Langsung ke konten utama

Curhat Galau Perempuan Lajang

ilustrasi
"Ihan, ada bro titip sebuah buku antologi cerpen milik bro untuk Ihan di warung .... Tolong ambil kapan sempat ya. TQ"

Itulah sepotong sms yang saya terima dari seorang brada Kamis malam kemarin. Pesan singkat itu masuk tepat pukul 22.00 WIB malam di handphone saya, belum lama setelah saya pulang kerja. Menerima pesan seperti itu saya langsung tersenyum. Siapa sich yang nggak senang ditawari buku, gratis lagi, dan juga diistimewakan. Poin terakhir ini cuma asumsi saya saja, karena buku tersebut memang sengaja dititipkan untuk saya di sebuah kedai kopi.

Setelah membalas pesan si brada saya sempat termenung. Sambil memelototi layar TV pikiran saya sempat terusik sebentar. Teringat pada waktu beberapa minggu lalu, seorang brada yang juga teman dekat saya mengabarkan hal baik. "Ihan tak lama lagi antologi puisi ketiga saya terbit," kira-kira begitu bunyinya.

Sebelumnya, seorang teman juga mengabarkan ingin fokus untuk menyelesaikan naskah bukunya setelah resign dari sebuah bank swasta nasional di Banda Aceh. Ohoho... indah nian kabar-kabar saya dengar ini. Mereka pastinya sangat bahagia, begitu juga saya. Tapi di balik rasa bahagia dan kagum itu ada semacam rasa nyeri yang saya rasa. Semacam rasa cemburu yang tiba-tiba menghimpit rongga dada dan bikin saya susah bernafas. Kapan aku punya buku seperti mereka?

Ya, akhir-akhir ini saya memang sering galau. Pasalnya semakin sering saya melihat orang-orang yang saya kenal merilis buku. Entah itu puisi, essai, novel atau cerpen, baik tunggal atau antologi. Nah lagi-lagi saya nyengir iri; bukuku kapan ya?

Omong-omong soal buku pasti erat kaitannya dengan keterampilan menulis kan? Meski nggak terlalu pandai, tapi saya bisalah menulis sedikit-sedikit. Buktinya saya punya blog hehehe. Saya juga bisa buat cerpen, puisi, dan notes. Tapi soal kualitas, ya semua itu tergantung selera pembacanya. Soal ini saya nggak pernah minder (alias muka tembok ha ha ha).

Banyak teman-teman yang menyarankan catatan-catatan di blog agar dibukukan secara indie. Minimal self promotion dulu lah dengan menghasilkan karya-karya sederhana. Ntar lama-lama juga bakal dilirik penerbit. Heu heu heu ngarepppp bangettt dilirik penerbit besar dan terkenal biar sejahtera.

Kadang-kadang saya mikir, coba kalau saya gabung di komunitas menulis, pasti prosesnya bisa jadi lebih mudah. Minimal motivasi menulis on terus, nggak ketinggalan info, dan kali-laki aja bisa nebeng nama kalau ada yang bikin buku, atau paling engga ada nama di halaman thanks to heleh helehhh. Pernah coba nawarin diri sama temen yang kelola komunitas menulis di Banda Aceh. Tapi dia bilang buat apa, komunitas tidak menjamin seseorang jadi produktif atau enggak. Kupikir-pikir iya juga siy, lagi pula setelah bergabung kalau tidak ikut program-program komunitas malah jadi repotin. Ngerepotin saya dan ngerepotin pengurusnya hahahah. Ah, ini curhat sudah terlalu panjang. Sekian wassalam.[]

*ditulis tergesa-gesa di tengah kepungan dealine

Komentar

  1. hmmm.....selamat berjuang untuk yang lagi galau....

    BalasHapus
  2. ....hmmmm....selamat berjuang untuk gadis yang lagi galau........

    BalasHapus
  3. Kalau saya .. komunitas itu penting buat menjaga semangat menulis saya. Memang bukan jaminan sih. Tapi kitanya yang rugi kalo sudah gabung sebuah komunitas yang aktif tapi semangatnya masih minim. Menurut saya sih :)

    Oya, di sebuah pelatihan menulis yang pernah saya ikuti, pematerinya juga bilang bahwa punya komunitas itu penting .

    Semangat ya, rajin ikut2 lomba/event saja, banyak koq. Cukup berpetualang di wall2 para penulis/penyuka menulis :)

    BalasHapus
  4. kak ihan... kita bernasib sama. selalu terngiang dipikiran, kapan saya punya buku solo atau setidaknya antologi. melihat teman-teman yang sebentar2 punya buku sendiri, iri sangat apa lagi jika pada dasarnya kita juga seperti dia

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya liza, tapi ihan percaya proses, dan seperti kebanyakan orang bilang akan indah pada waktunya hahahah

      Hapus

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.