Langsung ke konten utama

Memetik Bayang Wajahmu














APA lagi yang bisa kukatakan selain terimakasih karena sudah mencintaiku. Kau yang menyayangiku tanpa pernah berubah. Kau dengan caramu mencintai yang tak biasa itu selalu membuatku bahagia. Berhasil membuatku tersenyum setelah siksa panjang yang kau bilang sebagai kenikmatan.

Hatiku berdetak setiap kali kau mengatakan rindu. Dan entah sudah berapa puluh ribu kali aku mengatakan bahwa cinta dan rindu ini hanya milikmu. Kau yang dikirimkan waktu untukku.

Bahagia itu sungguh sangat sukar untuk diterjemahkan. Aku bahkan bingung harus menuliskannya seperti apa. Bahagia itu hanya untuk dirasakan oleh seluruh panca indera. Dan hati yang selalu mengembang seperti kuntum bunga yang mekar di pagi hari.

Aku selalu tersiksa oleh rindu. Tapi kau bilang itu bagian dari proses cinta. Takdir menuliskan kisah kita berbeda dan kita harus menerima setiap bait yang harus dilalui. Tanpa perlu mempertanyakan kepada sang pemilik takdir. Kita juga tak perlu menggugat kan, Sayang?

Aku tidur dengan menggenggam kata-katamu sebagai bekal bunga tidur. Dan bangun dengan memetik bayang wajahmu sebagai sumber semangat dan inspirasiku.

Aku bertanya apakah kau pernah tersiksa oleh rindu? Kau bilang selalu, dan badai rindu sering kali datang hingga membuatmu kepayahan. Badai itu menghantam lebih dahsyat dibandingkan badai pasir yang datang di gurun sana.

Saat berbicara tentang perasaan kita selalu terseret pada arus yang sangat sentimentil. Bahkan untukmu yang sangat logical.

Tak ada lagi yang bisa kukatakan, selain terimakasih sudah mencintaimu.[]

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.