Langsung ke konten utama

Happy 10 th Anniversary Senarai Cinta


BEBERAPA teman di LinkedIn mengirimkan pesan. Isinya sederhana saja; selamat atas anniversary kerja Anda.

Hm... sejenak saya bingung. Pekerjaan mana yang sedang 'berulang tahun'? Selidik punya selidik rupanya 'pekerjaan' di www.ihansunrise.blogspot.com yang saya cantumkan di LinkedIn. Ya, Januari 2016 ini memang genap berusia 10 tahun sejak saya mulai mengenal dan membuat blog tersebut pada Januari 2006 silam.

Di zaman modern ini, kita cukup perlu banyak akun di media sosial untuk mengingatkan kita tentang ini dan itu. Misalnya tentang tanggal ulang tahun teman, atau ulang tahun pekerjaan. Mari lupakan sebentar tentang fenomena sosial media, sekarang mari kita bicarakan tentang blog saya saja :-D.

Ihan Sunrise adalah nama pena yang saya pilih sejak saya memutuskan 'serius' di dunia narasi belasan tahun silam. Awalnya saya sempat menggunakan nama 'Ihan Salsabila' yang sering saya tulis dengan lafal Arab. Salsabila berarti 'mata air surga', dan seperti itulah saya ingin menjadi. Tapi karena nama itu terlalu feminim sayapun akhirnya memilih nama pena baru yaitu Ihan Sunrise.  Saya tidak ingin orang bisa menebak saya dengan mudah. Seperti nama itu, saya ingin menjadi seperti mentari pagi yang kaya vitamin D yang menghangatkan lagi menyehatkan. Juga menjadi sumber semangat dan kehidupan bagi orang lain.

Selain saya pakai untuk kebutuhan 'jualan' dalam dunia tulis menulis, nama Ihan Sunrise juga saya gunakan untuk mendaftar di berbagai akun yang berhubungan dengan dunia internet. Mulai dari email, sosial media, hingga akun di blogspot. Itulah cerita lahirnya www.ihansunrise.blogspot.com.

Sebuah blog yang saya beri title "Senarai Cinta". Senarai berasal dari bahasa Malaysia artinya daftar. Saya mengambil nama itu karena enak didengar dan sepertinya serasi ketika dipadukan dengan "cinta" yang menjadi "ruh" dari muatan blog saya.

Saya juga membubuhkan beberapa kalimat sebagai sub title yaitu "Bacalah tanpa harus menerima begitu saja, berfikirlah tanpa harus bersikap sombong, yakinlah tanpa harus bersikap fanatik. Dan jika Anda memiliki pendapat, kuasai dunia dengan kata-kata". Beberapa baris kalimat itu saya temukan dalam sebuah tulisan dan membuat saya sangat terkesan.

Blog tersebut, sebagaimana fungsinya sudah menjadi teman akrab yang menemani saya selama sepuluh tahun terakhir ini. Banyak kisah hidup yang saya bebankan padanya. Selain catatan pribadi, blog tersebut adalah rumah untuk menampung berbagai karya fiksi saya seperti cerpen dan puisi. Baik yang sudah dimuat di media maupun tidak.

Lebih dari itu, blog ini sudah 'mengantarkan' saya menjadi seorang jurnalis. Ya, siapa sangka saya yang awalnya hanya blogger, dengan spesifikasi tulisan yang lebih banyak mengeksplor soal 'rasa' dan 'cinta' akhirnya menjadi wartawan. Kini saya berkhidmad di www.portalsatu.com, sebuah media online yang saya dirikan bersama teman-teman.

Kenapa saya katakan kalau blog ini yang 'mengantarkan'? Karena memang melalui blog inilah awalnya saya belajar menulis, menceritakan apa yang saya lihat, dengar dan rasakan menjadi sebuah kumpulan narasi yang bisa dipahami orang lain (pembaca). Di samping saya juga sering mengikuti pelatihan/diskusi jurnalistik. Minimal, ketika mulai terjun ke dunia pers, saya tidak lagi buta tentang poin dasar 5 W + 1 H. Tapi sedikit sekali tulisan jurnalistik yang saya postingkan (baca: simpan) ke blog ini.

"Saya tahu betul perjalanan Senarai Cinta sampai akhirnya terjun ke dunia jurnalistik," kelakar Bang Halim, seorang teman yang tanpa sengaja bertemu di L-300 dalam perjalanan ke Banda Aceh beberapa hari lalu.

Kami sudah bertahun-tahun tidak bertemu. Mungkin lebih dari lima tahun. Bang Halim ini jago IT, dulu saya sering berdiskusi tentang blog dengannya. Dia pernah mengantarkan sendiri honor saya untuk opini yang dimuat di media milik sebuah NGO tempat ia bekerja dulu. Jadi, wajar kalau ia cukup tahu bagaimana proses saya bertransformasi.

Secara spesifik, ada seseorang yang bisa saya sebut sebagai guru blog saya. Namanya Bang Mamad, saya sudah lupa nama lengkapnya siapa. Dia ini dulu bekerja di Yayasan Air Putih, sebuah yayasan yang kalau tidak salah ingat memang fokusnya pada bidang IT. Dialah yang pertama kali mengenalkan saya pada blog. Selanjutnya saya learning by doing. Entah di mana dia sekarang, semoga ilmu yang sudah ia berikan pada saya menjadi amal jariyah baginya.

Dan, one more. Blog ini adalah peti untuk menyimpan puluhan surat cinta saya untuk Z. Seseorang yang sampai sekarang tidak saya ketahui di mana istimewanya. Tetapi dialah pijar matahari dalam hidup saya. Dia dengan segala kelebihan dan kekurangannya seolah mengajarkan saya bahwa menulis adalah merekam jejak cinta kami.[]

Komentar

  1. Happy 10th anniversary, Senarai Cinta. Semoga semakin banyak manfaat dan inspirasi yang mengudara dan terserap oleh sesama bersamamu, ya! Sukses selalu, Ihan!

    BalasHapus

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

Postingan populer dari blog ini

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

I Need You, Not Google

Di era kecanggihan teknologi seperti sekarang, mudah sekali sebenarnya mencari informasi. Kita tinggal buka mesin pencari, memasukkan kata kunci, lalu bisa berselancar sepuasnya.
Saking mudahnya, kadang-kadang kalau kita bertanya pada seseorang dengan topik tertentu tak jarang dijawab: coba cari di Google. Jawaban ini menurut hemat saya ada dua kemungkinan, pertama yang ditanya benar-benar nggak tahu jawabannya. Kedua, dia malas menjawab. Syukur dia nggak berpikir 'ya ampun, gitu aja pake nanya' atau 'ni orang pasti malas googling deh'. 
Kadang kita kerap lupa bahwa kita adalah manusia yang selalu berharap ada umpan balik dari setiap interaksi. Ciri makhluk sosial. Seintrovert dan seindividualis apapun orang tersebut, dia tetap membutuhkan manusia lain.
Selengkap dan sebanyak apapun 'jawaban' yang bisa diberikan oleh teknologi, tetap saja dia tidak bisa merespons, misalnya dengan mengucapkan kalimat 'gimana, jawabannya memuaskan, nggak?' atau saat dia me…