Langsung ke konten utama

Menciptakan Kenangan Masa Kecil

INI adalah foto yang kujepret saat keponakanku Ulis -memakai singlet-, asyik bermain hujan bersama teman-temannya pada Minggu, 17 Januari 2016 lalu.

Biar kuurutkan siapa saja dari mereka. Yang paling pojok kiri itu adalah Nadir. Dia sepupuku dan pamannya Ulis. Berikutnya adalah keponakanku Ulis dengan posisi berjongkok. Yang duduk berselonjor kaki itu adalah Mirza, temannya Nadir. Sedangkan yang bugil menggemaskan itu adalah Kevin, anak tetangga kami.

Mereka terlihat sangat asyik menikmati genangan air di halaman rumah nenekku di Gampong Teupien Raya, Kecamatan Geulumpang Minyeuk, Pidie. Di bawah guyuran hujan, bocah-bocah itu mengabaikan rasa dingin demi mendapatkan kesenangan masa kecil.

Sejak pertengahan November lalu, seminggu sekali aku rutin pulang ke tempat nenek untuk menjenguk ibu. Setelah keluar dari rumah sakit pada awal November lalu, dan sempat beberapa waktu di Banda Aceh, kami memutuskan membawa ibu pulang ke rumah orang tuanya untuk proses pemulihan. Kami memang tidak membawanya pulang ke rumah di Idi Rayek, Aceh Timur karena terlalu jauh kalau aku harus pulang seminggu sekali.

Setelah ibu di Teupien Raya, Rizal adikku turut membawa istri dan anaknya ke tempat nenek. Rumah nenek yang tadinya sepi kini jadi ramai. Apalagi ada Ulis yang selalu riuh dengan berbagai tingkahnya yang menggemaskan. Ulis cepat beradaptasi. Ia punya banyak teman. Dan acara mandi hujan bersama sore itu adalah 'buah' dari proses adaptasinya dalam berteman.


Walaupun beberapa daerah di Aceh dilanda kemarau, Teupien Raya menurutku salah satu pengecualian. Hampir tiap pekan saat aku di sana selalu turun hujan. Kesempatan itu dimanfaatkan keponakanku dengan baik. Siang itu misalnya, begitu ada tanda-tanda langit akan turun hujan dia langsung bersiap-siap. Dia hanya meminta izin pada ibu dan aku yang sedang duduk di beranda.

Tanpa meminta izin pada Ummi-nya, keponakanku langsung meluncur menerabas hujan. Dia hanya memakai singlet dan celana dalam. Tanpa mau melepas salah satunya. Malu. Itulah alasannya. Ibu tidak menyuruh atau melarangnya. Kuperhatikan ibu sangat senang, bahkan sesekali tertawa saat melihat cucunya bermain air di halaman. Mereka bermain lumpur, persis seperti kerbau yang mengaso di kubangan. Sampai-sampai celana yang dipakai Ulis jadi tak kelihatan warna aslinya.

"Nanti sampai dia besar akan terus mengingatnya," kata Ibu.




Anak-anak itu terlihat sangat bahagia. Mereka saling bercanda, saling menyiram air, saling melempar lumpur. Bahkan berguling-guling di genangan air di halaman yang dipenuhi batu. Kevin bahkan tak peduli ketika neneknya mengejar-ngejar dan meminta dia berhenti bermain hujan. Mirza dan Nadir apa lagi, mereka yang sudah besar pun tak mau kalah.

Melihat keponakanku bermain hujan dan lumpur, aku teringat pada kenangan masa kecilku yang menyenangkan. Aku seperti melihat kembali potret diriku bersama teman-teman di masa lalu. Ya, dulu hujan adalah hal yang paling aku nanti-nantikan. Hujan selalu mendatangkan kebahagiaan berlebih untuk dinikmati. Rasanya sia-sia untuk melewatkan setiap butirannya yang jatuh dari langit.

Fragmen masa kecilku terlalu indah untuk dilupakan begitu saja. Aku dan ibu sering menceritakannya kembali. Ibu sering bilang walaupun kehidupan kami saat itu serba kekurangan secara materi, tapi kami tak pernah kekurangan kebahagiaan. Kami tumbuh dalam kehangatan dan keceriaan.



Aku senang melihat keponakanku berbasah-basah ria dan kotor tanpa perlu menerima omelan dari Ummi-nya. Aku senang melihat raut wajahnya yang bahagia tanpa perlu menerima pelototan dari orang-orang dewasa. Keponakanku sedang menciptakan kenangan masa kecilnya yang indah.[]

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.