Langsung ke konten utama

Selamat Pagi, Cinta


Selamat pagi, Cinta.
Pagi juga buat mu, Cinta.
Adakah alasan untuk tidak menyapamu pagi ini? Aku ingin selalu menjadi burung yang pertama kali berkicau untukmu di pagi hari, meski aku selalu kalah cepat dengan mentari yang terbit di kedua matamu.
Aku tahu kamu paling pandai merayu, kamu tidak akan pernah kalah, walaupun kamu secara cepat, aku akan tetap memenangkan kamu dari pada mentari.
Aku ingin selalu memberimu ucapan selamat pagi dengan selembar surat cinta sebelum kau beranjak pergi. Aku ingin kau turut merasakan uap gebu di dalam ruang jiwaku yang berkatup-katup. Setiap katupnya, sudah penuh dengan cerita tentang aku dan kamu; kita.
Aku juga merasakan, kadang uap kamu berlebihan sehingga menjadi embun dan membuat hujan yang terasa panas
Bagaimana suasana hatimu pagi ini, lebih bahagiakah? Ataukah lebih hangat dari hari-hari sebelumnya? Atau, mungkin saja tetes embun terakhir di pagi ini telah hinggap di hatimu?
Aku sangat bahagia atas suratmu yang sangat romantis
Bisakah kau ceritakan, apakah seseorang pagi ini menghidangkanmu secangkir kopi atau teh? Jika iya, pastinya itu menjadi bekal semangat yang menyenangkan untuk sepanjang hari bukan? Aku terjaga hingga lewat tengah malam demi memikirkan itu. Ada seliris cemburu mengiris hatiku. Membuat hatiku sedikit pedih, dan mataku sedikit perih.
Aku sudah biasa membuat kopi sendiri, apa lagi sudah dua hari tidurku sangat minim, terima kasih untuk semuanya dan selalu mencintaiku
Apa kau ingin tahu seperti apa suasana hatiku pagi ini? Aku bahkan tidak bisa melukiskan seperti apa perasaanku sendirii. Mungkin kau lebih tahu, melebihi banyak hal yang kuketahui tentang diriku sendiri. Tapi kau tidak perlu cemas, aku tahu bagaimana menghibur diriku sendiri. Cinta dan rindu-rinduku yang abstrak adalah racun, sekaligus penawar atas luka bertahun-tahun.
Aku tahu kamu, sepertinya aku lebih tahu kamu dari pada engkau mengetahui dirimu sendiri, aku selalu tahu apa yang kamu pikirkan, terima kasih atas penantianmu dan mencintai aku, jangan pernah berputus asa, karena Dia yang di atas sana selalu memberikan kita yang terbaik, kadang kita merasa lelah, dan di situ letak kekuatan kita akan bertambah, terima kasih atas penantianmu, cinta yang banyak dariku, peluk cium untukmu.
Maaf atas segala hal yang tidak menyenang kan kamu.
Let's take coffee first and relax
27 Februari 2018

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.