(Don't Say Good) Bye



Ada satu kata yang paling tidak ingin kudengar, yaitu bye. Dalam bahasa Inggris kosakata ini artinya selamat tinggal. Ketika seseorang mengucapkan bye padamu, kau tahu itu artinya apa? Secara harfiah dia tentu akan meninggalkanmu. Meninggalkanmu di suatu tempat yang jauh, atau meninggalkanmu dari kehidupannya.

Kau lebih suka yang mana? Kalau aku tak inginkan kedua-duanya, walaupun itu mustahil. Antara meninggalkan dan ditinggalkan tak bisa dihindari, tak bisa hanya memilih salah satunya, sama seperti datang dan pergi yang menjadi sunnatullah. Tetapi ditinggalkan dengan penegasan kata 'selamat tinggal' sungguhlah tidak mengenakkan. Itu artinya ada pintu yang tertutup, mungkin juga akan tergembok rapat. Tipis harapan untuk berharap bisa bertemu kembali.

Dalam satu fragmen hidupku, aku pernah merasakan keduanya sekaligus. Pada saat yang bersamaan aku harus meninggalkan dan juga merasakan nyerinya ditinggal. Itu terjadi ketika usiaku masih belasan tahun. Saat aku belum begitu mengenal siapa diriku sendiri. Saat aku belum bisa memaknai bahwa keduanya sangat tidak menyenangkan.

Itulah saat aku harus meninggalkan kampung halaman karena direnggut konflik. Dan saat aku ditinggalkan oleh kerabat, oleh teman-teman sepermainan. Mereka pergi ke tempat-tempat yang jauh, dan sampai sekarang tak pernah bertemu lagi. Yang tinggal cuma kenangan, ya, cuma kenangan.

Kalau saja saat itu kami sempat saling mengucapkan selamat tinggal, mungkin emosiku takkan begitu teraduk-aduk. Karena tak perlu lagi berharap untuk bertemu, cukup dengan saling berkirim doa saja. Berharap kehidupan kami bisa lebih baik setelah ditinggalkan dan meninggalkan. Selalu ada kehidupan baru yang menanti bukan?

Tapi lagi-lagi itu soal takdir, siapa yang bisa menghalau kehendak Yang Kuasa? Siapa yang bisa memprediksi kejadian besok? Ahli nujum pun tidak bisa...[]


Komentar