari lampu-lampu jalan membentuk kerlip-kerlip indah. Selebihnya aku hanya mendapati terang di dua bola matamu, berbinar, menembus hatiku.

Jika saja itu kanvas, tak ada yang lebih sempurna dilukis melainkan gurat-gurat di tubuhmu. Mungkin akan timbul lurik-lurik abstrak yang akan hilang dengan berjalannya waktu. Ah, aku sedang menyusur kisah, terbayang engkau yang sedang memahat artefak waktu. Aku dan engkau; kita.

Bau tanah selepas hujan di musim kering memang lain, segar rumput yang tak tegak, kicau burung yang tak semarak. Kita, hanya bisa bilang hm…dalam pesan-pesan hening, sejak kapan kata mulai membatasi tafsir keinginan hati? Kita tersenyum, apalagi saat memasukkan waktu dalam tempurung senja yang memerah.

Kau ingat pagi itu Sayang? Senja, dan juga malam. Romantisme hanya berupa garis-garis nafas yang tersekat, juga gerak yang sedikit patah-patah, ya, ternyata melodi waktu mampu berdenting dengan nada-nada mesra yang puitik.

Aku teringat kamu. Ah, bukan kamu, tapi panca inderamu. Aku terngiang suara lelahmu, namun beratnya begitu berbekas. Aku mengingat syair-syairmu yang sederhana, datar dan mudah kutebak, tapi aku suka. Ah….

Kamis | 2 Mei 2013 | 8.17 pm

Komentar

  1. Heya excellent blog! Does running a blog similar to this require a lot of work?
    I've virtually no expertise in programming but I had been hoping to start my own blog soon. Anyways, should you have any recommendations or tips for new blog owners please share. I know this is off subject but I simply needed to ask. Kudos!

    Also visit my website; click here

    BalasHapus
  2. aku suka senjaaaaaaaaaaaa.....!!!! :D

    BalasHapus
  3. Balasan
    1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
    2. Mbak Sugi, nuwun sudah berkunjung ke blogku, itu foto aku nemu di internet, alamatnya ada di bawah foto itu :-)

      Hapus
  4. fotonya bagus mbak. Pas dengan tulisannya

    BalasHapus
  5. Ini ya kak prosa yang kita bahas kemarin di kantor bareng kak Aida MA... Its wonderfull word amaze me so much.. :) :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya Donny :-) model beginilah tulisan-tulisan ihan heheeh, romantis ya wkwkwkwkkw

      Hapus

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

I Need You, Not Google

Di era kecanggihan teknologi seperti sekarang, mudah sekali sebenarnya mencari informasi. Kita tinggal buka mesin pencari, memasukkan kata kunci, lalu bisa berselancar sepuasnya.
Saking mudahnya, kadang-kadang kalau kita bertanya pada seseorang dengan topik tertentu tak jarang dijawab: coba cari di Google. Jawaban ini menurut hemat saya ada dua kemungkinan, pertama yang ditanya benar-benar nggak tahu jawabannya. Kedua, dia malas menjawab. Syukur dia nggak berpikir 'ya ampun, gitu aja pake nanya' atau 'ni orang pasti malas googling deh'. 
Kadang kita kerap lupa bahwa kita adalah manusia yang selalu berharap ada umpan balik dari setiap interaksi. Ciri makhluk sosial. Seintrovert dan seindividualis apapun orang tersebut, dia tetap membutuhkan manusia lain.
Selengkap dan sebanyak apapun 'jawaban' yang bisa diberikan oleh teknologi, tetap saja dia tidak bisa merespons, misalnya dengan mengucapkan kalimat 'gimana, jawabannya memuaskan, nggak?' atau saat dia me…